Showing posts with label Rak Tobucil. Show all posts
Showing posts with label Rak Tobucil. Show all posts

26.11.12

Pertempuran Surabaya: Membaca Sejarah yang Minim Distorsi

Judul : Pertempuran Surabaya
Penulis: Hario Kecik
Penerbit : Abhiseka Dipantara
Tahun : 2012
Jumlah halaman : 269
Harga normal : Rp. 45.000
Harga diskon : Rp. 36.000

Penting sekali untuk mengenal sosok seorang Soehario K. Padmodiwirjo alias Hario Kecik sebelum kita masuk ke tulisan-tulisannya. Ia adalah legenda hidup bagi sejarah jatuh bangunnya republik ini. Kelahiran 19 Mei 1921, Hario Kecik sekarang berusia 90 tahun dan menjadi saksi hidup bagaimana Indonesia merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Di usia lanjut, ia aktif menulis. Salah satu bukunya yang cukup populer adalah Memoar Hario Kecik: Otobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit yang diterbitkan tahun 1995.

Buku Pertempuran Surabaya, sebagaimana judulnya, dapat ditebak, merupakan pengalaman seorang Hario Kecik bertempur di Surabaya pada peristiwa heroik antara bulan Oktober hingga November tahun 1945. Hario Kecik bercerita secara detail mulai dari situasi di Jakarta pasca kemerdekaan, insiden bendera di Tunjungan, terbentuknya Polisi Tentara Keamanan Rakyat, pertempuran melawan Inggris, hingga renungan Surabaya masa sekarang setelah Hario Kecik terlibat dalam satu perang terbesar yang pernah dilakukan oleh rakyat Indonesia. 

Buku ini tentu saja kalah tebal dengan Memoar Hario Kecik. Plus sebagian dari bab Pertempuran Surabaya dikutip dari Memoar Hario Kecik. Namun penting sekali untuk membaca bagaimana sejarah dituliskan oleh pelakunya. Bagaimanapun, sejarah tidak bisa tidak, selalu mengandung unsur interpretasi di dalamnya. Ketika ada seseorang yang menuliskan dengan distorsi yang paling minimum karena ia sendiri berada dalam kejadiannya, maka layak sekali untuk diapresiasi. Terlebih jika sejarah itu adalah bagian penting dalam perjalanan republik ini.

Google Twitter FaceBook

9.10.12

The Mogus Colony: "They Live in Another World, but Not Far From Your World.."


Judul : The Mogus Colony
Seniman : Mulyana
Kuratorial : Fery Oktanio
Penerbit : Dinamika Komunika
Tahun : 2011
Jumlah halaman : 120
Harga : Rp. 60.000

The Mogus Colony bukanlah buku yang berisi cerita. Jikapun ada tulisan, ia hanya di depan sebagai pengantar dan kuratorial. Sisanya, nyaris seratus halaman kebelakang, adalah kumpulan gambar monster gurita. Hal tersebut memang sudah menjadi semacam obsesi Mulyana, sang seniman, sejak lama. 

Monster gurita, atau Mulyana menyebutnya mogu, adalah semacam visualisasi bawah sadarnya. Sebelum membukukan gambar-gambarnya, sudah lebih dulu Mulyana mengeksternalisasikan imajinasinya via ketrampilan merajut. Seperti yang diungkap di tulisan kuratorial oleh Fery Oktanio, ia melihat Mulyana pertama kali pada tahun 2008 di acara Crafty Days #2 yang diselenggarakan oleh Tobucil. Mulyana kala itu memanfaatkan bahan yang ada dan hampir tidak terpakai untuk menciptakan mogu yang "hidup" dan tiga dimensi.

Namun nampaknya Mulyana merasa gelisah jika alam bawah sadarnya tentang Mogu tidak tereksternalisasikan dalam format dua dimensi, yang sekaligus memfasilitasi kemampuan menggambarnya yang tak kalah mumpuni. Dalam buku ini, ia juga mengajak banyak seniman lainnya untuk berpartisipasi dan menggambarkan mogu versinya masing-masing. Seniman lain ini diantaranya R.E. Hartanto, Erri Nugraha, Muhammad Zico dan Muhammad Akbar. 

Buku ini memang unik karena isinya dipenuhi gambar monster gurita. Namun sesuai motonya, "They live in another world, but not far from your world.," rasanya buku ini agak punya fungsi mengingatkan. Mengingatkan bahwa imajinasi semacam ini, yang "normalnya" dipunyai oleh anak-anak, seringkali lenyap tergerus pengindraan khas orang dewasa yang seolah menihilkan segala yang sureal. Kenyataan bahwa ada kegelian, kengerian, maupun ketertarikan tersendiri ketika melihat gambar-gambar mogu tersebut menenjukkan bahwa sebenarnya imaji-imaji seperti ini tidak sepenuhnya hilang dari bawah sadar kita. Ia ada, dekat, dan hanya butuh panggilan sayang untuk menghadirkannya.


 
Google Twitter FaceBook

17.9.12

Bredel 1994: Bersatu Mengingat Represi



Judul : Bredel 1994
Editor : Ayu Utami
Penulis : Ayu Utami, Stanley, Arief Budiman, Goenawan Muhamad, Julia I. Suryakusuma, Onghokham, Daniel Dhakidae, Rizal Ramli, Ulil Abshar-Abdalla, Mochtar Pabottingi, Rachlan Nhashidik
Penerbit : Aliansi Jurnalis Independen
Tahun : 2012
Jumlah halaman : 105
Harga : Rp. 50.000

"Orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, nampaknya, tetap ingin berkuasa dengan ketakutan kepada kebenaran." -Goenawan Mohamad

Cukilan kalimat dari Goenawan Mohamad itu adalah salah satu dari banyak tulisan yang mengisi buku Bredel 1994. Para penulis yang beragam latar belakangnya -ada jurnalis, sejarawan, akademisi, pengamat ekonomi, mantan aktivis, hingga alumni pesantren- bersama-sama menyuguhkan perspektifnya terhadap peristiwa dramatis di tahun 1994 ketika tiga media massa nasional yakni Tempo, Detik, dan Editor dibredel oleh pemerintah Orde Baru.

Ayu Utami, misalnya, ia menceritakan bagaimana para wartawan merespon pembredelan tersebut. Wartawan yang turun ke jalan untuk berdemonstrasi, disambut oleh pasukan berbaju "Operasi Bersih". Mereka menggunakan helm, tameng, dan cambuk rotan untuk kemudian memukuli para demonstran yang tidak bersenjata. Demonstran yang bagi penulis, dimasukkan ke dalam golongan "orang-orang yang tidak paham" karena pemerintah dengan sangat cerdik membungkus pembredelan tersebut dengan argumen-argumen yang canggih -sehingga para pelaku media menjadi tak terlalu yakin "dosa" apa yang sudah diperbuatnya-.

Arief Budiman dengan tajam menujukan kritiknya terhadap PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) yang pada masa orde baru, menjadi organisasi yang jauh dari membela kepentingan pers. PWI terbukti menjadi organisasi perpanjangan tangan pemerintah dilihat dari bagaimana mereka "mendukung" pembredelan dengan hanya mempersoalkan nasib para karyawan pers ketimbang masalah kebebasan pers. Ulil Abshar Abdalla sebagai alumni pesantren mempersamakan pemerintahan Soeharto dengan Fir'aun dalam sebutan Yudzabbihuna Abna'akum (Mereka membunuhi anak-anak kalian). Apa artinya, ada paranoia tak perlu dalam diri Fir'aun ketika satu per satu bayi lelaki yang lahir di negeri itu dibunuh agar kelak tak menggulingkannya ketika mereka dewasa. Satu bayi lelaki berhasil dikaburkan, yaitu Musa. Persamaan Soeharto dan Fir'aun menurut Ulil: Seorang penguasa, biasanya mudah sekali curiga terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat meruntuhkan kekuasaannya, bahkan terhadap hal-hal yang remeh sekalipun. 

Buku yang relatif tipis ini merepresentasikan horor orde baru bukan semata-mata dari bobot tulisannya yang kritis dan tajam, melainkan juga bagaimana surat pembredelan yang datang dari pemerintah diwakili oleh Drs. Subrata, ikut dilampirkan untuk menunjukkan legitimasi kekuasaan yang represif tersebut. Buku ini, sekali lagi, meski tipis, punya kekuatan untuk mengingatkan kita akan sejarah kelam dalam republik: Ketika kebenaran ada dalam rangka menyokong penguasa yang lalim.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

21.6.10

DVD: I'm Not There

Harga: Rp 59.000
Penerbit: Jive Collection

Sebuah film tentang kehidupan legenda musik Bob Dylan yang diceritakan dengan cara yang tidak biasa, seperti halnya karakter Dylan sendiri yang selalu berubah, kacau dan ambigu. Tokoh Dylan ditampilkan melalui 6 pemeran yang berbeda yaitu dalam peran tokoh-tokoh imajiner Woody Gaffer (Marcus Carl Franklyn), Arthur Rimbaud (Ben Whishaw), Jack Rollins (Christian Bale), Robbie Clark (Heath Ledger), Jude Quinn (Cate Blanchett) dan Billy (Richard Gere) dalam berbagai tahap kehidupan Dylan. Film ini juga diselingi dengan beberapa lagu Dylan.
Google Twitter FaceBook

13.6.10

DVD: Cinta Setaman

Harga: Rp 59.000
Penerbit: Jive Collection

Di sebuah kota yang semrawut dengan situasi yang tidak kondusif, delapan sosok manusia yang berhati baik tiba-tiba mengalami sebuah peristiwa kehidupan yang luar biasa. Sebuah peristiwa yang men'jungkirbalikkan' mereka membuat mereka harus berusaha sekuat tenaga dan sekuat hati, agar bisa survive. Sebuah peristiwa yang sebenarnya pula Maha 'dalam', maha dahsyat dan maha indah itu, akhirnya justru malah membuat kota tersebut seperti dinaungi pelangi yang memberikan keteduhan, cinta, keindahan, dan pencerahan yang menyejukan hati.
Google Twitter FaceBook

24.5.10

Buku: Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1970

Harga penerbit: Rp 42000
Harga Tobucil: Rp 29500

Penerbit: Komunitas Bambu

Salahsatu karya klasik tentang Batavia, khususnya mengenai peristiwa pembunuhan besar-besaran orang Tionghoa pada 1740. Diangkat dari disertasi Johannes Theodorus Vermeulen, seorang landsarchivaris atau arsiparis di Arsip Negara Batavia. Karyanya menjadi rujukan utama setiap orang yang ingin mendapatkan kajian akademis terlengkap dan panjang lebar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai tragedi warga Tionghoa itu. Vermeulen dianggap berhasil menggambarkan tragedi itu bukan sekadar peristiwanya, tetapi juga penyebab, jalan peristiwa, orang-orang dan lembaga-lembaga yang terlibat, kondisi psikologis zaman, dampak dan lain sebagainya. Deskripsinya menunjukkan bahwa peristiwa itu memang layak tercatat sebagai lembaran hitam dalam sejarah orang Tionghoa di Indonesia.
Google Twitter FaceBook

17.5.10

Buku: Napoleon dan Strategi Perang Modern

Harga penerbit: Rp 45000
Harga Tobucil: Rp 31500

Penerbit: Komunitas Bambu

Buku ini menyuguhkan kejeniusan taktik militer Napoleon. Taktik militer Napoleon yang sering disebut sebagai salahsatu jenderal terbesar sepanjang zaman itu diperinci dan dijelaskan secara lebih teknis. Dalam buku ini dipaparkan ihwal waktu yang tepat untuk menyerang dan bertahan atau mundur, melatih dan mengorganisasi pasukan, mengelabui, memata-matai serta cara-cara menghambat musuh. Lebih jauh buku ini dapat memperlihatkan bahwa akar sesungguhnya kemahsyuran dan besarnya pengaruh Napoleon karena ia percaya perang bukan sekedar soal kekuatan teknologi dan ketentaraan, melainkan perasaan, firasat dan kecerdasan membaca jiwa zaman. Sebab itu jangan kaget kalau dalam sejarah perang Napoleon berakibat munculnya berbagai pengaruh revolusi masif yang memberikan situasi kondusif bagi pembaruan di berbagai wilayah, terutama di Amerika, Eropa, Afrika, Amerika Latin dan termasuk Indonesia.
Google Twitter FaceBook

12.5.10

Buku: Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia

Harga penerbit: Rp 50.000
Harga Tobucil: Rp 35.000

Penerbit: Komunitas Bambu

Buku karya Mona Lohanda ini memberikan gambaran sejarah politik, khususnya sejarah pembesar atau yang di Jakarta tempo doeloe masyur disebut sebagai "orang pangkat-pangkat". Tetapi yang menarik adalah ia juga telah menyodorkan sejumlah data ihwal kehidupan sosial-budaya "orang pangkat-pangkat" itu. Bahkan juga masyarakat semasa. Jadilah sebuah karya yang merupakan untaian sejarah sosial yang sangat menarik. Bukan saja ada cerita ihwal kehidupan politik dan intrik para Gubernur Jenderal, Kapitan Cina, Kapitan Arab, Komandan Pribumi beserta aparatusnya, tetapi juga kehidupan sehari-hari orang "pangkat-pangkat" dengan istri serta nyai-nyainya, termasuk juga macam-macam kebijakan dan peraturan dari yang baik sampai yang aneh, sehingga bikin penduduk stres.

Menarik bahwa buku ini bukan saja menghidangkan sejumlah data-data unik selama kurang lebih empat abad Jakarta (sejak kedatangan Belanda sampai Jepang tiba), tetapi juga ditulis dengan gaya populer. Membacanya seperti mengikuti Mona Lohanda yang adalah seorang sejarawan sekaligus arsiparis terkemuka bertindak sebang "tukang cerita" yang memiliki bentuk dan kekuatan khas untuk menyajikan setiap pendengarnya masa lalu dengan kekayaan nuansa.
Google Twitter FaceBook

2.5.10

CD: Hollywood Nobody - Everything Happens For A Reason


Band: Hollywood Nobody
Judul album:  Everything Happens For A Reason
Label: Fast Forward
Harga: Rp 50.000

Track list:
Harmony in D minor
Ballad of a Hero
Secret Nobody Knows
Into Hate
Love Me
I'll Still Leave
Telescope
Theories
Love Song
The Boy and A Guitar
Woe To You, Lover
I Write This Song For You
No Existence Could Be Harder

http://www.facebook.com/hollywoodnobody
http://www.myspace.com/hollywoodnobody
Google Twitter FaceBook

19.4.10

VCD: Tales From Earthsea

Harga: Rp 49000

Penerbit: Jive Collection

Sebuah produksi dari Ghibli Studio yang menghasilkan banyak film animasi bermutu tinggi. Diangkat dari novel karya Ursula K Le Guin.

Keseimbangan alam terganggu. Kerajaan Enlad sedang dilanda musibah. Panen gagal dan banyak ternak mati tiba-tiba. Pangeran Arren terpaksa melakukan pengembaraan. Dengan ditemani oleh seorang penyihir sakti, mereka harus menghadapi Lord Cob yang berhasil menciptakan mantra yang akan membuka batas kehidupan dan kematian. Jika berhasil, maka Lord Cob akan hidup abadi dan dunia akan mengalami malapetaka besar.
Google Twitter FaceBook

12.4.10

Buku: Filsafat Kebudayaan

Harga: Rp 40500

Penerbit: Jalasutra

Paradoks 'kebudayaan' adalah kebudayaan yang merupakan sesuatu yang teramat konkrit sekaligus demikian abstrak. Konkrit karena sesungguhnya menyangkut apa pun yang nyaris ada dalam dunia-manusia. Demikian abstrak karena segala bentuk pewacanaan tentangnya telah berkembang menjadi begitu rumit, skeptis dan penuh kontroversi. Siapa pun yang mengikuti perkembangan wacana ihwal kebudayaan akan melihat kesenjangan yang makin besar antara realitas budaya yang konkrit tersebut dengan kekisruhan di wilayah pewacanaannya sedimikian rupa sehingga berbagai pendakuan (claim) tentang kebudayaan yang berpretensi substantif-objektif atau bersifat empiris-positivistik (biologi, sosiolodi, antropologi, dan sebagainya) kini terasa sebagai semacam 'realisme-naif'.
Google Twitter FaceBook

5.4.10

Buku: Tricky Tricks

Harga: Rp 40000

Penerbit: PT Concept Media

Buku Tricky Tricks ini lahir bukan dari semangat untuk menggurui, melainkan dorongan untuk berbagi ilmu dan kesadaran akan batas yang meringkus setiap pencipta teknik panduan - yang paling ahli sekalipun. Sekaligus, buku ini juga hadir untuk memenuhi permintaan pembaca setia Majalah Desain Grafis Concept, baik melalui surat elektronik maupun di forum-forum, akan suatu buku yang khusus membahas trik-trik desain grafis.
Google Twitter FaceBook

29.3.10

Buku: Jurnal Perempuan 65: Mencari Ruang Unuk Difabel

Harga: Rp 20000
Penerbit: Yayasan Jurnal Perempuan

Prinsip demokrasi dan kesetaraan diuji bukan melalui siapa yang memenangkan suara terbanyak. Ia diuji justru dengan melihat keberpihakannya pada kelompok-kelompok minoritas dan tertinggal. Demokrasi telah ditantang untuk memberi ruang bagi kesetaraan perempuan. Ia telah digugat oleh kelompok non-heteroseksual dan ia telah diingatkan untuk berpihak pada kaum minoritas etnis, agama dan budaya. Pertanyaan berikutnya apakah demokrasi mampu memberikan ruang pula pada para difabel? Melalui jurnal edisi ini kami ingin memberikan ruang bagi difabel untuk bercakap-cakap dengan demokrasi.

Google Twitter FaceBook

16.3.10

CD: Yes, I Listen To DJava String Quartet

 
Rp. 20.000 (bonus pin)

CD  pertama dari DJava String Quartet yang memainkan tiga komposisi Haydn D Minor Op. 76 No. 2, Miniature For String Sulkhan Tsintsatze dan Cublak-Cublak Suweng Tema Variasi Arr. Budhi Ngurah. CD ini merupakan CD audio yang diproduksi secara independen oleh DJava String Quartet. 

DJava Sting Quartet merupakan kuartet gesek yang beranggotakan Danny Ceri (Violin), Ahmad Ramadhan (Violin), Dwi Ari Ramlan (Viola) dan Ade Sinata (Cello). Saat ini mereka masih menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia, Yogjakarta.CD ini di produksi untuk memperkenalkan kepiawaian mereka dalam bermain sekaligus persiapan mereka dalam DJava tour De Java tahun 2010 ini. 

Tentang DJava: www.djavastringquartet.blogspot.com

Google Twitter FaceBook

8.3.10

DVD/VCD: Pertaruhan

Harga DVD: Rp 59.000
Harga VCD: Rp 39.000

Pertaruhan adalah kumpulan dari 4 film dokumenter pendek dengan topik perempuan dan tubuhnya.

Mengusahakan Cinta - tentang Ruwati yang ragu memeriksakan rahimnya hanya karena khawatir calon suaminya nanti akan mempertanyakan keperawanannya. Juga tentang Riantini yang tidak bisa mengekspresikan orientasi seksualnya dengan bebas di kampung.

Untuk Apa? - tentang praktek dan alasan pelaksanaan sunat perempuan.

Nona Nyonya? - tentang perlakuan yang diterima perempuan lajang yang ingin melakukan pap smear - deteksi dini kanker mulut rahim dengan cara mengambil sample jaringan mulut rahim.

Ragat'e Anak - tentang kerasnya kehidupan Nur dan Mira, yang harus bekerja sebagai pemecah batu di siang hari dan menjajakan tubuhnya di malam hari guna menghidupi diti dan anak-anak mereka.
Google Twitter FaceBook

1.3.10

VCD: Generasi Biru

Harga VCD: Rp 19.000

Slank adalah sebuah kelompok musik yang layak disebut sebagai supergroup Indonesia. Penggemar mereka, yang disebut Slankers, tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari cuplikan dokumenter pertunjukan, komentar serta reaksi dari para Slankers dari Batam, Solo, Kupang bahkan Timor Timur.

Generasi Biru merupakan kolaborasi Slank dengan Garin Nugroho, seorang sutradara handal Indonesia, berupa presentasi musikal dokumenter, yang merupakan campuran antara klip dokumenter dan rekaman komposisi tari yang teatrikal. Lagu-lagu yang ditampilkan terangkum dalam album Generasi Biru, antara lain: Missing Person, Kupu Liarku, Cekal, Bendera Setengah Tiang, Lo Harus Grak, Generasi Biru, Slank Dance dan lain-lain.
Google Twitter FaceBook

22.2.10

Buku: Irama Visual

Harga: Rp 37800
Penerbit: Jalasutra

Seonggok gambar hanya bisa menarik perhatian, bila ia mampu memberikan dan melukiskan informasi; mengejutkan dan membangkitkan gairah; serta menukik kepada suatu hal. Ketertarikan ini pada level selanjutnya akan mengantarkan kita kepada pengalaman komunikatif, bahkan pengalaman konsumtif.

Oleh sebab itu, komunikasi visual senantiasa dituntun untuk menggunakan cara berkomunikasi yang "berseni". Apalagi, sesuatu yang estetis lebih mungkin dan nyaman untuk dikonsumsi. Hal ini menuntut para desainer untuk lebih mengembangkan nalar kreatif demi mencapai tanda-tanda komunikasi visual yang berkualitas. Karena ia berkewajiban mengomunikasikan diri dengan masyarakat yang kian berbudaya visual.
Google Twitter FaceBook

15.2.10

Buku: Semiotika Komunikasi Visual

Harga: Rp 27000
Penerbit: Jalasutra

Desain Komunikasi Visual merupakan sebuah ilmu yang saat ini sedang berkembang pesat, tapi belum banyak buku yang menganalisisnya dari sudut pandang semiotika. Buku Sumbo Tinarbuko ini menawarkan sebuah pisau bedah yang tajam untuk melihat iklan: iklan komersial atau iklan layanan masyarakat, bukan saja hanya dari elemen grafis (ilustrasi, komposisi, dan lay-out), warna, huruf, dan tipografi, tetapi juga pada tataran makna (denotatif dan konotatif) dan tanda (ikon, indeks, dan simbol).

Dengan contoh-contoh bentuk iklan layanan masyarakat di koran, produk kaos Dagadu, rambu-rambu lalu lintas, atau logo perusahaan yang biasa kita temui setiap hari, buku ini terasa aktual untuk membaca dan memaknai iklan yang ada di sekitar kita. Menariknya, buku ini juga dibumbui dengan humor khas dan plesetan unik.
Google Twitter FaceBook

8.2.10

Buku: Jurnal Perempuan 64: Saatnya Bicara Soal Laki-Laki

Harga: Rp 20000
Penerbit: Yayasan Jurnal Perempuan

Studi feminisme telah melangkah cukup jauh, pengamatan atas struktur patriarki telah menjadi embrio bagi men studies/studi tentang laki-laki. Berkat analisa feminis kini laki-laki juga memperoleh bekal untuk menganalisa persoalan-persoalan yang meliputi diri laki-laki. Di jurnal ini kami mencoba menyajikan sekelumit ide-ide tentang men studies tersebut. Di titik inilah laki-laki memiliki kepentingan terhadap feminisme sehingga diharapkan dapat dengan tulus berjuang berdampingan dengan perempuan.
Google Twitter FaceBook

1.2.10

Buku: Kazak dan Penyerbuan

Harga: Rp 45000
Penerbit: Jalasutra

Novel Kazak ini berkisah tentang Olenin, seorang bangsawan Rusia yang merasa sangat terhormat dapat bergabung dalam sebuah operasi militer di Kaukasus, wilayah abu-abu yang kerap menjadi latar geografi dan demografi prosa-prosa Tolstoy-sejarah mencatat,
pada 1851, Tolstoy pernah menjadi anggota resimen artileri di wilayah ini.

Sejawat sesama bangsawan menertawakan patriotisme konyol Olenin itu. Bagi mereka, golongan kelas atas seperti Olenin tak semestinya berbaur dengan orang-orang Kazak (paramiliter) yang kasar, bengis dan hanya mengandalkan otot. Tapi bagi Olenin, martabat bangsawan telah memantik keterpelantingan eksistensial, dan ia menjadi laki-laki yang tidak punya obsesi lantaran terbuai kemewahan.

Di Kazak, Olenin menemukan kembali gairah hidup. Ia bergaul dengan Eroshka, mantan tentara perbatasan yang di hari tuanya masih punya semangat hidup menyala. Begitu pula Lukasha, lelaki Kazak, penjaga perbatasan yang bersetia pada Rusia. Olenin lupa pada masa lalunya yang hingar-bingar sejak ia menemukan Maryanka, gadis Kazak, pekerja keras yang pantang mengeluh. Namun, menaklukkan gadis Kazak ternyata tak segampang membalik telapak tangan. Diam-diam orangtua Maryanka menjodohkan anak gadisnya itu dengan Lukasha, teman karib Olenin selama di Kazak. Sejatinya, usaha Olenin nyaris berhasil, dan Maryanka sudah takluk di tangannya. Tapi, tak lama berselang, sebuah kontak tembak dengan gerilyawan Chechnya terjadi. Lukasha tewas.


Maryanka justru mencurigai Olenin merekayasa pembunuhan mantan kekasihnya itu, hingga sikapnya pada Olenin berubah. Maryanka tidak mau lagi bertemu Olenin, bahkan tak segan mengusir lelaki itu. Di Rusia, karena kebangsawanannya, Olenin begitu gampang menaklukkan perempuan. Di Kazak, karena kebersahajaan, kejujuran, dan ketulusan cintanya, ia malah ditinggalkan oleh Maryanka.

Di titik manakah Olenin mesti berpijak? Apakah ia bakal pulang ke Rusia, atau justru bertahan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan di wilayah perbatasan?
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin