20.9.09

Soe Hok Gie Gaya Baru dan Budiman (Bukan) Arif Bertanya

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Soe Hok Gie Gaya Baru (via message FB):

Saya adalah Soe Hok Gie Gaya Baru yang memilih untuk diasingkan daripada dilokalkan. Berikut adalah pertanyaan saya yang muncul selama saya membaca Catatan Seorang Demonstran :
1. Mengapa pada tahun ini anda tidak melakukan proses mudik pada musim Lebaran? apakah anda ingin menghindari label “konsumtif” yang selalu dilekatkan pada kalangan kelas menengah di Indonesia yang menjalankan proses mudik?

2. Apakah anda mengetahui sejarah etimologis munculnya frase “mudik” dalam kosakata Bahasa Indonesia? Mungkinkah frase tersebut memiliki hubungan persaudaraan dengan Sputnik?

3. Mengapa antonim dari “arus mudik” adalah “arus balik” ? bukannya “mudik” itu sendiri memiliki pemaknaan “balik” ke kampung halaman? Kalau begitu tidak ada perbedaannya donk.

4. Seminggu kedepan akan ada libur panjang bagi kita semua. Menurut anda, bisnis apakah yang akan mendatangkan banyak keuntungan jika dilakukan dalam periode libur selama seminggu ini? Jaga rumah orang? Layanan cuci mobil? Atau pijat plus-plus?

"...tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran."
(Kutipan ini memang tidak nyambung dengan pertanyaan saya, tetapi harus diakui, ucapan tersebut keren dan berpotensi membuat wanita bertekuk lutut. Maka dari itu saya mencoba peruntungan saya di off-clinic untuk mencari jodoh)

Jawaban dari Kak Syaraf:

Bagaimana kau bisa mencari jodoh, kalau kau menyamarkan namamu, Bung? Atau bagaimana kami bisa tahu, bahwa kau bukan antek-antek dari Soe Har To Orde Baru?

  1. Tidak, karena mudik itu biasanya melalui jalur yang panjang, bukan lebar. Jadi mestinya mudik itu dilakukan saat panjangan, bukan lebaran. Tentu saja saya tidak menghindari label “konsumtif”, karena apalah manusia, selain identik dengan konsumtif sebagai kata kerjanya? Kalau label saya ”konsumsi”, baru saya takut. Apalagi ”konsumsi gratis”.
  2. Mudik itu punya sejarah etimologi yang panjang. Ia berasal dari kata ”adik”. ”A” berarti tidak, ”dik” itu panggilan bagi seseorang yang biasanya lebih muda. Jadi kalau kau mudik, kau akan bertemu banyak pedagang atau orang yang menawari ini itu. Nah, kau mesti sering bilang-bilang, ”Tidak, Dik, tidak, tidak.”
  3. Tidak, tidak. “Mudik” itu identik dengan pulang ke tempat dimana kau dilahirkan, dibesarkan, dan buang air pertamamu. Kalo “balik”, identik dengan pulang ke tempat kau buang air ke entah berapa juta. Coba perhatikan.
  4. Saya mengusulkan bisnis “calo silaturahmi”. Jadi jika ada orang yang merasa capek menyambangi satu-satu saudaranya, kau bisa menawarkan diri agar dibayar untuk bersalaman, berciuman, dan bertangis-tangisan dengan sanak saudara si konsumen. Insya Allah menguntungkan.

“… tetapi apa yang lebih puitis selain puisi yang puitis.”


Pertanyaan dari Andika Budiman (via message FB):

Kak Syaraf, saya ada sedikit THR*, nih:

  1. Ketika berkunjung ke rumah keluarga besar di hari lebaran, kita bertemu dengan banyak sanak saudara yang mengenal kita, tapi tidak kita kenal, tapi berharap kita mengenali mereka. Bagaimana supaya kita tidak memupuskan harapan sanak-sanak yang jarang kita temui itu?
  2. Pertanyaan-pertanyaan keluarga besar bersifat ice-breaking tentang kuliah, kerja, perkawinan, dan anak justru seringnya malah jadi ice-making. Memang bisa ya memecahkan es dengan pertanyaan?
  3. Sebagai laki-laki, kakak lebih suka ketupat atau lontong?

*THR=Tanya-tanya tentang Hari Raya

Jawaban dari Kak Syaraf:

Oke, Andika, saya juga ada THR nih, yakni Tunjangan Hari Raya, tapi itu buat adik-adik saya. Tentu kamu tidak saya kasih, karena kamu laki-laki.

  1. Ah, ini sama saja dengan analogi begini: kau reuni dengan teman-teman TK-mu atau SD-mu. Itu betul-betul reuni yang janggal bukan? Kau bertemu dengan orang-orang yang ”pernah” dekat, tapi sudah lama sekali sehingga kedekatan itu renggang juga, dan sekarang mesti berkenalan ulang. Betul kan? Jadi yang mempersatukanmu tak lebih dari lembaga SD-mu itu, sisanya kerancuan belaka. Nah, itu sama saja dengan kau bertemu saudara-saudaramu, padahal kau tak kenal ia. Dan apalah yang mempersatukanmu, selain kalian sesama keturunan Adam? Jadi, sapaan pertama yang sopan dan baik adalah, ”Hai, saudaraku, kenapa Adam memakan buah khuldi, sehingga mempertemukan kita ini?”
  2. Bisa dong, yang begitu saja kau tak tahu. Tinggal tanya saja, ”wahai saudara-saudaraku, bolehkah kupecahkan es ini?” Betul kan? Memecahkan es dengan pertanyaan.
  3. Sebagai laki-laki yang sedang lapar, saya akan suka keduanya.

Terima kasih, semoga hari rayamu tak cuma sekedar berbagi pecahan es.


kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaaa ... saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin