![]() |
| Mark, kanan berkaos coklat |
![]() |
| Mark memperagakan kamera mikronya. |
![]() |
| Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :) |
Bookmark this post: |
![]() |
| Mark, kanan berkaos coklat |
![]() |
| Mark memperagakan kamera mikronya. |
![]() |
| Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :) |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
![]() |
| Dian Mayangsari |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Dicky Caesario adalah peserta Klab Nulis paling potensial di Angkatan V. Predikat itu membuatnya bersemangat untuk kembali mengikuti Klab Nulis Angkatan berikutnya. “Supaya lebih terasah kemampuan menulisnya,” ujar Dicky dengan wajah berseri-seri.
Berikut adalah obrolan Tobucil dan pemuda baby face yang murah senyum ini
Tobucil : Gimana, Dick, rasanya jadi penulis yang paling potensial di angkatan kemaren ?
Dicky : Deg-degan, terkejut, surprise, sungguh tak menyangka.
Tobucil : Kemaren elu nulis tentang apa, sih ?
Dicky : Cerpen tentang arkeolog, banyak konspirasi. Kata Ophan, sih, kurang membumi, tapinya katanya saya bisa menuliskan adegan-adegan dengan jelas lewat kata-kata.
Tobucil : Setelah nulis cerpen arkeolog itu, apa karya terbaru lo ?
Dicky : Belom.
Tobucil : Dari kapan elu suka nulis ?
Dicky : Dari SMP kelas dua. Waktu itu teh saya baca cerpen temen, cerpen romance gitu, sih, tapi emang cerpennya bagus. Terus saya pikir, kalo dia bisa, saya juga bisalah … Saya pertama kali nulis itu nulis drama buat tugas Bahasa Inggris. Cerita putri-putri gitu, kan bahan yang dibahas tentang fantasi.
Tobucil : Elu emang suka nulis fantasi ?
Dicky : Iyalah, namanya juga waktu itu masih leutik (kecil), dijejelinnya Harry Potter, Narnia …
Tobucil : Menurut lu, fantasi itu apa ?
Dicky : Di luar kebiasaan, jadi misalnya ada sihir, ada magic yang ngeluarin api …
Tobucil : Korek api geretan magic fantasi, dong ?
Dicky : Ya … kan bukan yang begitu. Yang misalnya “crut” ada api keluar dari tangan, gitu …
Tobucil : Hahahaha … ok, ok. Btw, apa kesan lo tentang Klab Nulis Angkatan VI ini ?
Dicky : Rame, lebih banyak kayaknya.
Tobucil : Yang ikut lagi dari angkatan sebelumnya kan elu sama Rini doang, ya, Dick ? Gimana rasanya Rini nggak dateng ?
Dicky : Gimana, ya ? Biasa aja, sih …
Tobucil : Ok. Sekarang balik lagi ke fantasi, nih. Apa pendapat lo tentang Dunia Fantasi.
Dicky : Naon (apa) ? Rame wae, meureun (ramai aja, mungkin), kalo bisa ditambah permainannya.
Tobucil : Kalo Tobucil kayak Dufan, nggak ?
Dicky : Yang angkatan kemaren (Klab Nulis angkatan V) iya, kan di Dufan banyak ketawa-ketawa. Yang kemaren itu banyak ketawa-ketawa, terutama sama Mbak Jre.
Tobucil : Kalo lu disuruh bikin Klab Nulis Angkatan VI ini jadi kayak Dufan, sama lo dibikin gimana ?
Dicky : Ya … suruh aja Ophan ngasih joke-joke garing.
Rini : (tahu-tahu muncul middle of nowhere, dari kegelapan di pekarangan Aceh 56) Eta mah lain Dufan ! (itu, sih, bukan Dufan)
Dicky : Terus ?
Tobucil : Itu, sih, Srimulat
Dicky : Ya udah, Ophan aja disuruh didandanin kayak badut Dufan.
Tobucil : Hahaha … tetep Ophan korbannya.
Ophan yang sedang menerima telpon hanya senyum-senyum saja. Sesudahnya ia duduk di sebelah Dicky, turut mengobrol dan … mulai melontarkan joke-joke garing. Tetot !
Tidak heran, ya, kalau Klab Nulis selalu ceria dan kaya inspirasi. Ketiga personilnya ini tampak mewakili …
Biodata Dicky
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Karena Aliansi Jurnalis Indonesia Bandung (AJIB) pernah bermarkas di Tobucil, cukup sering Tobucil disinggahi wartawan. Salah satunya Pradipta Nugrahanto. Pada suatu siang yang sepi, Dipta mampir dan membeli minuman botol. Sambil melepas dahaga, ia yang biasanya mewawancara bersedia diwawancara sebagai “Teman Tobucil”.
Simak.
Tobucil : Seneng, nggak, nyari berita ?
Dipta : Seneng, karena gua bebas nyari berita apa aja yang menurut gua menarik.
Tobucil : Terus, berita yang menurut lo menarik yang kayak gimana ?
Dipta : Yang … kata orang biasa-biasa aja, tapi kata gua menarik. Misalnya, ada acara yang musiknya, bandnya, orang-orang nggak tau. Kata gua itu lebih bagus daripada ngeliput acara-acara gede.
Tobucil : Musik kayak gimana, tuh, yang orang-orang nggak tau ?
Dipta : Harus dijelasin, nih ?
Tobucil : Ya haruslah, kan kata lo “orang-orang nggak tau”.
Dipta : Misalnya … hiphop underground. Kata orang-orang hiphop, hiphop begini nggak ada. Yang jelas ini lawannya hiphop yang blink-blink.
Tobucil : Hmmm. Lawannya hiphop yang blink-blink. Emang hiphopnya gimana, sih ?
Dipta : Ya … bikin pusing yang mendengarnya.
Tobucil : Jadi lo suka lagu yang bikin pusing ? Gimana kalo lo dengerin Kangen Band sambil muter-muter ?
Dipta : Apa itu Kangen Band ? Nggak tau.
Tobucil : Hmmm gini, deh. Kan yang lo suka musik-musik “yang bikin pusing”. Kalo yang biasanya lo nggak suka ?
Dipta : Major label.
Tobucil : Lho ? Kenapa ?
Dipta : Kenapa, ya ? Terlalu gampang nyarinya.
Tobucil : Kalo major tapi susah dicari ?
Dipta : Ya … setidaknya ada tantangannya, nggak asal comot trus dibuang lagi. Film juga gua suka yang susah dicari, yang nggak komersil.
Tobucil : Misalnya film apa ?
Dipta : Yang selalu ada di ingatan gua Bomb the System. Gua suka film ini karena nyarinya susah setengah mati. Terus ini tentang graffiti yang menunjukkan pada gua kalo hiphop nggak begitu-begitu aja. Gua respect sama orang itu.
Tobucil : Orang itu siapa ?
Dipta : Yang ngasih film ini. Adalah, anak hiphop, yang pasti penggemar film juga, tapi bukan di sini. Dia dari daerah yang tidak begitu terkenal.
Tobucil : Lu suka sama segala sesuatu yang susah dicari, ya ? Kenapa lo nggak jadi polisi aja ?
Dipta : Polisi ? Gua nggak suka sama polisi, mau bentuknya gimana juga.
Tobucil : Kan polisi kerjaannya nyari buron. Terus buron kan suka susah dicari. Nah … pas kan tuh sama interest lo.
Dipta : Apa, ya … ? Itu kan sebenernya gampang. Disusah-susahin aja supaya mempersulit diri sendiri.
Tobucil : Hehehe … baiklah. Lu seneng Yuni Shara, nggak ?
Dipta : Ha ? Kok Yuni Shara ? Apanya, nih ?
Tobucil : Lagunya, lagunya. Kan ada Hilang Permataku, tuh. Kayaknya permatanya susah dicari, lho.
Dipta : Ah, enggak, biasa-biasa aja. Gua denger di kaset nyokap dan kayaknya nyokap nggak bersusah payah mencarinya.
Tobucil : Terus hal yang menurut lo paling susah lo cari saat-saat ini ?
Dipta : Pasangan, hidup … iya pasangan hidup. Itu yang susah dicari.
Dipta lalu meminum habis minuman botolnya, bersiap mewartawan lagi. Mungkin di hari yang sepi dan tenang itu akan susah mencari berita. Namun toh Dipta suka mencari yang susah-susah.
… atau mungkin dalam perjalanan berikutnya Dipta pergi mencari pasangan hidup ? Susah ? Tapi bukankah Dipta suka mencari yang susah-susah ?
Biodata Dipta
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |