Showing posts with label literasi. Show all posts
Showing posts with label literasi. Show all posts

22.5.15

Klab Nulis & Sastra Angkatan XVII Periode : Juni-Juli 2015 Berbahagia Karena Sastra dan Menulis

Disaat kita memutuskan menulis, apapun itu bentuknya, percaya atau tidak, kita akan terlibat pada suatu pemainan yang membingungankan, menjengkelkan, hingga mungkin tak henti-hentinya kita berdecak kagum ‘kok bisa ya begitu?weiisss bener juga tuh.Ahaa…setuju!’ Pengalaman-pengalaman seperti itu, tentunya akan benar-benar sangat terasa dibatin, barangkali akan menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi yang pertama kali menulis. Bagi segilintir orang yang lain, pengalaman seperti itu, adalah sesuatu yang dinanti-nanti saat bermain dalam permainan menulis.
Kini Klab Nulis angkatan XII akan mengambil tema Berbahagia Karena Menulis. Tema itu diambil bedasarkan pertimbangan ketika melihat banyak orang yang pusing tidak selesai-selesai tulisannya, tertawa bahagia dan berjalan dengan percaya diri, karena tulisannya selesai dan banya orang suka. Maka, kini Angkatan XII Klab Nulis ingin mengajak Anda semua, bisa tertawa dan percaya diri, berbahagia karena menulis dan bersastra ria dengan cara kontemporer.

Materi ;
Pertemuan 1 – Filsafat dan Keberpihakan Sastra Kontemporer Dalam Perspektif Baru
  • Semesta Kata : Dunia kelihatan dan yang tak kelihatan
  • Menggugah perasaan dalam karya
Pertemuan 2 – Filsafat Menulis (Penulis sekaligus juga Pelukis Cerita)
  • Membangun Nilai Fiksi Dalam Karya
  • Originilatas Karya
Pertemuan 3- Strategi Menulis Karya Kontemporer I
  • Tiga langkah bercerita yaitu baik, bagus, dan benar menurut George Sentayana
  •   Membuat grafik alur dan menilai secara jitu
Pertemuan 4-  Strategi Menulis Karya Kontemporer II
  • Teknik” muncul” pengisahan dan In Medias Res
  • Aneka logika yang mendukung penciptaan gagasan, maksud, hingga cerita 
Pertemuan 5- Dinamika Kelompok “Power Words Game”
Permainan imajinasi , rasa, dan studi literatur
Pertemuan 6- Dinamika Kelompok “Games sebelum Menulis Karya”
Undian persiapan sidang karya
Pertemuan 7- Mentoring
Setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk konsultasi perihal karya seni yang sedang dikerjakan
Pertemuan 8-Mentoring
Setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk konsultasi perihal karya seni yang sedang dikerjakan
Pertemuan 9-Sidang Karya I
Pertemuan 10- Sidang Karya II
Pertemuan 11-Sidang Karya III
Pertemuan 12-Penutupan
Pengumuman karya terbaik dan pesta sastra

Model kursus ini adalah original dan dibuat oleh Sophan Ajie bekerjasama dengan Tobucil
Untuk sahabat terbaik, kritikus, dan praktisi Klab Nulis Tobucil Paskalis Trikaritasanto 


Google Twitter FaceBook

19.7.10

Saya dan Menulis

Saya suka sekali menulis. Sejak kecil. Saya menulis sajak di diary. Tapi isinya bukan tentang cinta atau laki-laki, melainkan tentang gunung, bunga, kebun. Beranjak remaja saya masih suka menulis di diary. Isinya lebih warna-warni: tentang cowok, teman-teman, keluarga, diri sendiri.
    Kelas tiga SMA saya menulis cerpen sampai jadi satu buku. Semuanya ditulis tangan dan tidak ada yang dikirim ke media massa. Cerpen-cerpen saya cuma dibaca teman-teman.
    Saya sempat berhenti menulis sewaktu kuliah. Tapi saya menulis lagi ketika jatuh cinta pada awan. Awan putih yang kehadirannya selalu sebentar, membentuk aneka rupa seperti aktor yang bermain pantomim: lucu dan bisu. Tapi saya tidak bisa menyentuhnya. Awan terlalu jauh di angkasa. Saya di bumi.
    Maka saya menulis tentang awan. Cerpen, puisi, atau tulisan-tulisan lain yang tidak saya tahu namanya. Awan tidak tahu saya menulis tentangnya. Tidak apa-apa. Awan tidak perlu tahu.
    Dan ia memang tidak pernah tahu.
    Tapi awan selalu membuat saya ingin menulis. Saya menulis tanpa henti. Tentang awan, matahari, rumput, sandal, kursi.
    Lama-lama saya jatuh cinta pada menulis. Lalu saya berpikir, mungkin menulis itu soulmate saya. Pasangan saya bukan awan, tapi menulis. Saya ingin hidup dengan menulis. Saya yakin menulis bisa membuat saya bertahan hidup dalam kesulitan apapun.
Rie Yanti suka menulis tentang apa saja, bahkan tentang hal-hal sepele. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di  http://ceritarie.wordpress.com/
Google Twitter FaceBook

15.7.10

5 W + 1 H Print On Demand


Tanggal 8 Juli lalu, saya atas nama tobucil diundang teman-teman Dipan Senja dan Dekranasda Jawa Barat, memberikan workshop tentang Print On Demand. Pada workshop itu, saya membuat booklet kecil yang berisi materi 5 W + 1 H Print On Demand. Isi booklet tersebut saya publikasikan di blog tobucil, biar teman-teman yang tidak dapat mengikuti workshop itu, tetap bisa mendapatkan materinya. Salam hangat - Tarlen (http://designbyvitarlenology.blogspot.com). Hal-hal yang masih kurang jelas atau pertanyaan lain, silahkan kirim melalui email: vitarlenology@gmail.com


What?
Print on demand atau dalam bahasa Indonesia 'mencetak berdasarkan permintaan' adalah sebuah teknik mencetak  yang muncul dan berkembang seiring dengan muncul dan berkembangnya teknologi cetak digital. Print on demand bukan 'aliran' dalam penerbitan buku. Ia hanyalah salah satu cara dan pilihan teknik untuk menerbitkan sebuah buku.

Why
Ada beberapa alasan mengapa teknik ini kemudian dipilih sebagai cara untuk menerbitkan sebuah buku
  • Dapat mencetak dalam jumlah yang sangat terbatas. Teknik ini memungkinkan hanya menerbitkan jumlah eksemplar yang terbatas (bahkan hanya 1 eksemplar) dengan biaya produksi yang cukup murah. Secara teknis POD seperti halnya mencetak sebuah file dokumen langsung dari komputer ke printer.
  • Tidak memerlukan modal besar untuk menerbitkannya. Karena dapat dicetak dalam jumlah yang sangat terbatas, teknik ini membuat penerbitan buku tidak lagi memerlukan modal besar untuk diterbitkan.
  • Tidak memerlukan gudang penyimpan untuk stok buku.
  • Memberi peluang untuk mencetak buku dengan banyak pilihan. Karena setiap judul tidak perlu dicetak banyak, maka peluang untuk memperbanyak judul yang di cetak menjadi lebih besar.

Who?
  • Penerbit yang mengkhususkan diri pada terbitan-terbitan khusus.
  • Penulis yang sulit menembus penerbitan besar untuk menerbitkan karyanya.
  • Penulis pemula yang ingin menerbitkan bukunya tanpa banyak intervensi dari editor.
  • Orang yang ingin bereksperimen dengan medium buku, misalnya ingin menerbitkan buku sketsa miliknya, membuat buku foto jepretannya, dll.

When
  • POD ini cukup ekonomis dilakukan ketika kita hanya akan mencetak di kurang dari 500 eks terutama buku-buku yang menggunakan banyak warna.
  • Ketika hanya memiliki sedikit waktu untuk produksi.
  • Ketika berniat membuat DIY (Do It Yourself) Publishing.

Where
POD bisa dilakukan sendiri dengan bermodalkan peralatan cetak digital seperti komputer dan printer laser, atau dilakukan di tempat vendor yang biasa melakukan cetak digital atau yang memang secara khusus melayani POD.

How
Sekarang bagaimana mengerjakannya? Sekali lagi perlu diingat bahwa POD adalah salah satu dari sekian banyak teknik mencetak sebuah buku.  Untuk itu hal yang perlu dipersiapkan dengan matang adalah :
  • Tahapan Pra Produksi
Hal terberat dalam pra produksi ini adalah menyiapkan naskah yang akan diterbitkan. Jika naskah ini adalah naskahmu sendiri, urusan bagi hasil menjadi sederhana, karena pada prinsipnya kamu yang menulis, kamu yang menerbitkan dan kamu juga yang menjualnya. Kamu yagn sepenuhnya bertanggung jawab dari A sampai Znya. Banyak penulis tidak ingin tulisannya di edit oleh editor dengan alasan tidak ingin kebebasan dalam menulis di campuri oleh orang lain, padahal sebuah tulisan yang baik tetap saja sebisa mungkin terhindar dari salah ejaan dan secara logika tetap harus bisa dipertanggung jawabkan. Editor akan banyak membantu dalam hal ini, tinggal bagaimana kamu berkompromi dengan editor dalam hal ini. Jadi persiapkan naskah ini dengan matang sebelum memutuskan untuk  menerbitkannya.

  • Tahapan Produksi
Produksi ditentukan oleh keputusan kamu dimana kamu akan melakukan  produksi ini? apakah di rumahmu sendiri dengan memanfaatkan printer yang ada di rumah? atau dilakukan di vendor cetak digital?

Jika dilakukan di rumah/olehmu sendiri hal yang harus kamu perhatikan:
  • Printer laser black and white adalah hal yang wajib kamu miliki untuk mencetak isi buku yang akan kamu terbitkan. Mengapa printer laser? karena hasilnya lebih tahan air/tidak akan luntur dan tulisan yang dicetaknya lebih tajam.
  • Perhatikan ukuran maksimal kertas yang bisa digunakan oleh printer lasermu. Mengapa ukuran kertas ini menjadi penting? karena berhubungan dengan efisiensi penggunaan bahan dan desain yang memudahkan urusan teknis dalam tahapan produksi.
  • Untuk desain kamu bisa menggunakan software desain: seperti corel draw, adobe illustrator, terserah mana yang nyaman buat kamu gunakan yang terpenting, software ini cukup compatible dengan printer yang kamu gunakan.
  • Kamu perlu mengenal jenis kertas untuk isi dan juga cover. Tidak ada keharusan memakai jenis kertas tertentu hanya yang penting dipertimbangkan adalah jenis kertas yang digunakan (terutama untuk isi) tidak mengganggu kenyamanan mata dalam membacanya. Kecuali kamu memang berniat membuat buku eksperimental, bukan hanya dari isi tapi juga dari bahan yang digunakan untuk buku tersebut.
  • Untuk mencetak cover kamu bisa menggunakan printer ink jet warna, tapi kelemahannya warna akan mudah luntur dan pudar. Jika menggunakan printer ini, kamu perlu melakukan tahapan lain yaitu melaminasi covernya.  Lebih baik jika kamu mencetak covernya dengan menggunakan printer laser color (kamu bisa mencetaknya di tempat cetak digital), menyablonnya atau melakukannya dengan teknik stensil art. Kelebihan dari POD yang dikerjakan sendiri adalah, kamu bisa bebas berkreasi. Jika kamu mencetak 50 eks buku, tidak harus 50 eks itu covernya sama semua, Kamu bisa membuat 50 cover yang berbeda.
  • Untuk menjilidnya, kamu bisa menggunakan staples biasa, simple book binding atau block lem, tergantung dari ketebalan buku yang akan kamu buat.

Jika dilakukan oleh vendor cetak digital yang perlu diperhatikan adalah format file yang menjadi standar mereka. Selebihnya vendorlah yang akan melakukan produksi sampai menjadi buku.

  • Distribusi dan Pemasaran
Hal yang paling membedakan antara POD dengan teknik penerbitan buku melalui penerbit adalah proses distribusi dan pemasaran. Jika melalui penerbit, penulis tidak perlu bersusah payah menjual bukunya, dengan teknik POD, penulis adalah produsen sekaligus penjual juga. Teknik distribusi dan pemasaran buku dengan teknik POD ini adalah direct selling. Kamu bisa memanfaatkan jejaring sosial di internet untuk memasarkan bukumu. Selain itu, karena buku ini diproduksi sesuai permintaan, semakin rajin kamu mempromosikan bukumu, semakin besar peluang permintaan dari calon pembeli.

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam teknik direct selling:

  • Jika kamu menggunakan internet sebagai media pemasaran, maka kamu perlu menyiapkan perlengkapan untuk melakukan mekanisme penjualan online. Kamu memerlukan internet banking, kurir yang bisa diandalkan dengan jangkauan yang luas dan, nomer kontak dan email untuk berkomunikasi dengan konsumen. Hal terpenting adalah kepercayaan. Penjualan online membutuhkan kepercayaan lebih besar karena  pembeli membayar terlebih dahulu barang yang akan dia beli, setelah itu baru penjual mengirimkan barangnya. Pelayanan yang mengecewakan akan menjadi rekomendasi buruk bagi masa depan direct selling yang kamu bangun, karena konsumen yang kecewa dapat menyebarkan kekecewaannya dengan cepat secara online. Maka berhati-hatilah menjaga kepercayaan konsumen.
  • Gunakan teknik promosi online yang cerdas. Jangan menjadi spammer di internet, karena dengan mudah email kamu akan di block dan dilaporkan sebagai spammer
  • Untuk itu, kenalilah target market kamu. Siapa sasaran yang menurut kamu perlu untuk mengapresiasi karyamu. Semakin jelas semakin baik. Karena dari awal penerbitan dengan teknik ini cocok untuk buku-buku yang spesifik, maka target marketnya juga menjadi spesifik pula.
Menghitung harga jual:
Menghitung harga jual seringkali menjadi hal yang membingungkan bagi banyak orang. Ada rumus sederhana yang bisa diterapkan: 
biaya produksi + biaya promosi + ongkos direct selling + keuntungan = harga jual

biaya produksi adalah biaya yang diperlukan untuk memproduksi setiap eksemplar buku yang kamu cetak. Kamu bisa menghitung biaya cetak perlembar, biaya print cover, jilid, finishing, untuk menentukan biaya produksi.
biaya promosi adalah biaya yang kamu butuhkan untuk promosi, Misalnya biaya pulsa atau internet, cetak brosur atau material lain yang kamu perlukan untuk promosi. Jika sulit menghitung secara pasti, kamu bisa mengalokasikan dalam jumlah tertentu, sehingga mudah menghitungnya.
ongkos direct selling adalah biaya yang dibutuhkan untuk layanan direct selling ini. Misalnya biaya kemasan yang kamu butuhkan untuk mengirimkan setiap eksemplar buku yang kamu kirimkan. Ongkos kirim biasanya tidak termasuk dalam harga jual. Jadi harga jual tidak termasuk ongkos kirim.  Untuk itu kamu juga perlu memiliki daftar tarif ongkos kirim ke seluruh daerah tujuan dari jasa kurir yang kamu gunakan.
keuntungan adalah berapa banyak keuntungan yang akan kamu ambil dari setiap eksemplar bukunya. Jika kamu mengerjakan A sampai Z, kamu pantas mengehargai dirimu sendiri.
harga jual adalah harga yang merupakan akumulasi dari seluruh biaya-biaya yang kamu butuhkan dan keuntungan dari setiap eksemplar buku yang kamu produksi. Kamu bisa melakukan survey kecil untuk mengetahui apakah harga yang kamu patok cukup masuk akal atau tidak, yang penting tidak merugikan kamu tapi juga masuk akal untuk calon pembeli.


Catatan: variebel biaya tambahan lain selain rumus di atas (misalnya konsinyasi kepada outlet-outlet yang membantu menjual) bisa ditambahkan untuk menghasilkan perhitungan harga jual.

Selamat menerbitkan bukumu sendiri :)
Google Twitter FaceBook

24.5.10

Do The Greenvolution: Mengenal Species Langka Indonesia part 2

Owa Jawa (Hylobates moloch)
Beberapa suara mendefinisikan dan mewakili ekosistemnya. Auman singa dan terompet gajah menjadi penanda ekosistem savana Afrika. Nyanyian kera dan monyet menjadi suara hutan di Brazil. Maka, seharusnya hutan di negara kita juga mampu "bersuara".

Jawa di masa lampau tak kalah dengan hutan Amazon. "Suara" hutan diwakili oleh lengkingan keras primata, owa Jawa (Hylobates moloch). Owa Jawa merupakan satu dari bagian keluarga Gibbon yang ada di Indonesia, dan mempunyai bulu berwarna biru keperakan.

Lengkingan itu merupakan penanda teritorial. Owa adalah makhluk sosial, seperti halnya rata-rata keluarga primata, yang mempunyai teritori khusus. Bila ada yang menerobos, maka owa akan mengeluarkan suara lengkingan untuk mengusir si pengganggu. Jadi bisa kita bayangkan betapa bisingnya hutan-hutan di Jawa pada masa lampau. Seperti gambaran atmosfer hutan-hutan liar yang ada di film, meriah dengan suara-suara alam.

Sayangnya, itu hanya bisa dibayangkan dalam lamunan nostalgik. Untuk membayangkan hutan di Jawa sekalipun sudah susah. Rapatnya permukiman manusia, atau lahan pertanian dan ladang yang meluas membuat habitat owa Jawa makin terdesak. Itu adalah ancaman paling nyata bagi binatang yang sensitif terhadap teritori mereka. Owa tidak dapat dipaksa hidup dalam habitat yang menyempit. Maka, resikonya adalah berkurangnya populasi owa di pulau Jawa secara drastis. Keberadaan mereka tinggal di hutan-hutan lindung yang berada di pucuk pegunungan. Itu juga masih menghadapi bahaya besar kedua, yakni seringnya binatang ini ditangkap untuk dijadikan peliharaan.

Owa adalah binatang liar yang memberi warna terhadap habitatnya, sebagai salah satu suara alam yang dominan. Teriakan owa kini hampir tidak akan terdengar lagi di alam liar Jawa, menyusul jumlah yang makin menyusut serta ketakutan ekstrim mereka terhadap manusia. Hutan di Jawa kini seperti hutan bisu. Tak punya suara dan kuasa.


 Kantung semar papua (Nephentes paniculata)

El Pirata Cofresi, si Bajak Laut asal Puerto Rico di era 1800-an, mencekoki awak kapalnya dengan campuran rum keras, santan kelapa, dan sari nanas sebelum terjun kedalam pertempuran. Pina Colada, koktail nikmat yang mengirim mereka semua dalam kematian yang manis...

Di belahan dunia lain, dalam dekapan hutan hujan tropis Papua yang lembab, di ketinggian 1.400-an m dpl, hiduplah Nepenthes paniculata, si Kantung semar Papua. Pina Colada dalam bentuk tanaman merambat raksasa dengan panjang batang hingga 20 m. Tanaman karnivora yang memangsa serangga hingga anak kodok, setelah sebelumnya menjerat mereka dengan wangi getah dan warna bibir kantung yang menggairahkan.

Namun semua pesona itu tak banyak gunanya bagi kelangsungan hidup si Kantung. Perluasan area tambang dan perkebunan di Papua yang seolah tidak berujung, dengan cepat melempar mereka ke peringkat Endangered dalam The IUCN Red List of Threatened Species, tiga langkah dari pinggir jurang kepunahan.

Maka, selain koteka, patung dan tarian Asmat, serta keserakahan Freeport yang tak tertanggungkan, tambahkanlah si Kantung semar ketika kita mengingat Papua. Bayangkanlah betapa ia bersusah payah memerangkap mangsanya dengan segala pesona, sementara puluhan ton roda truk perkebunan dan pertambangan berderap mendekat dengan cepat. Segera menggilas dan mengirimnya ke kematian yang sama sekali tidak manis.

Beberapa minggu ke depan, rubrik literasi berisi sepuluh hewan dan tanamanan langka Indonesia yang terancam punah. Kampanye ini di gagas oleh para penggemar Pearl Jam di Indonesia yang tergabung dalam Pearl Jam Indonesia.  http://pearljamindonesia.blogspot.com/
Google Twitter FaceBook

17.5.10

Do The Greenvolution: Mengenal Species Langka Indonesia part 1

Tarsius sangirensis: Madagaskar dikenal dunia karena mempunyai spesies primata unik dalam wujud lemur. Madagaskar adalah pulau yang terisolir sehingga mempunyai beberapa spesies unik (endemik) yang tak didapati di belahan bumi lain. Alfred Russel Wallace juga pernah mengindikasikan teritori mirip dengan Madagaskar, den...gan paradoksnya mengenai fauna zona peralihan, di region yang kini kita kenal dengan nama Sulawesi. Membentang dari selatan sampai ke Filipina. Seperti halnya Madagskar dengan lemurnya, zona peralihan tersebut juga mempunyai ikon primata dalam wujud tarsius. Ragam tarsius juga membentang dari selatan ke utara. Mereka tidak hidup di kontinen besar, namun hanya menghuni pulau-pulau kecil di sepanjang region ini. Tarsius Sulawesi adalah salah satu yang mempunyai kembangan spesies terbesar. Termasuk di antaranya berada di ujung utara negeri kita, tarsius Sangihe (Tarsius sangirensis).

Tarsius adalah primata yang mirip dengan hybrid monyet dan koala. Kepalanya berbentuk bulat, mata besar, dengan jari-jari yang panjang, mengingatkan kita pada ilustrasi alien. Mereka merambat di antara dahan pohon dengan cengkeraman jari tangan dan kakinya. Binatang nokturnal (aktif kala malam) pemakan serangga dan binatang kecil ini mempunyai dimensi badan kecil. Hanya berkisar antara 10-15 sentimeter, dengan panjang ekor mencapai 25 senti. Diet mereka membuat tarsius satu-satunya spesies primata yang karnivora.

Keberadaan tarsius, sayangnya, sangat kritis di alam liar. IUCN melabeli Tarsius secara umum dengan "Critically Endangered" yang hanya selangkah menuju punah di alam liar. Status satwa di zona khusus membuat mereka tak mampu beradaptasi hidup di habitat lain. Ancaman kepunahan ini tentu amat disayangkan mengingat keunikan tarsius potensial "dijual" sebagai primata khas negara kita, selain orangutan. Tak kalah dengan Madagaskar.

Teks: Hilman TaofaniDavro

 Chelonia mydas, si penyu hijau

Orang Bali gemar menari. Orang Papua pintar memahat patung bermotif hewan. Orang Jawa? Ada dimana-mana! Lalu apa kesamaan ketiganya? Chelonia mydas, Penyu hijau!

Yap! Di sepanjang garis pantai ketiga pulau itu, juga di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, berenanglah dia, si Penyu hijau. Menghanyutkan cangkang lebarnya dalam “gyre”, lorong-lorong arus bawah permukaan rahasia yang menghubungkan seluruh samudera di dunia. Mengembara sepanjang hidupnya, mengarungi perairan tropis yang hangat dan penuh warna, hingga dingin dan kejamnya perairan sub-tropis yang kelabu.

Jika si Mydas hijau ini berkeliaran di seluruh dunia, kenapa kita mesti khawatir? Sederhana saja: karena dalam lima generasi terakhir, jumlah Penyu hijau betina yang bersarang di pantai berkurang sebanyak 67%! Bahkan kini mereka sudah resmi dinyatakan hilang dari perairan Israel.

Bagian paling menyedihkan dari kisah Penyu hijau adalah bahwa kitalah, manusia, yang menjadi ancaman utama mereka. Konsumsi telur penyu, yang digadang-gadang sebagai obat kuat, mendesak mereka ke jurang kepunahan.

The IUCN Red List of Threatened Species, dengan mempertimbangkan penurunan populasi yang sangat cepat, menempatkan si Hijau dalam kategori Endangered, tiga langkah sebelum kepunahan total.

Jadi ingatlah Mydas si hijau setiap kali kita menyantap telur mata sapi, telur orak-arik, atau telur dadar pada saat sarapan. Berjanjilah bahwa kita akan membiarkan penyu-penyu hijau kecil itu nyaman berenang dalam “gyre”, alih-alih dalam lautan asam lambung kita yang berbau busuk!

Teks: Eko Prabowo
Art: Davro

Beberapa minggu ke depan, rubrik literasi berisi sepuluh hewan langka Indonesia yang terancam punah. Kampanye ini di gagas oleh para penggemar Pearl Jam di Indonesia yang tergabung dalam Pearl Jam Indonesia.  http://pearljamindonesia.blogspot.com/
Google Twitter FaceBook

19.4.10

25 Contoh Hal yang Dapat Dilakukan Selama Pekan Digital Detox

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

Menjelang pekan Digital Detox, saya menemukan di website ini, beberapa contoh hal yang dilakukan selama tidak berinteraksi dengan jaringan sosial di internet. Contoh kegiatan tersebut cukup jenaka, tapi hmmm boleh juga dilakukan, biarpun contoh-contoh ini ada beberapa yang relevan dilakukan jika di Barat sana. Berikut 25 contoh kegiatan yang bisa dilakukan:
1. Menyewa sepeda, sepatu roda, atau perahu.
2. Pergi ke pub dan memesan minuman yang belum pernah kau pesan sebelumnya.
3. Mengecat tembok rumahmu dengan warna yang lain.
4. Beli CD artis favoritmu.
5. Membeli bumbu masak yang unik, dan buatlah masakan baru dengannya. (contoh: Wasabi).
6. Bertaruh lima dolar di tempat judi terdekat.
7. Membeli majalah porno, terutama untuk kamu yang jarang membelinya.
8. Makan makanan sea-food yang tidak biasa.
9. Menggambar peta, boleh peta buatan atau nyata.
10. Ke toko kerajinan dan membuat sesuatu darinya.
11. Bermain detektif-detektifan.
12. Pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku klasik.
13. Piknik dan mengajak tetanggamu, terutama yang belum kenal sebelumnya.
14. Tulis lagu dan buatlah semacam band.
15. Buatlah rumah pohon.
16. Tanam tumbuhan di pekarangan.
17. Buatlah laptopmu sendiri.
18. Pergi ke kota yang agak jauh dan jarang kau singgahi, berhentilah dan minum-minum di pub setempat.
19. Membuat roti.
20. Menjadi turis di kota sendiri.
21. Memakai topi sepanjang hari.
22. Jalan-jalan keluar dan dengarkanlah berbagai bebunyian. Catat bunyi-bunyian yang belum pernah kau dengar sebelumnya.
23. Pergi naik kereta secara acak, tanpa peduli tujuan.
24. Membuat selai dari buah-buahan.
25. Pergi ke forum diskusi dan bacakan puisi buatanmu.

Patut dicoba, intinya, banyak yang bisa dilakukan selain internetan, kan?


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

12.4.10

Tiga Tahapan untuk Memaksimalkan Digital Detox-mu

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

Diterjemahkan dan dikembangkan dari sini

Menjelang Minggu Digital Detox yang sudah semakin dekat, situs adbusters.org menyuguhkan tiga tips singkat mengenai bagaimana menyikapi minggu tersebut, agar lebih bermakna dan efektif bagi partisipator. Artinya, minggu tersebut jangan sampai dirayakan seperti histeria massa semata, melainkan punya daya reflektif yang kuat dan menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik setelahnya, berikut tahapan-tahapan tersebut:

1. Lakukan Momen Keheningan

Pada saat bangun tidur untuk pertama kalinya di hari pertama Minggu Digital Detox, lakukanlah secara lebih perlahan dan lambat. Dalam artian, buat dirimu menyadari apa yang kau lakukan, dan jangan langsung bergerak seolah-olah dirimu adalah robot yang bergerak sesuai tuntutan mekanis. Sempatkan waktu untuk merenung sejenak dan sangat disarankan dalam suasana hening. Jika kau melakukan Digital Detox, pastilah kau adalah orang yang rajin berinteraksi dengan komputer. Perlu diingat bahwa Digital Detox sama sekali tidak melarang untuk melakukan koneksi dengan internet, melainkan menjauhkannya dari jaringan sosial untuk sementara serta games online. Nah, sebelum menyalakan komputer, ada baiknya merenungkan selama 60 detik di depan layarmu yang belum nyala dan masih berwarna hitam. Lihatlah wajahmu disitu, dan renungkan hubungannya dengan layar di depan. Adakah hubungan kalian begitu erat? Atau sebatas dua benda yang satu mati yang satu hidup? Jika demikian, kenapa kau mau menghabiskan waktu di depannya ketimbang dengan orang-orang di dunia nyata?

2. Perlambat

Dalam situs dipertontonkan semacam animasi satu menit, tentang bagaimana rutinitas orang kota itu pada umumnya. Mereka menghabiskan waktu untuk kerja, perjalanan menuju kantor, dan berkomunikasi via telepon atau internet. Sedangkan waktu untuk bercengkrama dengan keluarga, kekasih, atau binatang piaraan, hanya beberapa menit saja. Maksud perlambat disini adalah: perlambat tempo hidupmu, jangan biarkan rutinitas memenjarakan keinginanmu untuk memperkaya batin. Jadi, dihimbau untuk lebih banyak tersenyum dengan orang sekitar, menyapanya, dan mengobrol akrab dengan teman-teman. Adapun luangkan waktu lebih banyak dengan keluarga, pacar, atau binatang piaraan. Hal tersebut akan mencegah alienasi dari rutinitas yang membenamkan kesadaran.

3. Sambungkan Kembali Dirimu dengan Realitas

Gunakan seminggu tersebut untuk berkumpul dengan teman-teman lama. Buatlah acara pertemuan yang menyenangkan seperti hiking atau makan bersama. Buatlah pertemuan tatap muka kembali menjadi utama alih-alih via Facebook atau Twitter. Nikmatilah senyum, sedih, senang, susah, dan ekspresi-eskpresi yang langsung ditampakkan padamu. Karena dalam jaringan sosial, apa yang ditampilkan seringkali tidak alami dan tidak sesuai keadaan yang sebenarnya. Pun pesan emosionalnya seringkali tidak sampai. Buatlah dirimu menjadi manusiawi kembali dalam upaya mengembalikan diri dengan realitas ini.

Selamat Mencoba!



Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

5.4.10

Enam Hal yang Buruk mengenai Internet

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

Tulisan ini merupakan karya Lindsay Clanfield yang diterjemahkan dari sini.

Internet dapat menjadi sebuah tempat buruk yang besar. Belakangan saya menemukan beberapa peringatan mengenai penggunaan situs dan komputer, beberapa sudah ada yang saya tahu sebelumnya, dan ada juga yang belum. Saya sudah mengumpulkan enam hal menakutkan di sini yang merupakan bagian dari diskusi online dan aktivitas komputer atau hanya secara umum melayani sebagai peningkatan kesadaran membaca bagi guru dan pengajar ke lingkungan virtual.


1 . Api perang dan pembicaraan yang menampar – Dalam hal ini, internet adalah sarana untuk saling memaki dan mengobarkan peperangan. Mengapa? Karena dalam internet, dapat diucapkan banyak hal yang sulit dilakukan dalam komunikasi tatap muka.

2 Gangguan ketagihan internet – Ada semacam ketidaksetujuan apakah ini gangguan yang berbeda atau justru semacam gejala atas gangguan-gangguan tersebut (seperti berjudi atau ketagihan pornografi yang online). Terlepas dari kenyataan – keinginan untuk online tiap saat – gejala-gejala ini mencakup kelelahan, kurang tidur, mudah marah, acuh, pikiran yang berpacu.. uh oh ini mendekati kenyamanan di mana saya akan berhenti.

3. Creepy Treehouse Syndrome - Sindrom ini cukup unik dan baru terlihat belakangan. Yakni bagaimana seseorang selalu mengajak satu sama lain untuk menjadi pengikutnya dalam twitter atau temannya dalam Facebook. Seolah-olah yang demikian adalah bukti keeratan sosial yang nyata. Sekaligus bukti eksistensi sosial yang kuat. Orang sudah jarang lagi bertanya nomor telepon setelah berkenalan, tapi langsung bertanya soal kepemilikan akun FB atau twitter. Karena setelah menjadi teman di dunia maya, banyak hal yang seolah bisa diketahui, padahal belum tentu (lihat nomor 6 di bawah).

4. Pengganggu - Pengganggu dalam internet dikategorikan sebagai orang-orang yang memosting kata-kata atau kalimat yang provokatif dan irelevan dengan konteks atau topik pembicaraan. Motivasi mereka seringkali memang bertujuan untuk memancing respon yang emosional. Jika kita menanggapi orang semacam ini, justru sama dengan memberikan mereka apa yang mereka mau.

5 Depresi akan facebook – Yang satu ini sedikit lemah, tetapi saya harus memasukkan ini demi poin nomor enam. Menurut penelitian tentang remaja wanita di New York, kemampuan untuk berbagi masalah dan urusan pribadi banyak diselesaikan melalui jalur online semisal Facebook. Dengan menebar status, chatting, atau melampiaskannya pada grup, orang akan merasa masalahnya sedikit teratasi. Meski demikian, ini tentu tidak bisa disamakan dengan penyelesaian problematika secara tatap muka.

6. Narsisme dan web 2.0 - Jean Twenge dan Keith Campbell, penulis buku The Narcisissism Epidemic, menyebut web 2.0 sebagai stimulus kebudayaan narsis. Mereka mengatakan bahwa situs jaringan sosial membentuk seseorang menjadi bukan dirinya, melainkan seseorang yang "lebih baik", "lebih terhormat", dan "lebih atraktif". Argumen lainnya, internet juga membentuk semacam deskripsi diri yang terlalu dibuat-buat, misalnya dengan berhati-hati memilih foto yang dicantumkan, status yang akan diupdate, serta komentar pada pengguna lainnya.

Jadi, mari pertanyakan kembali, apakah internet ini sebuah kemajuan teknologi, atau justru degradasi kemanusiaan?
Google Twitter FaceBook

29.3.10

Menghabiskan 8 Jam Sehari di Depan Layar: Sebuah Penelitian

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.


Di dunia dengan toko grosir yang dipenuhi oleh layar televisi, kumpulan film yang disebarkan secara digital, dan video klip di telepon genggam, bangsa Amerika rata-rata dijejali dengan 61 menit iklan dan promosi per hari.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa angka tersebut berlebihan. Tapi tampaknya mereka tetap tidak sadar dan menghindarinya, ungkap Jack Wakshlag, kepala kantor penelitian di Turner Broadcasting.
Faktanya, orang dewasa diekspos oleh berbagai layar, baik itu televisi, telepon genggam, bahkan perangkat G.P.S, untuk sekitar 8.5 jam tiap harinya, menurut penelitian oleh Council for Research Excellence pada hari Kamis. Penelitian menemukan bahwa televisi tetap sebagai media yang dominan untuk konsumsi media dan periklanan. Data menunjukkan bahwa penggunaan komputer telah menggantikan radio sebagai aktivitas media kedua yang paling sering.
Dewan ini didirikan oleh Nielsen Company tetapi memiliki komisi independen. Penelitian berbiaya 3.5 juta dolar ini dibiayai oleh Nielsen, mencari, sebagian, untuk menentukan jikalau perusahaan-perusahaan media perlu menunjukkan format baru untuk pengukuran media.
Para peneliti di Ball State University’s Center untuk media desain, yang menyelenggarakan penelitian untuk dewan, mengatakan bahwa ini adalah observasi penggunaan media terbesar yang pernah dilakukan. Alih-alih terpusat pada apa yang orang-orang tonton, para peneliti memusatkan pada kegiatan nyata yang dilakukan oleh penonton dengan mengamati 350 subyek. Para peneliti ini mengatakan bahwa mereka merekam sikap para subyek selama 952 hari. Sebagai cararan, Orang-orang di bawah 18 tahun tidak termasuk dalam penelitian ini.
Hasil penelitian video konsumen dapat memikat para klien periklanan untuk musim penjualan iklan mendatang. Para peneliti menemukan bahwa menit-menit yang dihabiskan dengan media hampir sama untuk semua golongan usia. Mr. Wakshlag menyebut jumlah waktu “secara mencengangkan konsisten di semua kelompok usia.” Kecuali, bahwa untuk usia 45 – 54 tahun, yang menghabiskan rata-rata satu jam ekstra di depan layar setiap harinya, seperti yang ditemukan dalam penelitian.
“Hal ini bertentangan dengan kebijaksanaan yang umum, tentu saja, yang menyatakan pada kita bahwa kelompok yang lebih muda menghabiskan waktu lebih banyak dengan media berbasis layar,” ujar Michael Bloxham, direktur di pusat Ball State.
Di antara kejutan-kejutan lain, para peneliti menemukan bahwa bukan hanya kaum muda yang membagi perhatian mereka di antara bermacam layar dan mesin; mereka yang berusia di sekitar 20, 30, dan awal 50 tahun pada dasarnya melakukan beberapa hal pada jumlah waktu yang sama. Mereka yang berusia di atas 55 tahun secara jelas ditemukan tidak suka melakukan beberapa hal sekaligus. “Itulah perbedaan generasi yang ada, jika memang ada,” ujar Mr. Bloxham.
Walaupun para peneliti menekankan bahwa penelitian ini tidak disiapkan untuk membuktikan poin spesifik apapun tentang konsumsi media, banyak sekali data yang sesungguhnya cukup menghibur untuk industri pertelivisian, ujat Mr. Wakshlag. Data tersebut menegaskan kembali banyak hal yang telah Nielsen temukan di penelitian yang lalu, yaitu bahwa televisi tertinggal jauh di tengah-tengah dominasi tayangan video. Penelitian Ball State menemukan bahwa rata-rata orang dewasa Amerika dijejali 5 jam dan 9 menit siaran televisi setiap hari, hampir 15 menit via perangkat DVR dan 2.4 menit tayangan video di komputer.
“Walaupun orang-orang memiliki kesempatan untuk menonton video di komputer dan telepon selular mereka, televisi mempertanggungjawabkan 99 persen dari video yang ditonton selama 2008,” kata Mr. Bloxham. “Bahkan 98 persen di antara usia 18 hingga 24 tahun.”
Di antara penonton yang lebih muda, ada indikator utama yang membuat jaringan internet mempengaruhi penggunaan media. Data menunjukkan bahwa yang berusia 18 hingga 24 tahun – biasanya siswa-siswa dan para pendatang baru di dunia kerja – menonton televisi paling sedikit disbanding kelompok usia lain (tiga setengah jam per hari), menghabiskan lebih banyak waktu mereka dengan saling mengirim pesan dengan teks (29 menit per hari) dan menonton video online (5.5 menit per hari).
Penonton yang sedikit dewasa, usia 25 hingga 34 tahun, menghabiskan sebagian besar waktu mereka menonton video DVD atau VCR. Mereka yang berusia 35 sampai 44 tahun menghabiskan waktu mereka di jaringan internet dibandingkan kelompok usia yang lain, 74 menit rata-rata per harinya. Demografi selanjutnya, usia 45 hingga 54 tahun menghabiskan lebih banyak waktu pada e-mail. Konsumen di atas usia 65 tahun yang paling banyak menonton televisi, menurut penelitian ini.
Para peneliti menemukan bahwa televisi dan video game lebih banyak menarik perhatian, sementara aktivitas lain (seperti mendengarkan musik) sering mereka lakukan sambil melakukan hal lain.
Lebih dari 30 persen rumah tangga memiliki digital video recorder, yang memungkinkan mereka untuk membagi waktu nonton dan mempercepat iklan. Penelitian menemukan bahwa rata-rata orang Amerika menonton televisi selama hampir 15 menit menggunakan DVR tiap harinya.
Mr. Wakshlag mengatakan bahwa para pemilik baru DVR “menggunakannya untuk pembagian waktu menonton yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang sudah lama memilikinya.” Mr. Bloxham mencatat bahwa lebih banyak orang menerima DVR sebagai bagian dari layanan peningkatan mutu oleh perusahaan tv kabel, daripada membeli sendiri.
Sementara penelitian menemukan rating yang pada umumnya sejajar dengan rating yang Nielsen dan perusahaan lain laporkan tiap hari dan bulannya, para peneliti menemukan bahwa orang-orang merasa bahwa mereka lebih jarang menonton televisi daripada kenyataannya.
Saat subyek penelitian diminta untuk mengingat kebiasaan mereka, “mereka menganggap remeh waktu yang banyak mereka habiskan di depan televisi,” sekitar rata-rata 25 persen, ujar Mr. Wakshlag. Mereka juga cenderung melebihkan penggunaan media mereka.

Sumber diterjemahkan dari sini
Google Twitter FaceBook

22.3.10

The Existence Doesn’t Mean You’re Exist

 Gambar diambil dari sini

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-temanke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

 Awalnya

Saya mengenal internet kurang lebih sudah satu dekade ini. Bermula dari rasa penasaran khas anak-anak SMP yang merasa aneh dengan banyak bermunculannya sesuatu yang bernama “warnet” alias warung internet. Padahal biasanya istilah warnet itu sering kami pakai untuk kedai pinggir jalan tempat makan indomi dan kornet. Saya merasa (waktu itu) harus mengenal internet dan segala kegunaannya. Kebetulan, Bapak saya sering cerita tentang fungsi-fungsi email. Saya merasa tertantang untuk sekedar tahu agar di millennium yang baru ini tidak semakin ketinggalan. Karena sering tidak punya uang saya masih harus menahan rasa ingin tahu.

Dimulai dari Kesenangan yang bukan Hobi

Ternyata tidak salah kalau ada orang bilang, banyak jalan menuju Roma. Seorang sahabat yang duluan punya komputer di rumahnya sering mengajak saya untuk ‘ngewarnet’. Saya rasa inilah titik dimana saya menjadi paham dan tahu bagaimana cara menggunakan internet bahkan sebelum saya begitu menguasai komputer. Hanya dengan mengamatinya dan menghafalkan beberapa perintah di browser, saya mulai merasa percaya diri untuk ngewarnet sendirian. Dan karena sering mengeksplorasi internet sendirian, tanpa teman bertanya dan waktu yang singkat (dulu saya hanya mampu sewa satu jam tiap online) maka saya menjadi lebih paham dan tahu seluk beluk praktis internet. Rasanya bangga sekali waktu bisa pamer unjuk kebolehan ngewarnet rame-rame (6 orang satu komputer) sekedar mencari kord gitar Oasis, “Don’t Look Back in Anger”, lalu “Jaded’-nya Aerosmith, sampai (maaf) buka website porno.

Alasan lainnya yang membuat saya merasa harus kenal internet adalah karena kesenangan. Waktu itu, zamannya saya dan sahabat saya itu menyenangi balap mobil Formula 1. Entah mengapa ada yang menarik dari lengkungan moncong mobil Ferrari atau chimney diatas sidepod McLaren-nya Hakkinen. Sebulan sekali saya pasti baca majalah F1 Racing. Kami berdua seakan jadi orang yang benar-benar tahu bagaimana persaingan Schumacher dan Mika Hakkinen yang mati-matian mempertahankan title juara dunianya. Lalu kenapa Juan Pablo yang Montoya bisa lebih cepat dari Ralph Schumacher. Hingga kenapa ada minuman yang dinamakan Tuaca Schumachersmackers. Kami tahu semua itu karena kami membacanya.

Dari sekedar membaca itulah akhirnya kami menjadi benar-benar kecanduan dan mad about F1. Foto-foto mobil F1 di majalah rasanya kurang cukup untuk memberikan kami perasaan senang dan bahagia. Kebetulan, di internet juga banyak sekali situs yang menyediakan foto-foto yang dapat didownload dengan resolusi tinggi dan yang penting: GRATIS. Entah karena beberapa situs mulai sadar akan pentingnya hak cipta maka mereka tidak lagi menggratiskannya. Kemudian, hampir seluruh situs langganan kami tidak lagi jadi situs gratisan. Minimal, kami harus punya uang 1 dolar amerika untuk sekedar foto mobil McLaren terbaru.

Saya merasa ada semacam perasaan ketergantungan ketika saya tidak bisa lagi mengunduh foto-foto mobil F1 secara gratis. Rasanya memang tidak menyenangkan ketika saya hanya bisa melihat previewnya saja. Ada juga semacam perasaan kehilangan karena pernah punya sesuatu yang berharga tapi harus melupakannya. Perlahan, saya bisa melupakan semua itu karena saya sudah mulai lumayan bosan dengan F1 ketika kesempurnaan seorang manusia bernama M (bukan Muhammad) Schumacher menjadi harga mati bagi F1. Dan semua itu membosankan. Sama membosankannya dengan duduk berjam-jam sambil membaca buku pelajaran Sejarah.

Seiring berjalannya waktu, saya mencari kesenangan baru. Saya kembali pada kesenangan saya yang dulu: Sepakbola. Sebenarnya, F1 dan sepakbola tidaklah jauh berbeda. Keduanya, menggunakan kecepatan, taktik, dan strategi untuk mencapai kemenangan. Namun, teknologi yang digunakan di F1 seakan membuat unsur sport F1 perlahan-lahan menghilang. Berbeda dengan sepakbola yang masih lekat dengan kesederhanaannya. 22 pemain. 3 wasit. Satu bola. Dua gawang. Dan ribuan mata penonton.

Dalam periode itu, saya tidak terlalu banyak bermain dengan internet. Kecuali hanya untuk e-mail saja. Sisanya, sering habis untuk surfing di website e-ducation dan beberapa situs tentang sejarah Indonesia dan dunia, sambil sesekali membuka halaman khusus dewasa dan browsing di website klub sepakbola favorit yang selalu dihati: AC Milan.

Sewaktu SMA, game online Ragnarok sedang jadi trending topic diantara pecinta game. Saya melihat beberapa teman saya rela untuk menginap di warnet yang menyediakan paket happy hours setiap malamnya. Lalu, saya juga melihat bagaimana loyonya teman saya yang tiga hari tiga malam ngajedog (baca: diam, nangkring) didepan komputer, hanya beristirahat ketika ingin buang air saja. Saat-saat itulah yang membuat saya berpikir kembali bahwa internet dan segala produk turunannya telah menjadi racun, terutama racun gaya hidup, lifestyle ecstasy, yang jelas-jelas merusak tapi memberikan kesenangan yang luar biasa dahsyatnya.

Hey World, I’m on Friendster. But find me in Google first.

Menjelang kelulusan SMA medio 2004, rasanya semua orang mulai menyebut-nyebut friendster. Dari pertama kali mendengar namanya, saya menganggap friendster itu hanya sebagai tool untuk pertemanan di dunia internet. Saya masih belum tahu friendster itu apa dan bagaimana dan apa manfaatnya sampai saya masuk semester 1. Setelah mendapat penjelasan dari seorang teman, baru saya mencoba friendster. Rasanya sangat menyenangkan ketika bisa melihat identitas diri kita menjadi “ada” dan bisa dilihat seluruh dunia. Apalagi bisa bertemu kawan-kawan lama. Sejenak waktu itu saya merasa kalau friendster ini jadi dunia kedua atau second life.

Semasa kuliah, saya benar-benar mengalami suatu perubahan yang disebabkan oleh internet. Saya benar-benar kecanduan dengan yang namanya friendster. Karena entah mengapa saya selalu senang melihat-lihat page kecengan saya dan kadang-kadang mengunduh beberapa fotonya. Sebuah kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan di zaman facebook sekarang ini. Selain itu, saya juga merasa bahwa Google adalah segalanya. Drs. Google adalah orang yang tepat untuk ditanyai sesuatu. Dan, anehnya saya mulai sering merasa putus asa bila tidak berhasil menemukan bahan-bahan utnuk tugas yang saya cari lewat Google. Padahal, masih ada perpustakaan dengan koleksi bukunya yang bertumpuk-tumpuk itu dan banyak lagi search engine lain dengan metode pencarian yang berbeda yang bisa jadi alternatif selain Google.

Saya tahu itu beberapa hari sebelum kuliah pertama Information Retrieval pada semester 4. Setelahnya, saya jadi lebih tahu query seperti apa yang cocok untuk bahan tugas dan search engine mana yang akan saya gunakan. Dan itu berhasil untuk saya yang selalu mendambakan nilai A untuk setiap mata kuliah yang terlanjur ditulis di KRS. Dalam kesenangan yang seperti itu ternyata (lagi-lagi) perilaku seperti itu berdampak buruk juga bagi mentalitas mahasiswa dalam penyusunan tugas. Seringkali, kita sebagai mahasiswa menjadi lebih bodoh dari murid SMA karena hanya mengcopy dan paste saja bahan yang didapat setelah nyembah Mbah Google tanpa melalui proses editing. Jadinya, kebanyakan tugas kami adalah sama, hanya covernya saja yang berbeda.

Saya mengakui bahwa saya pernah melakukannya tetapi sejak awal saya sudah mengantisipasi hal ini dengan menjadikan bahan-bahan hasil jalan-jalan di internet sebagai referensi saja. Sisanya, kalau masih bisa menuangkan opini atau sekedar mengutip buku teks rasanya saya suah puas untuk tugas saya. Tetapi, kita selalu tidak puas pada satu titik. Maka dari itu, saya punya prinsip “boleh Google kita sama, tapi punya saya beda”. Walau kita menggunakan Google yang sama tetapi bahan yang saya punya pasti berbeda karena saya menggunakan query yang lebih bervariasi dan search engine yang beragam. Pada waktu-waktu itu, selama kuliah, email memiliki peranan yang lumayan penting karena fungsinya. Selain karena sudah mulai tahu yang namanya milis, seringkali alamat email diperlukan untuk beberapa keperluan, seperti membuat akun gratis di forum-forum internet.

Check out My Profile on Facebook but Too Much Facebook Will Kill You

Habis lulus kuliah, facebook mulai menggusur friendster. Saya juga sudah mulai meninggalkan friendster dengan alasan sudah tidak relevan dan sulitnya mencari teman. Belum lagi, banyaknya “kepalsuan” seperti yang kini dialami facebook. Dalam periode ini, banyak media yang bisa menggantikan penemuan handphone sebagai alat komunikasi tercanggih. Selain facebook ada juga YM, Skype, blog, dll. Semua itu punya sensasi masing-masing. Saya senang facebook karena kemudahannya untuk mencari teman yang benar-benar teman, setidaknya yang pernah saya kenal dan saya tahu. Kemudian, facebook juga menyediakan fasilitas sharing yang beragam khas web 2.0 yaitu notes, links, hingga video. Dan yang terpenting adalah Status Update yang semakin menandakan dan menegaskan eksistensi dan keberadaan kita di internet.

Saya pernah sampai memikirkan status yang akan saya update esok hari kalau ketemu facebook karena waktu itu internet di kantor sempat di blokir. Yang paling menyiksa adalah perasaan ingin stastusnya diperhatikan dan dikomentari karena ternyata hal ini berdampak luar biasa karena sesuai sifat dasar manusia yang selalu ingin diperhatikan dan kalau bisa dikomentari. Rasanya memang tidak menyenangkan tetapi kenapa saya selalu menginginkannya. Padahal yang diupdate itu Cuma hanya untuk bilang “Good morning selamat pagi, kerudung kuning menawan hati”. Lalu kawan-kawan yang lain hanya berkeluh-kesah karena busway yang ditumpanginya mogok, kena macet, atau terjebak demo.

Ada yang mengupdate status sambil berdesak-desakan di KRL dan banyak pula yang mengomentarinya. Ada juga yang cukup merasa eksis dengan mengupdate menu sarapannya, ada lagi yang merasa bangga dan berharga dengan menulis “@Kantor, bentar lagi meeting sama bos” padahal mungkin ia tidak pernah menginginkan meeting itu sekalipun, walau sudah tahu meeting akan selalu membosankan karena penuh dengan omong kosong. Setelah apa yang saya lalui dengan keadaan itu saya masih cukup sadar bahwa saya masih punya eksistensi yang nyata dihadapan diri sendiri bukan dihadapan orang lain dan bukan pula lewat media sosial seperti facebook.

Awal Sebuah Kesadaran

Saya telah mencapai titik jenuh dan puncak kebosanan dalam berfacebook karena semuanya hanya palsu dari sekian banyak kepalsuan di dunia ini walaupun semua teman di facebook saya rasanya mencoba untuk tetap jadi dirinya masing-masing dengan memperlihatkan sisi lain dari hidupnya yang sudah begitu. Saya mengembalikan lagi facebook sebagai media dimana kita bisa bertukar informasi sambil kadang bercanda dengan mengomentari foto dan status teman-teman. Saya kembalikan facebook sebagai media yang benar-benar mendekatkan yang jauh tetapi tidak menjauhkan yang dekat. Untuk komunikasi yang lebih bersifat langsung saya kembali disadarkan untuk menggunakan handphone saya yang ada empat itu dan berhenti menggunakan facebook, email, YM, atau twitter.

Kebetulan, semenjak saya jadi user facebook saya juga menemukan kebebasan untuk menjadi diri sendiri lewat blog (selendangwarna.blogspot.com). Sehingga, saya punya ruang tersendiri untuk jadi diri saya. Saya mencoba belajar untuk jadi pribadi yang orisinil lewat blog. Saya lebih senang untuk menjelajahi link-link blogger yang ada dari blog teman-teman saya daripada harus menghabiskan waktu di facebook. Saya belajar untuk tidak lagi sembarangan mengambil kutipan dari tulisan orang lain hanya untuk sekedar menegaskan eksistensi saya sebagai pribadi yang kelihatan harus lebih dari yang lain, tahu lebih banyak, dan itu palsu.

Saya jadikan blog sebagai media belajar menulis. Saya mencoba menulis apa saja yang saya mau dengan berbagai gaya dan topik yang terserah saya. Tidak ada ikatan perasaan untuk menegaskan kembali eksistensi lewat jagad maya. Kalaupun ternyata tulisan saya di blog sama dengan notes yang ada di facebook, itu karena saya buat setting note di facebook untuk mengambil feed dari blog saya secara otomatis. Jadi saya tidak perlu repot mengcopy-paste tulisan dari blog untuk dijadikan note di facebook. Sampai saat ini, saya rasa itu adalah satu dari sekian banyak keunggulan facebook dan kemudahan internet bagi saya.

Saat ini, saya telah dan masih menganggap internet dan berbagai medianya hanya sebagai pelengkap dan bumbu kehidupan saja supaya tidak terlalu jenuh. Saya mengembalikan fungsi internet sebagai media. Terkadang internet memang bisa jadi media eskapis yang sangat baik untuk jiwa yang lelah. Saya menyadari bahwa internet memang telah menjadi kebutuhan tetapi tidak semua kebutuhan dapat dipenuhinya.

Maka dari itu, sebagai media atau yang disebut ‘channel’ dalam paradigma Lasswell, yang bersifat interaktif dengan segenap efek yang ditimbulkannya, saya rasa penting bagi kita untuk mulai memahami dan menyadari bahwa kebiasaan internet yang sehat bisa dimulai dari diri kita sendiri sebelum menularkannya ke orang lain. Kita bisa mulai perubahan yang kecil mulai dari mengidentifikasi kebutuhan yang kita perlukan dari internet yang sudah terlanjur jadi information superhighway agar kelak tidak kehilangan arah dan semakin tenggelam dalam dunia yang sengaja dibuat nyata dan ada.

Tangerang, 13 Maret 2010, 01.25

Anggi Hafiz Al Hakam
Google Twitter FaceBook

10 Hal yang Dapat Dipelajari Dari Digital Detox Week

Tulisan ini dari pengalaman salah satu Iain Tait, salah satu partisipan Digital Detox Week yang diselenggarakan Adbusters tahun lalu. Iain, membagi hasil pembelajaran yang ia peroleh di blognya. Berikut adalah 10 hal penting yang dapat menjadi perenungan teman-teman yang akan atau sedang memulai Digital Detox.

1. Berkomunikasi kembali melalui telepon, terasa jauh lebih baik. Mendengar suara lawan bicara secara langusng atau beradu pendapat lewat telepon jauh lebih terasa menakutkan daripada menuliskannya lewat email atau yahoo messanger. Namun, berkomunikasi secara langsung melalui telepon juga dapat mengurangi kesalah pahaman dan memberikan kepastian dalam berkomunikasi. Jadi cobalah mulai membiasakannya kembali.

2. Email dapat menunggu. Terpaku di depan komputer dan me-refresh inbox dengan harapan tidak ingin ketinggalan email-email yang baru masuk, membuat kita mengkonsumsi lebih banyak waktu percuma. Satu hal yang jangan dilupakan bahwa email-email itu bisa menunggu, tanpa harus kita refresh terus menurus untuk menunggu email2 yang baru masuk. Mengeceknya hanya pagi dan malam hari, tidak akan mengurangi perhatian kita untuk membalas email-email tersebut.

3. Ipod sepanjang waktu. Selain bisa mengganggu pendengaran, mengisolasi diri dengan ipod, membombardir pendengaran kita dengan lagu-lagu yang kita kira bisa menghibur selalu, justru tanpa sadar menjauhkan diri kita dengan realitas hidup sehari-hari. Menjauhkan kedekatan kita dengan suara-suara di sekeliling kita.

4. Tulisan Tangan Vs. Pixel. Mencatat dengan tangan, ternyata mampu memaksa otak untuk menyelesaikan masalah secara berbeda. Ide-ide yang tertuang melalui tulisan tangan bisa jauh lebih intens daripada menggunakan komputer.

5. Menunggu waktu tidur tiba, antara berada di depan layar atau mematikannya. Dari pengalaman, membaca buku sebelum tidur lebih mudah membuat tubuh kita mengirimkan sinyal ketika lelah dan mengantuk. Mata terasa berat, tulisan di buku menjadi kabur dan akhirnya kita jatuh tertidur. Sementara jika kita berharap menghabiskan waktu sambil menunggu waktu tidur tiba di depan komputer, mata kita dan otak kita akan terus menerus di paksa bekerja. Kepekaan tubuh untuk menerima sinyal kelelahan dan rasa mengantuk menjadi berkurang. Hal ini yang banyak menyebabkan gangguan waktu tidur bagi para pencandu internet.

6. Jejaring/web memecah perhatian kita akan banyak hal. Ketika kita membuka satu web, sebelum selesai membacanya dan memahaminya, kita akan dengan mudah masuk ke web yang lain dengan kemudahan hyper link begitu seterusnya. Sehingga banyak hal menjadi tidak utuh kita baca dan kita pahami. Sementara ketika membaca sebuah buku, saat kita tidak mengerti satu bagian, kita akan membuat catatan atau kembali ke halaman sebelumnya membaca kembali  berulang-ulang sampai kita paham apa yang dimaksud oleh tulisan itu.

7. Komputer menciptakan keluasan bukan fokus. Jangan berharap dengan menghabiskan waktu lebih banyak terhubung dengan internet, kita bisa belajar untuk fokus yang terjadi malah sebaliknya. Banyak distraksi dan perhatian kita cenderung melebar kemana-mana.

8. Ketika jauh dari Internet, kita merasa tidak terhubung  dengan orang lain, padahal kenyataannya kita hanya tidak terhubung pada sebuah benda. Apakah hidup kita tiba-tiba berubah secara drastis ketika kita tidak terhubung dengan internet? apakah dunia kita akan hancur hanya karena kita tidak membuka email atau facebook sehari atau seminggu saja? Ternyata tanpa terus menerus terhubung dengan internetpun, dunia yang kita alami baik-baik saja. Hidup masih berjalan apa adanya dan banyak kesenangan yang bisa dinikmati tanpa bersentuhan dengan internet.

9. Tidak benar, jika tanpa komputer kita merasa menjadi tidak kreatif. Tanpa sadar kita adalah korban dari 'komputer dan internet sebagai pusat hidup kita'. Semua kreativitas kita menjadi sangat digital karena kemudahan-kemudahan yang ditawarkan. Membangun kreativitas analog, menggembangkan kemampuan tangan untuk kreativitas kita, sama artinya dengan memberi porsi yang lebih adil pada bagian dari tubuh kita yang lain untuk berkembang.

10. Komputer adalah alat yang sangat mudah bagi kita untuk bersembunyi dari kenyataan. Duduk di depan layar dan masuk kedalam dunia yang sama sekali berbeda melupakan banyak persoalan di dunia nyata, bisa dengan mudah dilakukan lewat komputer, tapi apakah itu akan membantu kita menyelesaikan persoalan nyata dalam hidup kita sehari-hari?
Google Twitter FaceBook

8.3.10

Tanda-Tanda Dan Gejala-Gejala Kecanduan Komputer & Internet/Game

Digital Detox Week Powered by Adbusters
Kapan terakhir kali kamu ngobrol bareng sahabatmu dari hati ke hati, makan bersama keluargamu tanpa laptop atau handphone di tangan, jalan pagi atau sore, menikmati pepohonan, suara burung dan kesegaran taman di dekat tinggalmu, menjalankan hobi yang menyenangkan bersama teman-temanmu?  
Jika jawabannya beberapa bulan atau beberapa tahun lalu, segera periksa dirimu, siapa tau kamu mengidap gejala-gejala kecanduan komputer & internet atau games. 

Gejala dan tanda-tanda ini merupakan penelitian yang dilakukan Dr. Hilarie Cash, PhD yang dikutip dari situs Net Addiction recovery.

* Meningkatnya waktu penggunaan komputer dan penggunaan internet.
* Sering mengalami kesulitan mengontrol perilaku.
* Mengalami euforia berlebihan ketika berhubungan dengan komputer dan menggunakan internet.
* Selalu mencari-cari kesempatan untuk bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggunakan komputer dan internet.
* Mengabaikan teman-teman dan keluarga.
* Merasa gelisah ketika tidak ada sesuatu yang dikerjakan.
* Menjadi tidak jujur pada orang lain.
* Mudah merasa bersalah, malu, cemas, depresi sebagai akibat dari perubahan perilaku yang disebabkan oleh kecanduan komputer & internet juga games.
* Berubahnya pola tidur dan istirahat.
* Mengalami gangguan fisik: seperti bertambahnya berat badan atau berkurangnya berat badan, sakit kepala, sakit punggung dan gangguan pada tangan yang tiba-tiba lemas dan jari-jari yang kebas (karena terlalu sering menggunakan mouse dan keyboard).
* Menarik diri dari banyak aktivitas yang melibatkan interaksi dengan orang lain.

-----

Rubrik ini, dipersembahkan oleh Tobucil & Klabs sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi yang menjadi visi, misi serta tujuan Tobucil & Klabs sejak awal. Media literasi menjadi pilihan, karena kian hari hidup kita senantiasa digempur oleh informasi yang berlebihan lewat berbagai jenis media, sampai-sampai kita kehilangan kemampuan untuk memilih dan menseleksi kembali, mana informasi yang kita perlukan dan mana yang tidak.

Pendidikan perlu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi bagaimana caranya mengelola data dan informasi daripada sekedar mengumpulkannya [David Berlo, Communication and Behaviour, 1975]
Google Twitter FaceBook

1.3.10

6 Tanda Kecanduan Facebook




1. Kita  lebih memilih begadang dan berfacebook ria daripada beristirahat di malam hari. 


2. Jika kita menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk facebook setiap harinya, hati-hati itu tanda-tanda kita sudah kecanduan facebook.
3. Terobsesi dengan masa lalu. Bertemu dengan teman lama atau pacar lama adalah salah satu dari 'keajaiban facebook'. Hal ini bisa membuat kita berilusi kembali ke masa lalu dan membuka kembali kisah lama lalu mulai meragukan hidup yang kita jalani saat ini. Banyak kasus rumah tangga berantakan karena 'keajaiban facebook'. Sesekali menengok masa lalu bersama teman-teman lama tidak mengapa, tapi jika kembali ke masa lalu, itu artinya hidup kita mengalami kemunduran. Jangan tertipu oleh ilusi keajaiban facebook.



4. Mengabaikan pekerjaan karena facebook. 

5. Setiap hari mengganti status di facebook lebih dari 5 kali, selain mengalami tanda-tanda kecanduan, ada masalah lain yang lebih serius, bahwa kita mencari-cari perhatian dan menganggap semua komen  yang kita dapatkan lewat status yang kita buat adalah perhatian yang kita butuhkan. Itu artinya kita kesulitan membedakan mana kenyataan dan mana ilusi. 



6. Jika kita gelisah karena tidak terhubung dengan beberapa menit saja  dengan facebook, itu artinya kita harus segera melakukan facebook detox. Pertanyakan kembali  apakah hidup kita akan menderita tanpa terhubung dengan facebook?  coba saja dengan tidak terhubung sehari saja dengan facebook, lihat dan rasakan, jika kita bisa melaluinya, berarti kita bisa memutuskan ketergantungan diri kita dengan facebook. Satu jam sehar, porsi yang menyehatkan untuk berfacebook ria. 



Tulisan ini di adaptasi dari sini

Google Twitter FaceBook

22.2.10

Mempersiapkan Anak Mengenal Internet

Saat ini, rasanya tidak mungkin hidup tanpa komputer dan koneksi internet. Pertumbuhan jumlah pengguna internet dari 25 juta pengguna dan diperkirakan akan meningkat dalam dua tahun ke depan sampai angka 80 juta pengguna, membuat orang tua mesti mengetahui, kapan tepatnya anak-anak bisa mendapatkan komputer mereka sendiri dan terhubung dengan internet. Hal ini menjadi penting, mengingat melepaskan anak-anak bersama komputer dan jaringan internet, seperti melepaskan mereka untuk masuk ke dalam rimba belantara dengan segala macam resikonya. Jika para orang tua bisa membekali anak-anaknya dengan pengetahuan dan cara aman untuk menjelajahi internet, anak-anak justru bisa mendapatkan banyak manfaat dari penjelajahan mereka di dunia maya.

Pada usia 1 dan 2 tahun, anak-anak  bisa mulai diperkenalkan dengan dasar-dasar keyboard dan mouse. Mereka akan melatih keterampilan motorik mereka untuk menggunakan dua alat ini. 

Sementara pada usia 3 atau 4 tahun, anak-anak mulai mampu memahami alur cerita dan teka-teki sederhana untuk di pecahkan. Mereka akan mengenali huruf dan angka. Pengenalan pada komputer diusia ini,  dapat membantu mereka untuk lebih mengenali huruf-huruf, angka dan pola cerita sederhana. Pada usia ini juga, anak dapat diperkenalkan dengan pola penggunaaan komputer yang sehat, seperi cara duduk yang benar dan mengambil waktu istirahat secara teratur ketika menggunakan komputer. Hal yang penting untuk diajarkan pada anak usia 4-5 tahun adalah memastikan bahwa mereka memahami aturan keluarga tentang komputer, seperti meminta izin untuk menggunakan software yang tidak biasa mereka gunakan dan juga pastikan orang tua mendampingi mereka, ketika mereka menggunakan fasilitas online misalnya ketika menggunakan fasilitas game online. Sebagai orang tua, sudah semestinya anda mengetahui situs apa saja yang diakses anak anda pada usia ini.

Usia 6 tahun ke atas, tuntutan untuk lebih mandiri dan leluasa dalam mengakses internet menjadi kebutuhan anak-anak.  Jika mereka mulai membuat account email pribadi, pastikan bahwa orang tua mengetahui alamat email anak-anak anda. Lebih baik jika anda menggunakan fasilitas Outlook untuk inbox email pada komputer rumah, sehingga orang tua masih bisa memantau email-email yang masuk. Beri pengetahuan tentang spam dan email-email yang dicurigai mengandung virus atau tawaran-tawaran yang menyesatkan. Pastikan bahwa mereka memenuhi syarat usia minimal 13 tahun untuk mendapatkan fasilitas email atau blog pribadi.

Sebagai orang tua, anda harus menekankan pada anak-anak anda (tentunya pada diri anda sendiri juga), untuk tidak sembarangan memposting informasi ke internet. Karena anda tidak pernah tau, apa yang akan terjadi dengan informasi-informasi itu. Hindari memposting informasi-informasi pribadi, seperti alamat rumah, no. telpon, atau informasi-informasi yang sekiranya bisa disalah gunakan oleh orang lain. Ajari anak-anak untuk menggunakan bahasa yang santun dan bertanggung jawab ketika mulai menulis di blog mereka.

Sebagai orang tua, andalah yang sesungguhnya berhak untuk memutuskan kapan anak-anak anda akan diperkenalkan dengan komputer dan internet. Jika sudah membuat aturan main, anda juga harus berdisiplin dengan aturan yang sudah anda buat sendiri. Jangan salahkan anak anda, jika mereka tidak mematuhi aturan main yang anda buat, jika anda sendiri seringkali melanggarnya.

Hal yang sangat penting sebelum memperkenalkan anak anda dengan komputer dan internet, pastikan bahwa kebiasaan berkomunikasi secara langsung di keluarga anda berjalan dengan baik. Kebiasaan berinternet tanpa kemampuan berkomunikasi secara langsung dengan baik, hanya akan menjauhkan anak-anak anda dengan dunia nyata di sekelilingnya. Semenakjubkan apapun yang ditawarkan oleh internet, termasuk pesona jejaring sosial seperti facebook, twitter, itu semua bukan sesuatu yang nyata. Keterhubungan anak-anak (dan mungkin anda juga) dengan dunia nyata jauh lebih penting dari petualangan di dunia maya. Aktualisasi diri di dunia nyata adalah kesempatan nyat untuk berkontribusi pada perubahan. Jadi bijaksanalah dalam menetapkan porsi waktu anak-anak terhubung dengan komputer dan internet. Jangan sampai, karena tidak ingin anak  'ketinggalan informasi', orang tua justru menghilangkan kesempatan anak untuk mengaktualisasikan dirinya di dunia nyata. [vitarlenology] Tulisan ini di adaptasi dari sini
Google Twitter FaceBook

15.2.10

Baca-Baca Pindah Rumah

 

Dari beberapa komunitas literer di Bandung, Baca-Baca adalah salah satu yang berhasil bertahan hidup, meski harus berpindah-pindah. Nah, buat teman-teman yang sempat datang ke Sabuga Bandung untuk gabung di Baca-Baca, sekarang mereka pindah tempat ke Padasuka, menempati sebuah ruangan di Studio milik seniman Jeihan. Kegiatan sekolah taman, jadi kegiatan rutin mereka dan kali ini, Baca-baca bisa lebih aktif mengajak anak-anak dan penduduk setempat untuk berkegiatan bersama. Tertarik untuk mendukung kegiatan Baca-Baca? bisa langsung saja datang ke:

Baca-Baca
Jl. Padasuka 147 (Studio Jeihan) Bandung

Google Twitter FaceBook

Mengapa Media Literasi /Melek Media Menjadi Penting?



1. Pengaruh media menjadi pusat dari proses demokratisasi. Dalam budaya media secara global, masyarakat membutuhkan tiga kemampuan penting untuk menjadi bagian dari masyarakat yang demokratis: berpikir kritis, mengekspresikan diri dan berpartisipasi. Media literasi membangun tiga hal penting tadi.

2. Konsumsi media yang belebihan dan kejenuhan terhadap media. Ketika seseorang menggunakan telepon selular, jejaring sosial, video games,  televisi, musik pop, radio, surat kabar, majalah, internet dan bahkan t-shirt sekalipun, sesungguhnya kita sedang di bombardir oleh pesan-pesan yang disampaikan oleh media-media tersebut. Pesan-pesan yang kita terima setiap harinya, melebihi apa yang diterima generasi kakek kita dalam setahun. Melek media mengajarkan kita untuk menemukan panduan aman bagaimana mengarungi lautan informasi, gambar, pesan-pesan yang kita terima setiap hari dalam hidup kita.

3. Pengaruh media membentuk cara kita mempersepsi sesuatu,  membentuk kepercayaan kita  juga perilaku  dan yang terpenting, media memberi pengaruh yang sangat penting dengan cara kita memahami, menterjemahkan dan bereaksi terhadap apa yang terjadi di dunia sekeliling kita.  Dengan mengetahui bagaiamana media mempengaruhi kita, kita dapat mengurangi ketergantungan kita kepada media tersebut.

4. Meningkatnya serbuan komunikasi visual dan informasi. Hidup kita sehari-hari sangat dipengaruhi dengan serbuan visual informasi melalui iklan-iklan produk audio visual maupun visual yang tercetak  melalui banyak media. Belajar mengetahui bagaimana membaca dan memahami apa yang ada dibalik gambaran visual itu. Sehingga kita tidak mudah termakan bujuk rayu iklan suatu produk yang digambarkan lewat visualiasi yang dapat mempengaruhi pikiran kita.

5. Kekebasan menyampaikan informasi melalui bermacam media, di satu sisi memberi dampak pertumbuhan industri informasi yang cukup besar. Namun di sisi lain, kekuatan modal dan kepentingan di balik pertumbuhan industri media dapat mengancam keberagaman pendapat, karena media memiliki kekuatan untuk membentuk opini publik. Mengetahui bagaimana pengaruh media dalam hidup kita, akan membantu kita dalam menemukan, menentukan sikap dan memperjuangkan keberagaman sudut pandang pendapat mengenai suatu masalah. Pendapat kita menjadi tidak mudah dikendalikan oleh pendapat umum yang dibentuk media.

[sumber: LIteracy for the 21th Century, An Overview & Orientation Guide To Media Literacy Education http://www.medialit.org/]

------

Rubrik ini, dipersembahkan oleh Tobucil & Klabs sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi yang menjadi visi, misi serta tujuan Tobucil & Klabs sejak awal. Media literasi menjadi pilihan, karena kian hari hidup kita senantiasa digempur oleh informasi yang berlebihan lewat berbagai jenis media, sampai-sampai kita kehilangan kemampuan untuk memilih dan menseleksi kembali, mana informasi yang kita perlukan dan mana yang tidak.

Pendidikan perlu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi bagaimana caranya mengelola data dan informasi daripada sekedar mengumpulkannya [David Berlo, Communication and Behaviour, 1975]
Google Twitter FaceBook

18.1.10

Media Literasi: 23 Tips Pencarian Google

Informasi ini saya salin dari buku Google Story atau diterjemahkan dengan judul Kisah Sukses Google: Bisnis, Media, dan Teknologi Terhangat Saat Ini, karangan David A. Vise dan Mark Malseed, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Oya, tips-tip ini lebih efektif berlaku dalam bahasa inggris, jadi klik English terlebih dahulu jika alamat Google yang muncul adalah www.google.co.id untuk masuk ke dalam alamat www.google.com. Berikut ini tips-tipsnya.

1. Google dapat menjadi buku telepon (untuk sementara berlaku bagi wilayah Amerika Serikat)
Ketik nama seseorang, kota, dan negara bagian ke dalam kotak pencarian, maka Google akan memberikan daftar nomer telepon dan alamat paling Anda cari. Google juga dapat bekerja sebaliknya jika yang anda miliki hanya nomer telepon saja.

2. Google dapat menjadi kalkulator.
Ketik angka-angka (2+2, 12/3)  atau kata-kata (two plus two, twelve divide three) atau juga menggunakan kompinasi keduannya (ten million* pi, 15% of six).

3. Lebih panjang lebih baik, tapi pendek pun OK.
Anda dapat mencari dengan memasukan sedikit mungkin kata kunci, namun menambahkan beberapa kata bisa memberikan hasil lebih baik.

4. Gunakan tanda kutip jika ketepatan yang Anda butuhkan.
Mengetikkan "the search is over" ke dalam Google akan menghasilkan halaman Web tentang lagu rock yang dibawakan oleh Survivor, tetapi tanpa tanda kutip akan menghasilkan sekumpulan halaman yang tidak berhubungan. Alasan penambahan tanda kutip di awal dan di akhir, berarti meminta Google mencari kumpulan kata yang sama persis dengan yang anda ketikkan.

5. Google dapat menjadi kamus.
Ketik define diikuti kata apa pun dalam bahasa Inggris ke dalam kotak pencarian, maka Google akan memberi Anda sebuah definisi yang cepat di bagian atas pencarian.

6. Huruf besar atau huruf kecil sama saja.
Anda bisa menghemat waktu dalam mengetik karena tidak usah memakai tombol SHIFT. Mengetikkan Queen Elizabeth II dan queen elizabeth ii memberikan hasil yang sama. Google mengabaikan kata-kata umum seperti the, and, is, of dan to ketika anda menggunakannya dalam pencarian tanpa tanda kutip. Menambahkan kata-kata tersebut tidak mengubah atau menyempurnakan hasil pencarian, jadi anda boleh tidak memakai kata-kata tersebut.

7. Lupakan bentuk jamak atau kata jadian.
Google secara otomatis mencari kata dasar. Anda tidak perlu melakukan pencarian terpisah untuk dance, dances dan dancing. Cukup ketik salah satu kata maka Google akan mengerjakan selanjutnya, memberi Anda hasil-hasil dalam satu daftar.

8. Mencari gambar.
Mencari foto Paris Hilton atau foto Paris Hilton Hotel? Klik "Images" di atas kotak pencarian, ketikkan yang anda mau, maka Google akan mencarikan foto atau gambar dalam databasenya yagn memiliki lebih dari satu miliar gambar. Pencarian gambar bisa mengantar anda ke situs Web yagn bermanfaat bagi anda dan mungkin tidak anda dapatkan melalui pencarian biasa.

9. Peta, petunjuk jalan, dan pemandangan dari satelit cukup dengan satu klik.
Cara paling cepat untuk menemukan jalan paling cepat ke tujuan anda adalah dengan memasukkan kode pos tau nama kota dan negara bagian ke dalam kotak pencarian.

10. Ke mana  anda akan pergi hari ini?
Jika anda tau situs web tertentu yagn ingin anda kunjungi, ketik namanya  ke dalam kotak pencarian Google, tekan enter, dalam sekejap anda akan berada di sana.

11. Jelajahi rak buku di dunia secara online.
Carilah sebuah topik di print.google.com maka anda akan melihat informasi dari buku-buku aktual yang telah di pindai dan diindeks oleh Google dalam databasenya. Anda dapat membuka-buka atau membaca seluruh teks asal karya bersangkutan tidak dilindungi hak cipta, bagi yang lain. Anda boleh membaca halaman yang memuat kata dari pencarian Anda dan mendapatkan informasi tentang di mana bisa membeli buku lengkapnya.

12. Tekan tombol GOOGL di ponsel sewaktu anda dalam perjalanan.
Mendapatkan nomer telepon, petunjuk jalan, jam main bioskop, harga saham, dan seabgainya langsung ke telepon selular anda. Kirim sebuah pesan teks berisi pertanyaan anda ke nomor 46645 (khusus pengguna di AS) maka mesin pencari akan mengirimkan pesan berisi jawaban seketika.

13. I'm Feeling Lucky.
Masukan kata yang akan dicari kemudian klik tombol ini pada homepage google untuk memotong daftar hasil yang panjang dan anda akan diantar langusng ke halaman web paling sesuai dengan keinginan anda.

14. Google dapat menjadi wartawan bagi anda.
Google News, yang bisa dicapai melalui link "News" di atas kotak pencarian atau di news.google.com, menyediakan informasi terkini dalam bidang politik, bisnis, teknologi, hiburan, kesehatan, olah raga, dan sebagainya. Ketik sebuah topik yang anda minati, ke dalam kotak pencarian Google News untuk mendapatkan cerita paling baru dari lebih 4500 sumber berita dunia. Agar bisa terus mengikuti pemberitaan tentang sebuah topik, daftarkan ke google.com/alerts untuk mendapatkan email berisi ringkasan berita terkini serta link ke situs-situs web yang memberitakannya.

15. Google dapat menjadi peramal cuaca.
Ketik weather diikuti dengan kode pos atau nama kota, maka google akan memberitahukan keadaan saat ini dan ramalan untuk empat hari mendatang di bagian atas halaman hasil pencarian.

16. Menjadi seorang peneliti.
Google cenderung menghadirkan daftar halaman paling populer dan paling baru di bagian atas hasil pencarian, tapi coba buka halaman kedua, ketiga, atau seterusnya, maka anda sering bisa menemukan halaman yang  bagi orang lain tidak penting tetapi berharga sekali untuk proyek penelitian anda. Juga periksa versi "cache" untuk halaman web tersebut yang telah di himpun Google sewaktu merambah dunia internet dan mendonlot isinya. Anda tinggal  mengklik link berwarna biru di ujung setiap hasil pencarian. Versi "cache" adalah versi lama sebuah halaman dan sering memiliki isi yang anda perlukan bahkan meskipun halaman tersebut telah diperbaharui misalnya, sebuah situs berita yagn telah menghapus cerita lama atau cerita asli. Versi cached juga membuat kata yang anda cari tampil menonjol dengan warna pada halaman yagn memuat kata tersebut. Ini terutama berguna ketika anda harus membuka-buka dokumen yang panjang.

17. Menjadi Sarjana.
Pencarian serius dapat mengambil informasi dari ribuan jurnal ilmiah dan akademik menggunakan Google Scholar. Masukan kata Anda ke dalam kotak pencarian di scholar.google.com untuk mendapatkan abstrak dan makalah dari sumber-sumber yang menerbitkan makalah termaksud.

18. Karakter ajaib ~.
Karakter yang disebut tidle "~" di ujung kiri atas papan ketik anda merupakan alat sangat berguna dalam pencarian Google. Ketik karakter ini di depan sebuah kata, tanpa spasi untuk meminta Google mencari halaman-halaman berisi kata tadi atau sinonimnya. Contoh dengan mengetikkan ~auto akan menghadirkan halaman-halaman web yang memuat kata-kata car, truck, automobile dan sebagainya.

19. Perbanyak hasil pada tiap halaman.
Link "preference" di sebelah kanan kotak pencarian memungkinkan anda mengubah bermacam-macam setelan untuk pencarian Google, termasuk jumlah hasil yang ditampilkan perhalaman. Naikkan jumlah hasil pencarian per halaman dari 10 yang baku menjadi 20-30 atau lebih, supaya dapat memperoleh jawab lebih banyak dalam satu klik.

20. Penerjemahan ke dalam bahasa lain.
Link "Languge tools" juga di sebelah kanan kotak pencarian di homepage, mengantar anda ke pelayakan penerjemahan otomatis Google dengan sejumlah bahasa yang tersedia. Dari halaman ini, anda dapat menerjemahkan teks dari sejumlah bahasa ke  bahasa lain (English to Spanish, French to German, dsb) atau menerjemahkan sebuah halaman web cukup dengan memasukan alamatnya.

21. Mengetahui harga saham dalam seketika.
Ketik stock ticker symbol ke dalam kotak pencarian untuk mendapatkan harga saham dan grafik untuk perusahaan terbuka mana pun yang terdaftar di New York Stock Exchange, America Stock Exchange, atau NASDAQ.

22. Dapatkan hasil yang lolos sensor.
Pencarian menyangkut topik serius seperti sex education bisa memunculkan hasil yang tidak untuk semua umur, maka Google menyediakan pilihan untuk mengaktifkan SafeSearch filter supaya hasil pencarian bisa family-friendly. Klik link "preferences" di sebelah kotak pencarian untuk melihat dan mengatur setelan SafeSearch (pilih dari "strict", "moderate" atau tanpa filter).

23. Melongok ke dalam Google.
Klik link "more>" di atas kotak pencarian untuk menemukan fitur dan produk Google lain serta petunjuk-petunjuak lebih lanjut tentang melakukan pencarian secara efektif. Kunjungi panduan pencarian sehalaman yang sangat praktis di google.com/help/cheatsheet.html. Lihat pula inovasi-inovasi Google untuk masa mendatang seperti pencarian TV, pencarian pribadi, penentuan lokasi taksi waktu nyata (real time taxicab locator) dan lain-lain di Google Labs. Cukup ketikkan "Google Labs" ke dalam kotak pencarian Google Labs.

Semoga berguna..:)

[vitarlenology]
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin