Showing posts with label Teman Tobucil. Show all posts
Showing posts with label Teman Tobucil. Show all posts

21.3.14

DIY Simple Science with HackteriaLab!

Tepat hari Kamis kemarin, tobucil kedatangan tamu dari Swiss. Mark yang akrab disapa Marjono karena lama tinggal di Jogja ini mempresentasikan dirinya sebagai wakil dari komunitas Hackteria. Apa itu Hackteria? Pada mulanya kami juga bingung untuk beberapa saat, namun setelah Mark menjelaskan, kami lalu ber “ooooo...” ria.


Kebanyakan orang ketika mendengar kata science pasti akan langsung berkerut kening. Mengingat bahwa ketika di sekolah dahulu pelajaran kimia, fisika, dan pelajaran lainnya yang berscience gampang sekali membuat kita pusing kepala. Hahaha. Mark sebagai penggila per-science­-an sangat tidak setuju pada hal itu. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuat hatinya tergerak untuk membuka wawasan orang-orang bahwa “Hey, science isnt so hard. It is simple and fun.” Ucap bule gondrong itu.

Mark, kanan berkaos coklat
Setelah berkeliling dari kota ke kota di seluruh dunia untuk mempresentasikan apa yang dibawanya, Mark akhirnya bertandang ke Indonesia. Berawal dari pertemuan dengan Ucok penggiat organisasi Life Patch yang juga bergerak di bidang citizen initiative in art, science and technology maka cocoklah sudah, Mark akhirnya bergabung. Berhubung topik yang dibawa olehnya sangat pas untuk kebutuhan di negeri kita tercinta ini.

Mark beserta teamnya membawa beberapa alat sederhana – yang bagi orang awam seperti saya sempat bertanya-tanya, apa alat itu sebenarnya? – dari bahan-bahan recyle yang ternyata dapat menciptakan alat baru yang luar biasa.


Pada awal diskusi Mark memperkenalkan komunitas Hackteria, dia memperlihatkan hasil kunjungannya ke suatu sekolah di Indonesia saat mengajarkan siswa-siswanya untuk membuat Hardware dari bahan CPU tak terpakai namun menjadi Hardware yang berguna bagi CPU lainnya, setelahnya ia memperagakan alat-alat ciptaannya satu per satu. Yang pertama adalah mikroskop. Bukan sembarang mikroskop loh, alat ini dibuat Hackteria dari webcam biasa. Webcam yang banyak terdapat di laptop atau bahkan kamera smartphone teman-teman sekalian. Amazing! Lalu alat transport suara. Bentuknya kecil, hanya terdiri dari batere, chip-chip kecil, dan voala. Sentuhkan satu jarimu di plat kuningan dan satu jarimu yang lain di tempat manapun maka akan keluar suara yang berbeda-beda. Lalu ada ikan-ikan, ternyata eh ternyata ikan itu Mark bawa bukan karena dia memeliharanya, namun ternyata ikan itu adalah sumber energi penghasil listrik!

Mark memperagakan kamera mikronya.
Berbagai macam perangkat Mark tampilkan dalam diskusi kemarin, selain menimbulkan kekaguman, kita pun menyadari bahwa ternyata science tidaklah serumit yang dibayangkan. Bahkan, kita bisa membuatnya sendiri dari bahan-bahan disekitar kita. J

Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :)
Setelah tiga jam terpesona oleh presentasi Mark, diskusi pun selesai ditutup dengan performance Larry Bang Bang, sang tattoo artist unik yang menerapkan bakat briliannya dengan menggunakan BOR! Tentu saja, para peserta yang hadir langsung mengantri untuk mencoba bor tatonya Lary. :D

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

4.1.13

Dian Mayangsari: Pergi untuk Kembali

"Mayang, kopi ABC susu satu." 
"Mayang, teh."
"Mayang, lemon tea."

Dian Mayangsari

Seruan-seruan itu, per hari ini, tidak akan terdengar lagi. Dian Mayangsari alias Mayang, kasir Tobucil yang dikenal supel dan murah senyum -maka itu kerap menjadi sasaran jahil siapapun yang sedang kumpul komunitas di beranda- resmi mengakhiri masa kerjanya. Selama hampir dua tahun, Mayang identik dengan kasir yang kerap pasang kuping dari balik mejanya, untuk mendengarkan apa-apa yang sedang dibicarakan di beranda. Ia mengaku dapat sejumlah pengetahuan, termasuk sering tertawa-tawa sendiri di meja kasirnya jika mendengar ada yang lucu. Sebelum Mayang resign, sempat terjadi ngobrol singkat dari perempuan kelahiran Madiun yang berulangtahun 8 Desember ini.

Halo, Yang.
Halo.

Dari kapan sih kerja di Tobucil?
Dari bulan Maret 2011 hehe.

O, emangnya, sebelumnya, kerja dimana?
Pernah kerja di Potluck di perpustakaannya dua taun. Terus di C59 setaun. Abis itu ke Tobucil deh!

Awalnya bisa kerja di Tobucil gimana ceritanya?
Taunya dari Ajo Bacabaca. Dia kan sering main ke Tobucil. Trus jadinya tau deh kalau Tobucil lagi buka lowongan. Kebetulan waktu itu lagi gak ada kerjaan juga.

Di Tobucil ini, kerjanya apa aja?
Ya gitu, jaga toko, beresin toko, bikin laporan, bikin kopi, ngurusin toko online. Ya pokoknya gitu deh, seperti umumnya jaga toko gimana.

Oh gitu.
Iya, gitu.

Ada cerita apa nih sepanjang kerja di Tobucil?
Cerita menarik? Aduh banyak banget kalau diceritain. Paling berkesan sih jadi bisa ngerajut dan banyak temen baru.

Trus rencananya, setelah resign ini, mau ngapain?
Yah banyak. Mau serius ngajar, mau nerusin produksian, mau bikin toko, sama mau jalan-jalan sore.

Setelah resign, apakah masih mau ikut kegiatan-kegiatan Tobucil?
Mau dong! Masih mau ikutan Klab Filsafat, Kelas Foto Cerita, sama ikutan Crafty Days hehe banyak maunya yah.

Oke Mayang, berhubung tahun baru nih. Meski sudah resign, tapi kelihatannya Mayang masih sayang sama Tobucil. Mayang punya harapan gak untuk Tobucil di tahun 2013 ini?
Ada! Semoga Tobucil makin maju, makin sukses dan selalu menyenangkan. Semakin banyak juga kelasnya, semakin menginspirasi banyak orang. Pokoknya, biar kecil tapi menggigit! Hehe naon deui..

Oke, Yang, makasih banyak, semoga sukses dan terima kasih atas racikan kopi dan tehnya selama dua tahun ini yang penuh cinta  dan kasih sayang!
Haha naon deui.. Oke sama-sama, sampai jumpa!

Google Twitter FaceBook

5.9.12

Stefanus Ping Setiadi: Pejuang Pluralis yang Multi-klab-is

Ping (tengah, merokok) di kegiatan Tobucil.


Dalam kurun waktu tertentu, Tobucil kerapkali ada pengunjung tetap yang mempunyai sifat “multi-klab-is”. Istilah tersebut dibuat-buat saja, untuk menunjukkan seseorang yang aktif mengikuti berbagai kegiatan klab di Tobucil. Multi-klab-is belakangan ini adalah Stefanus Ping Setiadi. Bermula dari kedatangannya di acara Pesta Filsuf: Etika di Media yang diselenggarakan di Tobucil Januari lalu, sejak itu ia nyaris mencicipi seluruh kegiatan yang terbentang di Tobucil. Berikut adalah petikan wawancara dengan pria bertato yang lahir dengan nama Yap She Ping ini: 

Tobucil (T) : Ping sejak kapan namanya Stefanus Ping Setiadi? Bukannya aslinya Yap She Ping? 

Ping (P) : Iya sejak lulus SMA. Saya tetap mempertahankan nama Ping karena Ping artinya pembawa damai. 

T : Ping pertama datang ke Tobucil kan di acara Pesta Filsuf. Tahu acara itu dari mana? 

P : Bulan Januari 2012 ada teman yang mem-posting di IA (Indonesian Atheist), tentang adanya acara pesta filsuf di Tobucil. Dia mention saya katanya saya pasti tertarik dengan acara itu. Dia sendiri gak ikut. Jarang-jarang soalnya anak IA yang suka filsafat. 

T : Itu artinya, kamu aktif di grup ateis? 

P : Tidak hanya di kelompok ateis, tapi di kelompok-kelompok yg peduli dengan pluralitas, dialog lintas agama dan keyakinan. 

T : Waw, kenapa kamu tertarik dengan isu-isu seperti ini? 

P : Saya lahir dari dan di lingkungan keluarga keturunan di tengah keberagaman masyarakat di negeri ini. Tentunya banyak cerita di sana yang bisa dituang dengan kecinaan saya, dengan tetangga-tetangga saya yg beragam jenis, dengan teman-teman bermain masa kecil saya yang beragam juga, dengan kehidupan diskriminasi yang saya dan keluarga saya dapatkan, dengan kehidupan keberagaman yang ternyata sebenarnya menyulut banyak masalah horizontal bagi masyarakat kita.

 T : Soal pluralitas ya. Hmmmm. 

P : Iya, utamanya persoalan rasial dan agama. Ketika orang-orang yang sekaum dengan garis darah saya membatasi pergaulan karena ekslusivitasnya, ketika agama mengajarkan bahwa menjadi orang baik adalah seperti agama yang saat itu saya yakini. Eh ternyata, di kehidupan sehari-hari, kok malah membentur dengan fakta bahwa orang-orang di luar suku saya, orang-orang di luar agama saya yang berbeda kok ada juga yg baik dan bisa menerima saya dan saya bisa nyaman bergaul dengan mereka. 

T : Sebentar Ping, sebelum lanjut, ceritakan dulu dong keseharian kamu ngapain aja? 

P : Sehari-hari mengajar di sanggar, sekolah, dan mengerjakan orderan-orderan “lacur” seputar melukis, ilustrasi, desain, dan sejenisnya. Sisanya berkegiatan menjalani passion lain selain mencari nafkah, seperti di Tobucil dan Garasi10. 

T : Memang kegiatan-kegiatan apa aja yang pernah kamu ikuti di Tobucil? 

P : Sekarang sedang aktif di Klab Filsafat Tobucil. Pernah ikut Klab Baca dan KlabKlassik juga. Pernah juga ikut kelas melukis Mas Tanto (R.E. Hartanto –red). 

T : Ada niatan ikut kelas merajut juga? 

P : Kenapa tidak? Sayangnya belum ada waktu. Lagian terlalu banyak bidang nanti jadi gak fokus hehe. 

T : Sekarang mari hubungkan kegiatan-kegiatan seperti di Tobucil ini dengan apa yang tadi kita bahas, yaitu tentang pluralitas. Kira-kira apa pengaruh ruang-ruang alternatif seperti Tobucil ini terhadap pluralitas? ada gak kontribusinya? 

P : Jelas ada! Di ruang alternatif kan kita belajar mewacana dan mendialogkannya. Ini penting buat mengisi amunisi untuk bisa dibawa ke medan tempur Sekali lagi, ruang non alternatif (baca: ruang mainstream) sepertinya tidak memfasilitasi itu. Terlalu banyak batasan-batasan dan tidak membebaskan krb berbentur dengan kepentingan-kepentingan. 

T: Ping? (sambil memandangi lengan Ping yang penuh tato)

P: Ya?

T: Coba deskripsikan tato-tato yang ada di badanmu!

P: Ada tato nama diri dalam bahasa mandarin di dada, ada tulisan kanji Cina lain juga di lengan atas kanan dan kiri yg berarti seputar kenarsisan dan cinta. Ada tato salib, malaikat di punuk dan punggung. Ada tato gajah baris di lengan kiri. Ada tato naga yg membentuk simbol Yin & Yang di tangan kiri. Insya Allah nanti nambah lagi yg lain.

T: Apakah ada hubungannya tato dengan pluralitas?

P: Tentunya. Sebenernya soal tato itu pertama karena jadi media curah energi. Seperti anak-anak yang suka mencorat-coret ruang kosong di mana saja mereka berada. Tato saat ini yang melekat di badan saya ya bentuk edukasi juga sama orang-orang, bahwa ini loh ada makhluk seperti saya tapi bisa hidup berdampingan bersama kalian. Mengenalkan keragaman bentuk manusia yang salah satunya ada guru yang bertato (baca: ada Ping yang bertato). Ketika mereka sudah terbiasa, dan lama-lama bisa menerima - yg harapannya tulus untuk bisa menerima tentunya. Memang butuh "usaha" untuk bisa mewacanakannya. "Usaha-usaha" seperti ini menarik minat saya, menjadi passion saya dlm hidup haha. 

T : Ping, kita ngobrol serius lagi. Tentunya kita tahu ada kelompok-kelompok tertentu yang tidak suka pluralitas hadir di Indonesia. Upaya apa nih yang kira-kira bisa dilakukan untuk "menahan serbuan" orang-orang yang tidak suka keragaman?

P: Untuk menahan serbuan anti pluralitas untuk saat ini saya baru bisa melakukan di ruang-ruang yang baru terjangkau. Misalnya, di sekolah tempat saya mengajar, saya selalu menebarkan virus-virus keberagaman dalam bahasa anak-anak. Kebetulan saya mengajar di sekolah yayasan kristen yang di sana kurang kemajemukannya juga. Selain itu, saya juga sering membuat tulisan, utamanya status (baru di facebook) di jejaring sosial untuk bisa menebarkan virus-virus keberagaman atau isu-isu lain yang aktual dan esensial. Saya juga cukup aktif berbagi olah pikir di kelompok-kelompok diskusi, misalnya ikut aktivitas dialog lintas agama seperti Jakatarub dan grup diskusi Bhinneka. Pokoknya, terus mengedukasi orang-orang awam di sekitar kehidupan saya dengan bahasa yang mudah diterima mereka dan tentunya dengan cara yang tidak menggurui. Ini cukup menantang untuk bisa diulik yaitu bagaimana kita bisa menyampaikan ide dengan cara berbahasa menurut segmen yang kita tuju.

T: Oke Ping, pertanyaan terakhir. Dengan identitas yang tanggung melekat padamu seperti misalnya tato, pluralis, ateis, apakah pernah dikucilkan?

P: Satu hal absolut yang paling saya yakini dalam hidup : Canda itu membuat lebur, canda itu menyatukan, canda itu menyelamatkan. Canda itu jauh lebih tinggi derajatnya dari agama! Alhamdulilah bahasa canda menyelamatkan saya hingga hari ini. Saya tidak pernah mengalami keterkucilan karenanya.

T: Mantap Ping, haturnuhun!

P: Sami-sami!



Google Twitter FaceBook

25.12.11

Refleksi Tobucil 2011 dari Elin Purwanti sang Manajer


Jika berkunjung ke Tobucil dari Senin hingga Jumat sebelum pukul dua siang, pastilah akan bertemu dengan ibu dua anak ini. Elin Purwanti namanya, kasir merangkap manajer Tobucil yang sudah malang melintang jatuh bangun menjalankan tugas ini. Selain menjaga toko, tugas lain dari Mba Elin adalah mengatur jam kerja para kasir lainnya, mengatur keuangan dan keluar masuk buku. Meski demikian, di sela-sela kesibukannya Mba Elin masih sempat-sempatnya untuk menekuni salah satu hobinya yaitu menjahit. Dengan peran sebanyak itu, bolehlah kita mengetahui seperti apa Tobucil 2011 dari salah satu tulang punggungnya.

Halo, Mba Elin.
Halo.

Lagi apa nih?
Lagi update blog dong. Aku lagi seneng nulis, jadinya sambil jaga suka update blog juga. Ini dia alamatnya www.blogelin-blogelin.blogspot.com.

Isinya apa aja tuh?
Isinya ada tentang aku, anak-anakku, dan kerajinan-kerajinan yang aku bikin.

Oke, Mba Elin, gimana nih secara garis besar Tobucil di tahun 2011 ini?
Tobucil di tahun 2011 itu keren. Kegiatannya banyak. Aku bisa bilang kalau tahun 2011 adalah tahun dimana Tobucil punya kelas paling banyak sepanjang sejarah.

Kelas apa aja itu teh?
Kelas public speaking asuhan Theoresia Rumthe dan kelas fotografi-nya Arum adalah yang menjadi primadona karena responnya sangat bagus. Sisanya seperti kelas filsafat untuk pemula, kelas menulis, dan rajut adalah yang sudah lebih dulu hadir tapi tetap konsisten!

Okay, Tobucil kan namanya juga Toko Buku Kecil. Gimana dengan perbukuannya?
Penjualan buku masih standar sih, tapi sekarang orang semakin mencari buku-buku hobi.

Sekarang gimana dengan soal perkasiran?
Perkasiran sekarang relatif stabil sih tapi masih nyari kasir cadangan untuk sore hari.

Okay, sekarang harapan Tobucil 2012 apa nih?
Semoga tahun ke depan bisa lebih berkembang lagi baik si Tobucil-nya sendiri maupun SDM-nya. Amin!

Amin! Nuhun Mba Elin!
Sami-sami!

Google Twitter FaceBook

Refleksi Tobucil 2011 dari Nurul Wachdiyyah sang Facebooker



Segala update posting baik dari blog Tobucil maupun blog Tobucilhandmade, selalu disebarluaskan ulang via Facebook maupun Twitter. Inilah orangnya, Nurul Wachdiyyah alias Ulu yang berjasa menyebarkannya. Kebetulan sekali tahun 2011 ini adalah tahun dimana Ulu mulai berpartisipasi di Tobucil. Ia mulai bekerja sejak bulan Januari yang berarti hampir genap setahun. Mari kita tanyai kesan-kesannya selama 2011.

Halo, Ulu.
Halo.

Gimana nih usia kehamilannya udah berapa bulan?
Udah tujuh bulan nih, doain yah.

Tentu saja. Ada niat ngambil cuti gak?
Ada tapi sebentar aja, gak standar tiga bulan kaya perusahaan pada umumnya. Nanti kalau anak sudah lahir langsung ke Tobucil deh anaknya diakod (digendong - red).

Oke, selain di Tobucil, kegiatan Ulu ngapain lagi nih? Jualan krupuk ya?
Iya, namanya  Kroepoek Tjap Oeloe. Trus saya juga ada dua kantor lagi selain Tobucil yaitu YPBB dan Mokaw.

Oke, gimana kesan Ulu selama hampir setahun ini jadi updater Facebook dan Twitter?
Ya, di Tobucil suasananya menyenangkan. Suasananya hangat kaya di rumah. 

Kalau soal pesan-pesan yang masuk via Facebook sendiri, ada yang aneh gak? Ulu juga kan yang update?
Iya, kalau Ulu bisa jawab, Ulu yang jawab. Kalau gak, nanti Mba Tarlen yang jawabin. Biasanya nanya harga benang dan sejenisnya, terus nanya kelas. Gak ada yang aneh kok. Kalau yang nyebelin mah pasti ada, tapi dikit. Dikiit banget.

Okay, harapan Tobucil 2012 apa nih?
Moga-moga penjualannya naik terus. Sehat, disayang banyak orang, dan seru selalu. Aminnnn..

Aminnn.. Ulu makasih ya semoga proses persalinannya lancar!
Amin. Terima kasih ya!


Google Twitter FaceBook

11.9.11

Mengenal Perempuan Sore: Tutor Kelas Public Speaking

Di Tobucil, tanggal 16 September ini akan dimulai sebuah kelas baru. Kelas itu bernama kelas Public Speaking atau jika diterjemahkan secara bebas artinya mungkin menjadi kelas "Berbicara di Depan Publik". Kelas tersebut akan dipandu oleh Theoresia Rumthe yang berprofesi sehari-sehari sebagai penyiar MGT 101,1 FM. Mari mengikuti bincangan dengan Theoresia Rumthe, dara kelahiran 16 Oktober 1983 yang mempunyai nickname Perempuan Sore ini:

Halo, Mba Theo.
Halo, Syarif.

Nanya-nanya dikit, boleh ya?
Boleh dong, kebetulan aku lagi santai nih.

Rencananya mau bikin kelas baru kan di Tobucil, apa sih latar belakangnya?
Pertama, aku punya utang sama Tobucil, dari tahun lalu aku emang udah janji bikin kelas ini. Tapi baru tahun ini terealisasi hehe. Yang kedua, aku cuma pengen bagi-bagi ilmu aja. Aku pengen mengajak orang-orang untuk mengetahui bahwa public speaking itu bukan bakat. Segera ketika orang nyaman dengan diri mereka sendiri, maka akan mudah untuk berbicara di depan publik.

Waduh, berat juga ya. Oke, metode apa nih yang akan dipakai Mba Theo di kelasnya nanti!
Pertama, pastinya aku mau kasih teori-teorinya ya, public speaking dasar ceritanya. Aku juga mau melatih gesture, tentang bagaimana sih pembawaan fisik kita ketika berbicara. Namun yang terpenting dari semuanya adalah bagaimana agar mereka nyaman dengan diri mereka sendiri. Untuk itu aku juga mau adain sesi curhat hehe.

Oke, Mba. Ngomong-ngomong, berbicara dengan publik itu enaknya dengan teks atau tidak?
Tanpa teks lebih baik. Atau minimal pake pointers, nanti di kelas juga aku bakal ajarin cara bikin poin-poin.

Oke, terus, nantinya, apakah ada semacam "UAS" atau penutup sebagai konklusi dari yang sudah dipelajari?
Iya dong, di akhir nanti ada tes berupa presentasi, aku juga rencananya membuka presentasi itu untuk publik atau umum.

Oke, Mba. Bagi Mba Theo sendiri, berbicara di depan publik seperti apa yang sulit?
ABG hehe, konsentrasi mereka biasanya agak kurang.

Pertanyaan iseng nih Mba. Kalau ngasih humor itu penting gak sih?
Penting banget. Humor diperlukan agar suasana menjadi cair. Kemarin aku sempet liat pertunjukan stand-up comedian. Dari pengalamanku itu, ketahuan bahwa ada beberapa komedian yang kemudian dia menjadi lucu karena justru tidak berniat untuk lucu. Dia cuma berusaha keras membawakan dirinya dengan baik dan melepaskan beban-beban yang ada, ketika itu sukses dilakukan, kelucuan bisa mengikutinya.

Terakhir, wakili public speaking dalam satu kata!
Kepekaan.

Terima kasih ya Mba!
Sama-sama.

Syarif Maulana

Theoresia Rumthe kala siaran.



Tertarik mengikuti kelasnya? Infonya ada di sini.
Google Twitter FaceBook

5.6.11

Berbincang dengan Teuku Ismail Reza: Persulit "Kangen PerWalian"!

Mas Reza (kiri) ketika mempresentasikan kehebatan piringan hitam.


Teuku Ismail Reza, atau biasa dipanggil Mas Reza, adalah penikmat musik yang belakangan aktif di KlabKlassik sebagai narasumber. Beberapa kali ia membawakan materi menarik semisal soal psikedelik dan pemutaran piringan hitam Those Shocking Shaking Days. Salah satu ciri khas Mas Reza, yaitu suara yang berat serta gaya bicara yang penuh gairah dan meledak-ledak, membuat banyak penggiat Tobucil maupun KlabKlassik mengaku senang mendengarkannya. Pria menikah kelahiran 30 Oktober ini mengaku bahwa aktivitas sehari-harinya adalah mendengarkan musik sambil bekerja (yang ia akui terpaksa) dan mencari-cari piringan hitam murah. Awal penyebab ia nongkrong di Tobucil adalah karena Mas Reza bertemu Mba Tarlen (pemilik Tobucil) pada tahun 2000 di Bandung Art Event dan setelah itu sering kumpul bareng dan akhirnya mengakui bahwa nongkrong di Tobucil adalah habit yang sukar dilepaskan. Berikut petikan ngobrol-ngobrol dengan Mas Reza, yang kebanyakan membahas seputar permasalahan musik di Indonesia: 

Mas Reza adalah penikmat musik kan?
Iya.

Adakah musik yang tidak bisa dinikmati Mas Reza?
Ada, musik yg dimainkan secara asal-asalan. Dangdut juga keren kalau yang maennya menjiwai musik, bukan sibuk olahraga atau sok sexy. Sayangnya, musik yang asal-asalan ini semakin banyak dipasaran, terutama sekali di pasaran Indonesia.

Sampai saat ini, apa musik favorit Mas Reza? Atau secara spesifik, band favorit Mas Reza?
Tergantung mood, tapi semenjak tahun 1999, menjurus ke eksperimental rock -rangenya kan luas banget, dari yg aroma Jazznya kenceng sampai Noise jaya- kebeneran sekarang sih lagi suka sama genre Drone Doom Metal + Drone Metal semacam Sunn O))), Boris, The Body, Ascend, Earth, dan lain-lain. Di sisi lain yang juga sedang sering didengerin adalah para revivalists, mulai dari Cee Lo Green (Soul Revivals) sampai The Black Keys & The Heavy ( Motown + Blues + Soul revival). Kalau Band favorit sih banyak banget.... hehehehe ....

Mas Reza sering sekali terlihat kritis terhadap musik, termasuk musik Indonesia. Mari kita bicara banyak. Tentang musik Indonesia, bagaimana Mas Reza melihat musik Indonesia sekarang ini?
Musik Indonesia masih terlalu cemen-masak sekian banyak rakyat Indonesia cuman menghasilkan kualitas Kangen perWalian. Di sisi lain, banyak juga orang sok semacam D*a*i D**a yg kesannya jago banget, padahal kebisaannya nyontek dari lagu-lagu luar tahun 70an, parah lah!

Mas Reza apakah punya solusi?
Solusinya; pecat semua purchaser musik wakil major label di Indonesia, yang kerjanya memutuskan cd musik apa yg bisa edar di Indonesia. Mereka ini orang-orang nostalgik tapi nggak punya referens yg nggenah. Selain itu, larang dan persulit semua band ala Kangen perWalian, biar kelaparan dan bikin musik yang bermutu karena lapar dan marah  Dimana-mana artis musik yang lapar dan marah akan menghasilkan karya-karya yang berbobot.

Kalau Mas Reza menjadi pemilik sebuah mayor label di Indonesia, apakah yang akan Mas Reza lakukan pertama kali?
Bikin aksi Urban Terror untuk mengkampanyekan musik bermutu di Indonesia. Memperbanyak produksi vinyl, menggratiskan mp3 - karena orang yg suka musik pasti akan cari format yg lebih representatif dan keren secara sound, dan mp 3 cukup efektif untuk menjadi sarana "coba sebelum membeli". Naon deui nya?

Bagaimana menurut Mas Reza peran ruang-ruang alternatif yang sedang marak dewasa ini dalam kontribusinya terhadap musik di Indonesia?
Peran ruang alternatif masih terbatas untuk menghadirkan musik yg enak didengar, bukan musik yg benar-benar bermutu menurut saya - memang sih kualitasnya agak diatas band ala Kangen PerWalian, tapi saya merasa lumayan stagnan.

Oke, kita ngomong yang lain. Mas Reza secara akademik berlatarbelakang arsitektur, adakah hubungan menarik yang bisa dilihat antara musik dan arsitektur?
Architecture is a frozen music.


Dalam aktivitas Mas Reza sebagai dosen arsitektur (Di UPH -red), adakah Mas Reza menggunakan musik sebagai pendekatannya?
Tergantung mata kuliahnya - ini ada satu yg lagi dicoba mata kuliah eksperimen menggunakan musik dan film-semoga berhasil dan mahasiswanya tidak jadi gila atau bikin agama baru yg mengkafirkan orang tuanya sendiri.

Oke, sebagai penutup, Adakah tips-tips khusus dalam menikmati sebuah musik? Misalnya, mencari ruang dan waktu yang pas, atau mengikuti perkembangan bandnya, atau apa, Mas?
Intinya memang musik itu merupakan cerminan dari kondisi sosio kultural masyarakatnya-makanya ngedengerin musik bukan melulu masalah musik enak nggak enak, tapi juga kemauan kita untuk memperluas wawasan dan menabung preseden. Mendengar musik adalah sebuah proses aktif, bukan sebuah proses pasif; jadi diperlukan kemampuan mendengar aktif yg dapat memilah-milah bunyi masing-masing instrumen, dan menyatukannya kembali dalam sebuah komposisi.

Baiklah terima kasih, Mas. Jaya selalu musik Indonesia!
Jaya selalu Boris dan Sun O)))!

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

9.5.11

Musik Sore Crafty Days: Tesla Manaf Effendi dari Grace & Tesla



Kurang dari seminggu lagi Craft Days jilid lima Tobucil akan digelar. Bazaar dan workshop kerajinan tersebut juga mempersiapkan sajian musik di dalamnya. Acara musik yang diberi nama Musik Sore tersebut akan digelar di hari kedua yakni 15 Mei pukul 16.30 hingga pukul 18.00. Musik Sore dibuka dengan penampilan KlabKlassik, lalu dilanjut Yustinus Ardhitya, Grace & Tesla dan ditutup dengan Ammy Alternative Strings. Salah seorang penampil dari Musik Sore nanti berhasil diwawancarai, yakni Tesla Manaf Effendi, gegedug dari Grace & Tesla. Ia juga seorang gitaris jazz muda yang amat progresif dan tengah naik daun. Kelahiran 29 Agustus 1987 ini mengawali karir musiknya dari belajar gitar klasik, dan akhirnya lima tahun terakhir ia banting setir ke jazz. Penggemar Pat Metheny dan Yo-Yo Ma ini akan berkisah singkat pada kita, sekaligus menambah penasaran, “Drama apa yang disajikan Musik Sore nantinya?”

Tobucil: Halo Tesla.
Tesla: Halo.
Tobucil: Akhirnya main lagi di Tobucil. Dulu kan pernah main juga ya di Tobucil, gimana kesan-kesannya?
Tesla: Keren, tapi saya berharap nanti apresiatornya bertambah.
Tobucil: Haha pasti, karena ini ada bazaarnya, pasti seru. Apa yang kamu siapin, Tes, untuk penampilan nanti?
Tesla: Hihi penasaran ya, ada aja pokoknya mah!
Tobucil: Okelah, ditunggu! Gimana mulanya bias terbentuk Grace dan Tesla? Mulainya kapan?
Tesla: Dari tahun lalu. Saya sama Grace awalnya sebatas teman berimajinasi saja, tapi kemudian kami memutuskan untuk bikin duo.
Tobucil: Adakah pengalaman main yang berkesan dari duo ini?
Tesla: Semuanya berkesan, sampai penonton pada tutup telinga hehehe.
Tobucil: Terus pendapat Tesla tentang Grace sendiri?
Tesla: Haha dia mah temen gossip. Kalau ketemu gosip, bukannya latihan.
Tobucil: Hmmm.. terus apakah kamu punya rencana rekaman serius?
Tesla: Hehe udah kok, udah banyak rekaman seriusnya. Coba aja kunjungi www.soundcloud.com/tesla-manaf-effendi. Kepingan CD juga udah tersedia, kalau gak salah di Tobucil juga jual kan? Atau bias pesen ke www.jazualty.com.
Tobucil: Wow asik! Oke, terus terkait sama kelulusan kamu kemarin. Hehe benar kan baru lulus kuliah?
Tesla: Iya, bener.
Tobucil: Apakah penting seorang musisi menamatkan kuliahnya, walaupun ia sudah sukses sebagai musisi?
Tesla: Penting dong, utang ke orang tua, dan bukan berarti musisi tapi gak bisa kerja kantoran, hanya saja bermain musik itu pilihan.
Tobucil: Oke, Tes, rencana kamu ke depan apa?
Tesla: Saya ingin main saja. Kalau ngajar, gak bakat hehe.
Tobucil: Oke sekarang bahas basic kamu ya. Penting gak sih, Tes, belajar apa-apa dari klasik dulu?
Tesla: Dulu sih berasa gak penting, karena kerjaanya cuman baca partitur tanpa tau teori, eh makin kesini makin berasa klo main klasik itu penting, gak hanya dari sight reading, tapi teori tanpa batas dan teknik bermainpun berguna. Gak harus selalu mulai dari klasik kok, mulai dari yang suka aja
Tobucil: Ah, penting banget itu, kata kuncinya: Mulai dari yang suka. Oke, terakhir, jazz sepertinya lagi naik daun nih, terutama akibat pagelaran javajazz yang rutin. Bagaimana Tesla melihat fenomena tersebut?
Tesla: Itu musiman kok, paling lama 5 tahun lagi juga keliatan siapa aja yg suka jazz dan siapa yg gak kuat.
Tobucil: Wah terima kasih, Tes, atas waktunya. Salam buat Mas Niman dan KlabJazz-nya ya, gimana kabarnya sekarang?
Tesla: Klabjazz baik dan sejahtera, masih jadi wadah untuk bermain dan mencari pengetahuan. Sunday jazz minggu pertama di Potluck dan ketiga di Dago Plaza. Sama-sama terima kasih juga.
Tobucil: Siap untuk tampil di Craft Days??
Tesla: Siap! Udah ah nanya mulu nih.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

2.5.11

Azhar Rijal Fadlillah: Penggalau Madfal Generasi Baru

Jika sesekali mampir ke Madrasah Falsafah (Madfal) hari Rabu, tengoklah ke sekeliling manusianya. Kalau ada yang terlihat paling muda, gelisah, dan resah, barangkali itulah Azhar Rijal Fadlillah alias Ijal. Kelahiran 29 Februari 1992 (dia berulangtahun setiap 1 Maret) tersebut, aktif di Madfal sejak Januari 2010 atau lebih dari setahun yang lalu. Ia bergabung pertama kali ketika Madfal tengah membahas topik berjudul "Musik: Bahasa Universal". Dalam kurun waktu setahun sejak itu, Ijal berevolusi. Dari tadinya pria rapi flamboyan, menjadi gondrong acak-acakan. Akibat filsafatkah? Mari kita kenal lebih dekat.

Tobucil (T): Halo Ijal
Ijal (I): Halo

T: Apa kabarnya nih, apa aktivitas sekarang?
I: Saya sehari-hari kuliah, Kang. Tapi kemarin-kemarin sempat mau berhenti saja.

T: Kenapa? Memang kuliah dimana?
I: Di Administrasi Bisnis Unpad angkatan 2009. Ya saya merasa kuliah disitu kurang memenuhi harapan dan rasa ingin tahu saya, jadi saya sempat kepikiran untuk pindah ke tempat lain. Tapi sekarang gak jadi kok, Kang, mau terus saja. Hehe.

T: Hehe okelah. Coba ceritakan Madfal menurut kamu!
I: Madfal seru, Kang. Saya banyak bertemu macam-macam pemikiran. Meski demikian, kegalauan saya ternyata lebih tersalurkan ketika sendiri. Dengan berpikir-pikir sambil begadang. Bagi saya Madfal itu seperti bidan, ia membantu melahirkan pemikiran-pemikiran baru bagi saya. Meskipun pemikiran itu pada akhirnya saya sendiri yang mengolahnya agar autentik. Madfal juga bikin saya terlihat tua, Kang. Hehe.

T: Oke, itu secara garis besar. Madfal sekarang ini, menurutmu bagaimana?
I: Madfal masih asyik kok. Tapi sejak Januari 2011, memang ada sedikit persoalan dalam sistematisasi tema dan juga jalannya diskusi. Saya agak curiga ini disebabkan oleh ketiadaan moderator tetap. 
T: Sehingga?
I: Iya, terutama karena tidak adanya moderator ini, menyebabkan beberapa orang yang baru datang ke Madfal sulit untuk dirangsang bicara. 
(Dien Fakhri Iqbal Marpaung, peserta tetap Madfal yang waktu itu kebetulan ada di sebelah Ijal, menimpali): Iya, harus ada moderator tetap, siapapun itu, yang bisa menguasai seluruh peserta.

T: Oh, baiklah, kalau begitu, adakah pesan-pesan berikutnya bagi Madfal dan penggiat filsafat lainnya?
I : Hmmm.. Apa ya? Pertama mungkin, sesekali Madfal bisa kembali membahas keseharian seperti dulu. Maksudnya, agar orang-orang yang baru kenal filsafat bisa dengan mudah memasuki topiknya. Yang kedua, "Jangan sesekali berani datang ke madfal, terlebih lagi menjadi galau jika tidak ingin tubuh menua mendahului usia."

Demikian obrolan singkat dengan Ijal, seorang anak muda yang dituakan oleh filsafat. Sekedar informasi, Madrasah Falsafah diadakan setiap Rabu pukul 17.00 sampai sekitar pukul 20.00. Diskusi filsafat bebas, dengan semboyan "Semua Orang adalah Filsuf".



Azhar Rijal Fadlillah, diambil dari dokumentasi pribadi

Google Twitter FaceBook

6.2.11

Nurul Wachdiyyah: Awak Baru Tobucil yang Senang Jalan-Jalan

Nurul Wachdiyyah, biasa dipanggil Ulu. Ditanya darimana panggilan tersebut, ia menjawab dari ayahnya, sejak ia kecil. Ulu adalah punggawa Tobucil terbaru. Tugasnya relatif sederhana namun cukup vital bagi perkembangan Tobucil, yakni: mengurus Facebook Tobucil. Meski terkesan sederhana (karena Facebook sudah seperti keseharian bagi masyarakat sekarang), namun perlu diingat bahwa publikasi berbagai kegiatan hari ini sangat efektif bila dilakukan via Facebook. Jika melihat keaktifan Facebook Tobucil belakangan ini, perlu diketahui bahwa itu adalah bagian dari kinerja Ulu. Mari kita ngobrol-ngobrol sejenak. 

Ulu, kenal Tobucil sejak kapan? 
Dulu saya suka maen ke Tobucil waktu masih di Kyai Gede. Sekitar tahun 2006 itu, saya kerjasama dengan Tobucil soal tempat pendaftaran jalan-jalan wisata sejarah.

Wisata sejarah?
Iya, jalan-jalan dari Asia Afrika ke Gedung Sate hehe. Saya emang senengnya jalan-jalan, dan gak perlu jauh-jauh, di Bandung pun banyak tempat seru!

Wah, terus-terus?
Terus-terus yang mana nih?

Yang kenal Tobucil dulu, baru kita ngomongin wisata.
Oke, terus dulu itu saya sering nongkrong, ikutan Klab Baca, Klab Rajut, dan Klab Nulis. Selain itu, bibi juga kerja jadi shopkeeper, jadi sering berkunjung deh.

Oke, nah, kalau soal jalan-jalan, senengnya kemana nih?
Saya senengnya mengeksplorasi dalam kota, dan saya jatuh cintanya sama kawasan Pecinan. Disana aura perdagangan kuat dan eksotis, banyak rumah-rumah yang masih bergaya lama. Wah pokoknya seru! Pengennya sih di Tobucil ini bikin Klab Jalan-Jalan, tapi konsepnya masih digodok sama Mba Tarlen.

Oke, gimana sih ceritanya bisa jadi bagian dari Tobucil sekarang ini?
Ya, ini karena rekomendasi temen aja. Kebetulan kawan saya punya hobi yang sama dengan Mba Tarlen. Eh kebetulan mereka sedang perlu untuk mengurusi blog, akhirnya saya diajakin deh. Emang kebetulan udah kenal dari dulu juga.

Oke, secara spesifik, Ulu itu ngapain aja sih kerjanya?
Ya, intinya publikasi aja. Biasanya setelah blog diupdate, saya langsung publikasikan di Facebook. Setelah itu saya juga menjawab pertanyaan seputar Tobucil yang dilontarkan via Facebook. Awalnya agak sulit, tapi lama-lama setelah banyak nanya sama Mba Tarlen, jadi ngerti juga.

Oke, terakhir, seneng gak di Tobucil?
Seneng banget, memang Ulu seneng dengan suasana bekerja seperti ini.

Seperti ini bagaimana?
Ya, gak kaya kantor banget. Jadi berantakan, tapi pada tempatnya. Dan gak cubical seperti di kantor-kantor yang serba rapi tapi kaku. Apalagi kalau ada anaknya Mba Elin, Aurora. Jadi bikin tentram.

Saya mewawancarainya kala itu menjelang maghrib. Menjelang Ulu habis jam kantornya yang sementara hanya datang setiap hari Senin dari jam 13-18. Setelah wawancara ia langsung bersiap pulang ke rumahnya yang jauh, di Ciparay. Tempat ia sehari-harinya memancing. Kenapa,?karena ia punya kolam besar berisi lele dan berbagai jenis ikan. Boleh loh kalau mau pesan, katanya begitu.



 Ulu kala sedang jalan-jalan (dokumen pribadi dari Facebook)
Google Twitter FaceBook

30.1.11

Martina Zahirsyah: Menenun Kenangan

The book of love is long and boring
No one can lift the damn thing
It's full of charts and facts and figures and instructions for dancing
But I
I love it when you read to me


Pemandangan Klab Rajut hari itu sungguh aneh. Karena ada satu orang yang berkelakuan ganjil di tengah-tengahnya. Maksudnya, yang lain asyik merajut, seorang itu sedang menenun. Martina Zahirsyah namanya, salah seorang (dari sekian banyak) multi-klabis di Tobucil. Martina adalah aktivis Klab Nulis, Klab Rajut, Kelas Scrapbook, dan Klab Klassik. Ia menenun dengan rasa cinta, itu terasa. Ketika ditanya, mengapa ia menenun? Ia menjawab dengan dramatis: Untuk sampul scrapbook ku.


Menurutnya, ia terinspirasi oleh kreativitas Moelyana (kreativis Tobucil) yang selalu ingin tampil berbeda. dalam penampilan Scrapbooknya. Yang lain menggunting gambar yang sudah jadi, Moelyana menggambar sendiri, demikian Martina bersajak. Setelah berpikir sekian lama tentang bagaimana perbedaan yang ia inginkan, akhirnya Martina menemukan bekas tenunan masa silam. Yang ia pernah kerjakan namun gagal dirampungkan. Ia membuka kenangan, membolak-baliknya, dan memutuskan untuk menenunnya kembali. Menenun ini jelas butuh kesabaran, namun ia sabar, namun ia yakin bahwa ketika segalanya selesai maka scrapbooknya akan sungguh mewakili dirinya.

Kelas Scrapbook sabtu kemarin berisikan materi mengenai telapak tangan. Maksudnya, masing-masing peserta diminta menjiplakkan telapak tangannya ke lembar Scrapbooknya sehingga tercetak dalam warna tertentu. Setelah itu, nantinya telapak tangan itu akan ditulisi jari per jarinya, tentang sifat baik dan buruk kita. Oh, betapa indah membayangkan scrapbook itu selesai nantinya. Sungguh perjalanan selalu indah jika dikenang.



Google Twitter FaceBook

27.1.11

(Bukan) Farewell Boeat Ipey

Boehmeria Nivea Marino alias Ipey adalah perempuan kalem penjaga Tobucil selama dua tahun terakhir ini. Garda depan, wajah pertama yang akan ditemui bagi siapapun yang ingin colek-colekan dengan Tobucil. “Awalnya ditawarin temen, sih, Yuchan. Ngasih info kalau Tobucil sedang mencari shopkeeper,” Ipey bercerita dengan kalem nan santai. Saking kalemnya, saya sampai agak bingung untuk menerjemahkan perkataannya. 


Tak terlalu banyak sebenarnya yang saya ketahui tentang Ipey. Hanya rutinitasnya yang tiap siang datang melaksanakan rutinitasnya di Tobucil dan seorang auditional bassist yang telah serius nge-band ria semenjak duduk di bangku SMP. Sampai kemudian gosip paling panas itu mampir di telinga saja. Kegenapan dua tahun yang dikumpulkan Ipey akan segera berakhir. Mengapa? Mencari suasana baru? Ingin lebih serius menjadi musisi? Atau pengen dikangenin sama manusia penghuni Tobucil? Hehe. Ipey hanya tersenyum simpul ketika hal tersebut saya tanyakan. Ah, yang pasti, tepat pada kegenapan itu pula saya akhirnya bisa berbincang panjang lebar mengenai Ipey. Bagi saya, Ipey adalah kawan yang unik, seunik singkatnya percakapan kami.

Tobucil dalam benak Ipey adalah tempat penuh kesederhanaan yang menyenangkan meski kejahilan-kehajilan yang hadir terkadang begitu membabi buta. “Banyak hal-hal kecil yang tidak terperhatikan justru menjadi menarik di sini. Misalnya saja membuat kantong gehu dari kertas bekas. Bagi orang lain, kertas-kertas bekas itu bisa jadi tidak berguna, tapi di sini, prentilan semacam itu menjadi menarik dan berguna. Orang-orangnya juga menyenangkan, sih. Pada kreatif semua. Sering mengeluarkan ide-ide yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain,” kali ini perempuan bertubuh mungil itu menjawab agak panjang setelah setengah dipaksa untuk sedikit berpanjang-panjang.

Saya jadi ingat, sekitar setahun yang lalu, seorang pengunjung agak-agak super galau datang dengan membawa emosi berlebih dan mengomel seperti yang baru diberi mulut oleh Tuhan. Semua gempar: bergosip, membahas, menganalisis. Ipey, saya tak ingat betul apa yang ia sampaikan, tapi saya ingat betul senyum simpul yang mengembang di bibirnya yang biasa-biasa saja itu, nyaris tanpa emosi. Namun, itulah Ipey, sederhana dan lebih senang melihat semuanya sebagai hal ringan. Kesederhanaan Ipey bisa jadi sesederhana Ipey mengamati Tobucil. Kesederhanaan seperti apa? Sulit untuk ditafsirkan. Sesulit kalimat-kalimat keterangan yang kerap tak kunjung muncul. Kalimat yang keluar dari Ipey ibarat hanya subyek dan predikat, malah kerap hanya berupa frasa atau klausa. Pecahan-pecahan berserak yang mungkin membutuhkan waktu yang panjang untuk memahaminya lebih baik, bahkan untuk saya sekalipun. Satu hal yang pasti, saya memahami bahwa kesederhanaan yang dimiliki oleh Ipey adalah kesederhanaan dalam mengamati ruang-ruang dalam koridor yang sangat personal. Tak perlu diketahui secara lengkap oleh publik, karena ia adalah misteri yang justru melengkapi dan menjadikan Ipey “menjadi Ipey” yang sebenar-benarnya.


Hanya tersenyum simpul dan tak banyak bicara. Mengorek lebih dalam mengenai Ipey jelas hal yang terlalu melelahkan sekaligus agak sulit. Ipey sebentar lagi beranjak. Saya teringat kata-kata Seno Gumira Adjidarma di dalam salah satu cerpennya, “hidup adalah sekadar mampir dan minum bir”. Mungkin kalimat itu menjadi penerjemah paling pas untuk seorang Ipey. Ipey yang mampir ke Tobucil, menggegas waktunya dengan menyenangkan untuk lalu beranjak bergerak mencari tempat mampir berikutnya dengan bir-bir baru. Ipey yang akan melangkah dengan setengah tapak yang selalu menjejak di lantai-lantai Tobucil. Percakapan kami ini sengaja tidak saya tuntaskan. Tuntas adalah musnah, selesai. Lebih baik saya berhenti sebelum ia musnah tanpa penyelesaian. Pada waktunya nanti,di satu persimpangan hari, obrolan kami; saya, Ipey, dan Tobucil pasti akan berlanjut. Bukan untuk menuntaskan, tapi untuk menggelar hari menggalah matahari bersama-sama meski dalam mimpi yang berbeda-beda. Semoga. Selamat berjalan-jalan, Ipey.
Google Twitter FaceBook

23.1.11

Kembalinya Manajer Tobucil

Awal tahun 2011 ditandai dengan kembalinya salah satu pilar utama Tobucil yang absen sekitar tiga bulan. Ia adalah sang manajer, Elin Purwanti. Manajer merangkap kasir-pagi-setiap-weekdays ini, ambil cuti oleh sebab ia tengah mengandung anak keduanya. Tugasnya sebagai manajer, susah-susah-gampang, menurutnya, ia mengurus mulai dari urusan administrasi, perekrutan kasir, hingga jadwal jaga. Terang saja cutinya Mba Elin, biasa saya memanggilnya, cukup mempengaruhi keseimbangan Tobucil. Untungnya, awal tahun ini ia kembali bertugas. Mba Elin ogah sendiri, anaknya diajak untuk menemaninya. Berikut petikan obrolan santai dengan Mba Elin sang manajer:

Mba E, selamat nih atas kelahiran anak keduanya, siapa teh namanya teh? 
Aduh, kalau saya sebutin nanti kamu salah spelling. Cek aja di Facebook yah? Cari aja di family, yang list as a daughter.

(Cek Facebook, profil Mba Elin, dan menemukan namanya, cantik sekali: Aurora Rhevakhansa) Mba E, apakah Aurora selalu dibawa-bawa setiap bekerja?
Iya, mesti euy, soalnya kasian kalau ditinggal di rumah, gak ada yang ngurus. Mau minta diurusin sama orang lain, belum percaya.

Lantas, sewaktu cuti, apakah suka merindukan beraktivitas kembali di Tobucil?
Iya, sering kangen. Tapi mau gimana lagi, kan riweuh. Harus beradaptasi dulu untuk mengurusi dua anak sekaligus. Setelah bisa beradaptasi, baru saya beranikan diri untuk masuk lagi.

Nah, setelah masuk, adakah yang berbeda dari Tobucil ini?
Ada, cukup banyak, mulai dari display buku-buku, benang-benang yang dijual, hingga ada beberapa personel yang sudah berganti.

Jelaskan!
Halah naon eta emang soal cerita. Ya maksudnya display itu ya penempatan buku di rak, terus soal benang, dulu itu yang tersedia cuma benang Tipi dan Katun Bali. Sekarang eh tiba-tiba ada benang R, benang Athena, dan benang And +. Sedangkan personel yang udah berganti itu, Wiku (tadinya koordinator Klabs) sekarang udah gak di sini, dan Ipey juga (kasir weekdays-sore).

Oh, terus soal kasir, gimana dong? Bukannya dulu soal kasir itu selalu menghantui ya?
Iya sih, tapi mesti dijalani aja. Untung sudah dapat gantinya, yaitu Mayang. 

Oke, mba E, terakhir yeuh. Adakah semacam harapan dari Mba E pada Tobucil di tahun 2011 ini? 
Ada dong, semoga dengan kelahiran anak kedua saya yang cantik ini. Menjadi berkah dan anugerah untuk Tobucil di tahun ini, dan tahun-tahun selanjutnya.

Demikian obrolan singkat dengan sang manajer. Mengurus dua anak yang masih kecil-kecil tentu tak mudah, tapi Mba E tetap melakukannya sambil bekerja. Tak jarang ia mengangkat telepon, memanaskan air, atau menghitung administrasi, sembari menyusui anaknya. 



Mba Elin beserta keluarga


Google Twitter FaceBook

26.10.10

Debut Panggung (Pra) Koperasi Makmur Raya

Jika ada yang belum tahu ini, ketahuilah bahwa teman-teman yang sering berkumpul di Tobucil mempunyai semacam koperasi, dinamai Makmur Raya. Anggotanya masih sekitar dua belas dan baru sebatas orang-orang yang rajin datang ke Tobucil. Ketuanya adalah Eri, dan bendaharanya Mba Kenti. Lalu di tengah usianya yang baru saja, koperasi yang dinamai Makmur Raya tersebut mendapat kesempatan untuk mempromosikan dirinya. Alkisah, ayahanda Dian Rinjani (salah seorang anggota koperasi dan aktivis Klab Rajut), bergerak di bidang koperasi. Diberi kesempatanlah, koperasi Makmur Raya untuk naik ke panggung debutnya, yakni acara UKM Se-Jawa Barat. Bertempat di Giant Pasteur, koperasi Makmur Raya berdiri di tengah sekitar seratus UKM lainnya.
Acara tersebut berlangsung tiga hari, yakni mulai dari 22 sampai 24 Oktober. Penjaganya bergantian: Hari pertama, dijaga oleh Dian dan Mba Kenti. Hari kedua, Eneng dan Mba Upi. Sedang hari terakhir, dijaga oleh Eneng, Dian, dan Mba Kenti. Barang jualannya sendiri beragam, walaupun tak beda jauh dengan yang dijual di Pasar Seni ITB dua minggu silam. Makmur Raya menjual asesoris karya Mba Tarlen dan Eri, lalu The Mogus karya Mul, Rinjarinja karya Dian, dan beberapa kongsi dagangan lainnya. Penjualannya sendiri, menurut Dian, biasa-biasa saja. Karena pengunjung yang datang pun tak banyak. Publikasi sepertinya kurang, dan hanya mengandalkan pengunjung mal saja. Tapi hikmah yang bisa diambil adalah, promosi lanjutan bagi  Klab Rajut. Banyak pengunjung yang tidak membeli barang, tapi tertarik menanyakan keberadaan Klab Rajut dan ingin berguru lebih lanjut ke Tobucil. Hal tersebut pastilah dirangsang oleh asesoris lucu-lucu yang dipajang di Makmur Raya. Apapun itu, marilah mengucap selamat datang bagi satu lagi kelahiran (Pra) Koperasi Makmur Raya. Mengapa disebut pra, karena secara legal, koperasi ini belum di resmikan.Semoga betul-betul bisa memakmurkan bangsa dan merayakan kebahagiaan anggota. Amin.

Google Twitter FaceBook

1.3.10

Gatot Danar Sulistiyanto, Pendekar Musik dari Yogja

 Lebih Jauh tentang Gatot Danar Sulistyanto bisa di buka di sini

Awal mula ia datang ke Tobucil, tak menyangka bahwa buah pikirannya begitu kompleks dan mendalam. Karena Gatot ini, terlihat sangat sederhana, dan pembawaannya terlalu ramah dan santun untuk seorang pemikir yang tengah mendobrak kemapanan. Setelah diskusi yang mencerahkan itu, Tobuciler sempat untuk mewawancarai Gatot barang sebentar. Sebentar, karena pria kelahiran Magelang 10 Mei 1980 itu cukup terburu-buru, ada janji rekaman tak lama kemudian.

Mas Gatot, tadinya kuliah dimana, ISI Yogya ya? Hahaha. Saya langsung nebak gitu.
Iya, saya lulusan ISI Yogya. Dulunya mengambil mayor gitar, dan minat ilmu musikologi.

Mas Gatot kan aktif sebagai komponis, coba ceritakan.
Sejak tahun tahun 2001 saya mulai aktif dalam komposisi musik. Saya juga pernah mengikuti beberapa workshop komposisi dan improvisasi antara lain dari Carlos Michan-Belanda, Workshop Musik Elektronik oleh Prof. Wilfried Jentzsch,- Hochschule fur Musik "Carl Maria von Weber" Dresden Studio fur Elektronische Musik-Austria, musik dunia oleh Kim Sanders-Australia, Musik Interkultural oleh Prof. Vincent McDermont-Amerika, Free Improvisasi oleh The Geizer-Mazzolla Duo-Switzerland, Jack Body-Selandia Baru. Saya juga pernah mengikuti studi komposisi singkat dibawah bimbingan Roderik de Man-Belanda, dalam program Mini-Composition-Project atas prakarsa Cantus Music Center & the Cultural and Development Program pemerintah Belanda.

Hmmmm. Banyak juga ya, jika demikian, siapa guru Mas Gatot yang istilahnya, lebih “tetap” ketimbang workshop-workshop tersebut?
Saya bisa dibilang tidak punya guru, jika guru diartikan secara kaku dalam konteks institusional. Bagi saya, semua orang adalah guru. Di Yogya juga sangat mendukung iklim tersebut, dalam artian, guru adalah sahabat, dan sahabat juga sekaligus guru.

Oke, menurut Mas Gatot, setelah diskusi panjang tadi, bagaimana kelihatannya iklim apresiasi musik di Bandung ini?
Menurut saya, iklim disini sangat kondusif, dan mesti terus disupport dan dikembangkan. Saya melihat bahwa komunitas-komunitas seperti KlabKlassik ini justru lebih masuk ke persoalan, ketimbang institusi atau seminar-seminar. Pembicaraan mengenai musik sebaiknya dilakukan dalam tataran semacam ini, sehingga lebih intim dan dipahami secara mendalam. Di Yogya, saya biasa melakukannya dengan dua atau tiga orang saja, asalkan konsisten.

Oke, kegiatan Mas Gatot sekarang ini apa?
Ada tiga, yang pertama, saya membuat musik alias mengomposisi. Lalu saja juga bekerja sebagai networker di Art Music Today, dan ketiga, saya bekerja sebagai tukang rekam keliling.

Maksudnya?
Maksudnya, saya membantu merekam dengan alat yang bisa saya bawa kemanapun. Jadi, saya tidak punya studio. Saya justru mendatangi orang yang ingin direkam.

Hehe menarik juga. Kembali ke persoalan, sebenarnya problem musik di Indonesia ini apa ya?
Problemnya adalah, kita bergerak seperti bola pingpong. Setelah memantul ke tanah, kadang mundur, kadang maju. Nenek moyang kita, telah mengenal musik dengan sangat baik. Contohnya gamelan, bunyinya sangat natural dan cengkoknya bisa merasuk ke batin. Ini bukti betapa musik sesungguhnya bukan lagi hal yang eksklusif di masa silam. Tapi belakangan, sejak era pasca-kolonial, musik menjadi sesuatu yang eksklusif, terlembagakan, dan milik sebagian orang saja. Mendadak ada istilah musikal dan non-musikal. Lantas kita-kita disini yang belajar musik klasik secara tekun dan serius, menganggap sedang belajar musik dalam arti sesungguhnya, yang lantas mengabaikan bahwa bunyi-bunyi lainnya juga sebetulnya musik. Itu pengaruh kolonialisme, atau secara spesifik, Barat, yang hobi mengotak-otakan. Musik sudah dekat dengan diri kita, sejak lahir.

Saya punya pertanyaan pribadi, situasi diam itu, musik bukan ya?
Coba tutup telingamu. Ada suara apa? Berdengung kan? Nah, itu bunyi tinitus, gendang telinga. Artinya, kondisi senyap adalah mustahil. Tidak ada situasi yang betul-betul tanpa bunyi, tanpa musik. Bahkan mungkin saja, musik itu adalah bunyi paling pekak, sehingga kita sulit mendengarkan.

Hehehe. Betul juga yah. Lantas, punya solusi apa kira-kira untuk menuntaskan problem musik di Indonesia?
Ya, setidaknya, meski bunyi adalah musik, dan berarti pula musik sangat dekat dengan diri, orang mesti tetap paham teori. Untuk apa? Untuk menerjemahkan problem kehidupan. Contohnya, berapa banyak kasus orang ketinggalan pesawat, karena suara yang mengumumkan kepergian pesawat tidak cukup jelas? Atau di kantor imigrasi juga misalnya. Orang seringkali ngawur dalam menempatkan sesuatu.

Baiklah, Mas Gatot, terima kasih atas waktunya, terima kasih juga telah hadir dalam diskusi tadi.
Terima kasih juga, sama-sama.
Google Twitter FaceBook

8.11.09

Dicky Caesario Sang Penulis Terpotensial dan Dunia Fantasi

mainpic Dicky Caesario adalah peserta Klab Nulis paling potensial di Angkatan V. Predikat itu membuatnya bersemangat untuk kembali mengikuti Klab Nulis Angkatan berikutnya. “Supaya lebih terasah kemampuan menulisnya,” ujar Dicky dengan wajah berseri-seri.

Berikut adalah obrolan Tobucil dan pemuda baby face yang murah senyum ini

Tobucil : Gimana, Dick, rasanya jadi penulis yang paling potensial di angkatan kemaren ?

Dicky : Deg-degan, terkejut, surprise, sungguh tak menyangka.

Tobucil : Kemaren elu nulis tentang apa, sih ?

Dicky : Cerpen tentang arkeolog, banyak konspirasi. Kata Ophan, sih, kurang membumi, tapinya katanya saya bisa menuliskan adegan-adegan dengan jelas lewat kata-kata.

Tobucil : Setelah nulis cerpen arkeolog itu, apa karya terbaru lo ?

Dicky : Belom.

Tobucil : Dari kapan elu suka nulis ?

Dicky : Dari SMP kelas dua. Waktu itu teh saya baca cerpen temen, cerpen romance gitu, sih, tapi emang cerpennya bagus. Terus saya pikir, kalo dia bisa, saya juga bisalah … Saya pertama kali nulis itu nulis drama buat tugas Bahasa Inggris. Cerita putri-putri gitu, kan bahan yang dibahas tentang fantasi.

Tobucil : Elu emang suka nulis fantasi ?

Dicky : Iyalah, namanya juga waktu itu masih leutik (kecil), dijejelinnya Harry Potter, Narnia …

Tobucil : Menurut lu, fantasi itu apa ?

Dicky : Di luar kebiasaan, jadi misalnya ada sihir, ada magic yang ngeluarin api …

Tobucil : Korek api geretan magic fantasi, dong ?

Dicky : Ya … kan bukan yang begitu. Yang misalnya “crut” ada api keluar dari tangan, gitu …

Tobucil : Hahahaha … ok, ok. Btw, apa kesan lo tentang Klab Nulis Angkatan VI ini ?

Dicky : Rame, lebih banyak kayaknya.

Tobucil : Yang ikut lagi dari angkatan sebelumnya kan elu sama Rini doang, ya, Dick ? Gimana rasanya Rini nggak dateng ?

Dicky : Gimana, ya ? Biasa aja, sih …

Tobucil : Ok. Sekarang balik lagi ke fantasi, nih. Apa pendapat lo tentang Dunia Fantasi.

Dicky : Naon (apa) ? Rame wae, meureun (ramai aja, mungkin), kalo bisa ditambah permainannya.

Tobucil : Kalo Tobucil kayak Dufan, nggak ?

Dicky : Yang angkatan kemaren (Klab Nulis angkatan V) iya, kan di Dufan banyak ketawa-ketawa. Yang kemaren itu banyak ketawa-ketawa, terutama sama Mbak Jre.

Tobucil : Kalo lu disuruh bikin Klab Nulis Angkatan VI ini jadi kayak Dufan, sama lo dibikin gimana ?

Dicky : Ya … suruh aja Ophan ngasih joke-joke garing.

Rini : (tahu-tahu muncul middle of nowhere, dari kegelapan di pekarangan Aceh 56) Eta mah lain Dufan ! (itu, sih, bukan Dufan)

Dicky : Terus ?

Tobucil : Itu, sih, Srimulat

Dicky : Ya udah, Ophan aja disuruh didandanin kayak badut Dufan.

Tobucil : Hahaha … tetep Ophan korbannya.

Ophan yang sedang menerima telpon hanya senyum-senyum saja. Sesudahnya ia duduk di sebelah Dicky, turut mengobrol dan … mulai melontarkan joke-joke garing. Tetot !

Tidak heran, ya, kalau Klab Nulis selalu ceria dan kaya inspirasi. Ketiga personilnya ini tampak mewakili …

Sundea

fotodua

fototiga

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Dicky

biodata

Google Twitter FaceBook

1.11.09

Pradipta Nugrahanto Mencari yang Susah-susah

mainpic Karena Aliansi Jurnalis Indonesia Bandung (AJIB) pernah bermarkas di Tobucil, cukup sering Tobucil disinggahi wartawan. Salah satunya Pradipta Nugrahanto. Pada suatu siang yang sepi, Dipta mampir dan membeli minuman botol. Sambil melepas dahaga, ia yang biasanya mewawancara bersedia diwawancara sebagai “Teman Tobucil”.

Simak.

Tobucil : Seneng, nggak, nyari berita ?

Dipta : Seneng, karena gua bebas nyari berita apa aja yang menurut gua menarik.

Tobucil : Terus, berita yang menurut lo menarik yang kayak gimana ?

Dipta : Yang … kata orang biasa-biasa aja, tapi kata gua menarik. Misalnya, ada acara yang musiknya, bandnya, orang-orang nggak tau. Kata gua itu lebih bagus daripada ngeliput acara-acara gede.

Tobucil : Musik kayak gimana, tuh, yang orang-orang nggak tau ?

Dipta : Harus dijelasin, nih ?

Tobucil : Ya haruslah, kan kata lo “orang-orang nggak tau”.

Dipta : Misalnya … hiphop underground. Kata orang-orang hiphop, hiphop begini nggak ada. Yang jelas ini lawannya hiphop yang blink-blink.

Tobucil : Hmmm. Lawannya hiphop yang blink-blink. Emang hiphopnya gimana, sih ?

Dipta : Ya … bikin pusing yang mendengarnya.

Tobucil : Jadi lo suka lagu yang bikin pusing ? Gimana kalo lo dengerin Kangen Band sambil muter-muter ?

Dipta : Apa itu Kangen Band ? Nggak tau.

Tobucil : Hmmm gini, deh. Kan yang lo suka musik-musik “yang bikin pusing”. Kalo yang biasanya lo nggak suka ?

Dipta : Major label.

Tobucil : Lho ? Kenapa ?

Dipta : Kenapa, ya ? Terlalu gampang nyarinya.

Tobucil : Kalo major tapi susah dicari ?

Dipta : Ya … setidaknya ada tantangannya, nggak asal comot trus dibuang lagi. Film juga gua suka yang susah dicari, yang nggak komersil.

Tobucil : Misalnya film apa ?

Dipta : Yang selalu ada di ingatan gua Bomb the System. Gua suka film ini karena nyarinya susah setengah mati. Terus ini tentang graffiti yang menunjukkan pada gua kalo hiphop nggak begitu-begitu aja. Gua respect sama orang itu.

Tobucil : Orang itu siapa ?

Dipta : Yang ngasih film ini. Adalah, anak hiphop, yang pasti penggemar film juga, tapi bukan di sini. Dia dari daerah yang tidak begitu terkenal.

Tobucil : Lu suka sama segala sesuatu yang susah dicari, ya ? Kenapa lo nggak jadi polisi aja ?

Dipta : Polisi ? Gua nggak suka sama polisi, mau bentuknya gimana juga.

Tobucil : Kan polisi kerjaannya nyari buron. Terus buron kan suka susah dicari. Nah … pas kan tuh sama interest lo.

Dipta : Apa, ya … ? Itu kan sebenernya gampang. Disusah-susahin aja supaya mempersulit diri sendiri.

Tobucil : Hehehe … baiklah. Lu seneng Yuni Shara, nggak ?

Dipta : Ha ? Kok Yuni Shara ? Apanya, nih ?

Tobucil : Lagunya, lagunya. Kan ada Hilang Permataku, tuh. Kayaknya permatanya susah dicari, lho.

Dipta : Ah, enggak, biasa-biasa aja. Gua denger di kaset nyokap dan kayaknya nyokap nggak bersusah payah mencarinya.

Tobucil : Terus hal yang menurut lo paling susah lo cari saat-saat ini ?

Dipta : Pasangan, hidup … iya pasangan hidup. Itu yang susah dicari.

Dipta lalu meminum habis minuman botolnya, bersiap mewartawan lagi. Mungkin di hari yang sepi dan tenang itu akan susah mencari berita. Namun toh Dipta suka mencari yang susah-susah.

… atau mungkin dalam perjalanan berikutnya Dipta pergi mencari pasangan hidup ? Susah ? Tapi bukankah Dipta suka mencari yang susah-susah ?

Sundea

fototiga

fotodua

 

 

 

 

 

 

Biodata Dipta

biodatadipta

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin