Showing posts with label pengumuman. Show all posts
Showing posts with label pengumuman. Show all posts

22.5.15

Klab Nulis & Sastra Angkatan XVII Periode : Juni-Juli 2015 Berbahagia Karena Sastra dan Menulis

Disaat kita memutuskan menulis, apapun itu bentuknya, percaya atau tidak, kita akan terlibat pada suatu pemainan yang membingungankan, menjengkelkan, hingga mungkin tak henti-hentinya kita berdecak kagum ‘kok bisa ya begitu?weiisss bener juga tuh.Ahaa…setuju!’ Pengalaman-pengalaman seperti itu, tentunya akan benar-benar sangat terasa dibatin, barangkali akan menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi yang pertama kali menulis. Bagi segilintir orang yang lain, pengalaman seperti itu, adalah sesuatu yang dinanti-nanti saat bermain dalam permainan menulis.
Kini Klab Nulis angkatan XII akan mengambil tema Berbahagia Karena Menulis. Tema itu diambil bedasarkan pertimbangan ketika melihat banyak orang yang pusing tidak selesai-selesai tulisannya, tertawa bahagia dan berjalan dengan percaya diri, karena tulisannya selesai dan banya orang suka. Maka, kini Angkatan XII Klab Nulis ingin mengajak Anda semua, bisa tertawa dan percaya diri, berbahagia karena menulis dan bersastra ria dengan cara kontemporer.

Materi ;
Pertemuan 1 – Filsafat dan Keberpihakan Sastra Kontemporer Dalam Perspektif Baru
  • Semesta Kata : Dunia kelihatan dan yang tak kelihatan
  • Menggugah perasaan dalam karya
Pertemuan 2 – Filsafat Menulis (Penulis sekaligus juga Pelukis Cerita)
  • Membangun Nilai Fiksi Dalam Karya
  • Originilatas Karya
Pertemuan 3- Strategi Menulis Karya Kontemporer I
  • Tiga langkah bercerita yaitu baik, bagus, dan benar menurut George Sentayana
  •   Membuat grafik alur dan menilai secara jitu
Pertemuan 4-  Strategi Menulis Karya Kontemporer II
  • Teknik” muncul” pengisahan dan In Medias Res
  • Aneka logika yang mendukung penciptaan gagasan, maksud, hingga cerita 
Pertemuan 5- Dinamika Kelompok “Power Words Game”
Permainan imajinasi , rasa, dan studi literatur
Pertemuan 6- Dinamika Kelompok “Games sebelum Menulis Karya”
Undian persiapan sidang karya
Pertemuan 7- Mentoring
Setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk konsultasi perihal karya seni yang sedang dikerjakan
Pertemuan 8-Mentoring
Setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk konsultasi perihal karya seni yang sedang dikerjakan
Pertemuan 9-Sidang Karya I
Pertemuan 10- Sidang Karya II
Pertemuan 11-Sidang Karya III
Pertemuan 12-Penutupan
Pengumuman karya terbaik dan pesta sastra

Model kursus ini adalah original dan dibuat oleh Sophan Ajie bekerjasama dengan Tobucil
Untuk sahabat terbaik, kritikus, dan praktisi Klab Nulis Tobucil Paskalis Trikaritasanto 


Google Twitter FaceBook

11.5.15

Workshop Sablon Bersama @wawbaw































Workshop Sablon
Bersama Age @wawbaw
Sabtu, 23 Mei 2015 Pk. 14.00 WIB

Tempat Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung

Biaya IDR 250.000/orang sudah termasuk alat dan bahan (Screen, cat, kain, rakel, dll)
Tempat terbatas untuk  8 orang peserta.
Pendaftar mengirimkan artwork berupa drawing, vektor, atau pattern berukuran 10 cm x 14 cm dengan spesifikasi satu warna, file jpg 300 dpi dikirim ke email wawbawserieshandmade@gmail.com
paling lambat tanggal 20 Mei 2015.

Informasi dan pendaftaran hubungi:
Tobucil 022 4261548 - 089637444156
Google Twitter FaceBook

Book Binding Workshop bersama @vitarlenology Minggu, 24 Mei 2015


Book Binding Workshop
Bersama Tarlen Handayani @vitarlenology

Tempat Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung

Minggu, 24 Mei 2015
Pk. 09.30 -12.00 WIB Kelas Pemula
Pk. 13.00 - 15.00 WIB Kelas Lanjutan

------
Kelas Pemula:
Materi: Simple Binding, 2 in 1 Binding, Long Stitch Binding, French Link Binding
Biaya IDR 300.000 termasuk alat dan bahan

Kelas Lanjutan:
Materi: Chains stitch, coptic binding
Bonus: Demo Manual Embossing Print
Biaya IDR 225.000/orang termasuk alat dan bahan

Tempat terbatas
Informasi dan pendaftaran Tobucil 022 4261548 - 089637444156
www.tobucil.net follow ig & twitter @tobucil & @vitarlenology

Google Twitter FaceBook

8.5.15

Dibuka Kelas Decopage Bersama Suryanti @scrappetizer


Kelas Decopage 
Sabtu, 23 Mei 2015 Pk. 10.00 - 13.00 
Bersama Suryanti @scrappetizer
Biaya IDR 300.000/orang (termasuk alat dan bahan) 
masing-masing peserta dipersilahkan membawa celemek. 

Informasi dan pendaftaran hubungi: 
Tobucil Jl. Aceh No. 56 Bandung 
Telp. 022 4261548 - 08963744156

Decopage adalah seni menghias benda dengan menempelkan gambar-gambar atau motif tertentu dan menggabungkannya dengan teknik pengecatan untuk menghasilkan efek tertentu.


Google Twitter FaceBook

27.8.13

Program KlabKlassik Bulan September

Setelah beristirahat lebih dari sebulan penuh oleh sebab bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, KlabKlassik akan kembali aktif mulai bulan September. Program yang akan diketengahkan adalah KlabKlassik Edisi Playlist, KlabKlassik Edisi Nonton, KlabKlassik Edisi Panggung dan KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang. Seperti biasa, tidak semua kegiatan KlabKlassik berhubungan dengan musik klasik secara langsung. Mengapa? Simak alasannya di sini.

KlabKlassik diselenggarakan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 setiap hari Minggu pukul 15.00 - 17.00. Acara-acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

"Lagu Kebebasan" - 8 September 2013 (KlabKlassik Edisi Playlist)
KlabKlassik Edisi Playlist adalah salah satu program unggulan KlabKlassik. Isinya adalah kegiatan mendengarkan musik bersama dengan aturan masing-masing peserta membawa satu lagu favoritnya untuk diapresiasi peserta yang lain. Setelah mendengarkan bersama-sama, ada diskusi kecil yang biasanya dipandu oleh narasumber seperti Ismail Reza dan Rahardianto yang merupakan penikmat sekaligus kolektor musik. Untuk bulan September, tema KlabKlassik Edisi Playlist adalah Lagu Kebebasan.

"Metal: A Headbanger's Journey (2005)" - 15 September 2013 (KlabKlassik Edisi Nonton)
KlabKlassik Edisi Nonton adalah program KlabKlassik yang menyajikan film apapun yang sekiranya dapat didiskusikan aspek musikalnya. Misalnya, pernah dibahas tentangmusic scoring dari film Taxi Driver, Apocalypse Now, 2001: A Space Odyssey dan A Clockwork Orange. Selain itu juga pernah diputar film tentang Mozart yang berjudul Amadeus, film tentang bagaimana musik klasik masuk ke RRC yang berjudul From Mao to Mozart, hingga film dokumenter tentang musisi yang albumnya tidak laku di AS tapi ternyata sangat populer di Afrika Selatan yang judulnya Searching for Sugarman. Untuk bulan September, KlabKlassik Edisi Nonton akan memutar film dokumenter Metal: A Headbanger's Journey yang bercerita tentang seluk beluk musik metal dengan pendekatan ilmu antropologi.

"Pre-Konser dari Konser Gitar KlabKlassik" - 22 September 2013 (KlabKlassik Edisi Panggung)
KlabKlassik Edisi Panggung adalah program KlabKlassik yang menampilkan musik secara live. Musik klasik dianggap lebih mudah untuk ditampilkan secara live karena tidak membutuhkan sound system sehingga bisa langsung dibawakan secara akustik. Untuk KlabKlassik Edisi Panggung kali ini, yang akan ditampilkan adalah orang-orang yang hendak tampil di Konser Gitar KlabKlassik yang akan diselenggarakan pada awal Oktober nanti sebagai bagian dari persiapan. Lagu-lagu yang ditampilkan antara lain adalah karya-karya dari Bach, Piazzolla, dan Morricone. 

"Fusion" - 29 September 2013 (KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang) 
KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang adalah program KlabKlassik yang isinya adalah diskusi musik. Dalam edisi ini pernah dibahas mulai dari musik blues, ska, shoegaze, hingga black metal. Untuk edisi kali ini, yang akan dibahas adalah fusion. Fusion berarti "peleburan" antara musik-musik yang sudah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang benar-benar baru. 
Google Twitter FaceBook

10.7.13

KlabKlassik Edisi Nonton: Searching for Sugar Man (2012)

Minggu, 14 Juli 2013
Pk. 13.00 - 15.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum


Setelah sekian lama tidak berkegiatan, KlabKlassik Edisi Nonton muncul lagi di bulan Ramadhan ini dengan film Searching for Sugar Man. Film dokumenter ini bercerita tentang musisi asal Amerika Serikat, Sixto Rodriguez, yang dua albumnya, Cold Fact (1970) dan Coming from Reality (1971) gagal total di pasaran. Namun tanpa sepengetahuan Rodriguez, ternyata musiknya laku keras di Afrika Selatan. Tidak hanya ia menjadi lebih populer dari Elvis Presley ataupun Rolling Stones di negara tersebut, tapi juga ternyata karya-karyanya sangat berpengaruh dalam gerakan anak muda yang menentang politik apartheid. Film ini penting untuk diputar dan didiskusikan, untuk mengetahui bahwa kualitas musik bisa saja absolut dan tidak tergantung oleh corong industri. Buktinya, meski musik Rodriguez tak punya pendengar, tetap ada yang merestorasinya di ujung sana oleh sebab merasakan kualitasnya yang sejati. 

Google Twitter FaceBook

7.5.13

Program Klab Filsafat Tobucil Bulan Mei


Google Twitter FaceBook

22.3.13

Dibuka Pendaftaran Kelas Filsafat untuk Pemula: Etika dan Problem Keseharian


Pengantar
Selain menitikberatkan pada kegiatan olah pikir, filsafat juga masuk pada ranah tindakan. Bahkan banyak yang setuju jika refleksi yang terdalam sekalipun akan menjadi nirmakna jika tak tercermin dalam gerak-gerik keseharian. Etika berbicara tentang apa yang "seharusnya" dilakukan oleh manusia secara konkrit dan rasional. Etika tidak bisa begitu saja mengacu pada agama ataupun aturan hukum, melainkan hendak memberitahu bahwa pada kenyataannya kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup yang tidak bisa dijawab dengan dogma-dogma yang kaku.

Materi
Pertemuan ke-1 : Ruang lingkup pembahasan etika
Pertemuan ke-2 : Etika Sokrates
Pertemuan ke-3 : Etika Hellenisme
Pertemuan ke-4 : Studi kasus
Pertemuan ke-5 : Etika modern, dari Kantian hingga Sartrean
Pertemuan ke-6 : Mengenal ragam pemikiran etika kontemporer
Pertemuan ke-7 : Agama dan etika
Pertemuan ke-8 : Penutup

Pemateri

Rosihan Fahmi - Lulusan Aqidah Filsafat UIN dan Pascasarjana Ilmu Filsafat UI ini adalah penggiat filsafat yang lebih banyak aktif di komunitas. Bersama Bambang Q-Anees, Ami -panggilannya- mendirikan komunitas diskusi Madrasah Falsafah Sophia yang aktif berkumpul di Tobucil & Klabs. Ami yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Sekolah Manba'ul Huda ini sekarang aktif sebagai pengajar filsafat di ruang alternatif Garasi10 dan sejumlah kampus maupun komunitas. Metoda mengajar Ami lebih mengedepankan dialog daripada pengungkapan teoritik secara satu arah. Ia juga kerapkali mendorong para peserta kelasnya untuk menuliskan hasil perenungannya atas apa yang sudah diuraikan selama kuliah.


Syarif Maulana - Lulusan Hubungan Internasional UNPAR dan Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNPAD ini aktif meneruskan semangat Madrasah Falsafah Sophia di Tobucil & Klabs dengan nama lain yakni Klab Filsafat Tobucil. Selain menjadi koordinator Klab Filsafat Tobucil, aktivitas sehari-hari Syarif adalah dosen di Fakultas Ilmu Budaya UNPAD, menulis untuk sejumlah blog maupun media online, mengajar gitar, bermain musik serta menjadi koordinator komunitas musik klasik bernama KlabKlassik. Dalam waktu dekat, Syarif akan meluncurkan buku pertamanya tentang analisis film yang berjudul Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey. Tulisan-tulisan Syarif dapat dibaca di sini.

Informasi
  1. Kelas berlangsung setiap hari Selasa pk 17.00 - 19.00 mulai 2 April 2013 di Tobucil & Klabs, Jl. Aceh no 56, Bandung. 
  2. Biaya keikutsertaan adalah Rp. 250.000 untuk 8 (delapan) kali pertemuan. 
  3. Kelas dibatasi untuk 10 (sepuluh) orang peserta. 
  4. Di akhir pertemuan, peserta akan diminta untuk menuliskan hasil renungannya untuk kemudian dikompilasikan menjadi sebuah buku.
Google Twitter FaceBook

11.3.13

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Jazz setelah Post Bop


Minggu, 17 Maret 2013
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Pk. 15.00 - 17.00
Gratis dan Terbuka untuk Umum




KlabKlassik akhirnya memulai kegiatan diskusinya di tahun 2013 setelah beberapa bulan terakhir fokus mempersiapkan ensembel gitar Ririungan Gitar Bandung (RGB) untuk konser. Diskusi pembuka tahun ini adalah tentang jazz -setelah sempat sebelumnya membahas musik psikedelik, black metal, ska dan blues-. Jazz yang dibahas adalah spesifik tentang satu periode yang disebut sebagai "setelah post-bop". Periode "setelah post-bop" ini barangkali dalam kacamata hari ini masihlah sebagai yang paling mutakhir, avant-garde, liar, dan tentu saja cutting edge. Tokoh-tokoh yang akan dibahas adalah Sun Ra, Alice Coltrane, Cecil Taylor, Ornette Coleman, Anthony Braxton, dan John Zorn. Diskusi akan dipandu oleh dua orang narasumber yakni Ismail Reza dan Rahardianto -dua orang yang diam-diam merupakan penikmat jazz kontemporer yang akut-.

Jika ada pertanyaan: Mengapa tidak semua kegiatan KlabKlassik berkaitan dengan musik klasik? Temukan jawabannya di http://www.klabklassik.blogspot.com/2012/10/mengapa-tidak-semua-kegiatan.html
Google Twitter FaceBook

3.3.13

Pemutaran Film Dokumenter 'Di Balik Frekuensi'


Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung dan Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk hadir pada acara pemutaran film dokumenter dan diskusi 'Di Balik Frekuensi'
Kamis, 7 Maret 2013
di Tobucil & Klabs  Jl. Aceh No. 56 Bandung
Pk. 18.30

Diskusi bersama:
Zaky Yamani (Ketua AJI Bandung)
Ucu Agustin (sutradara)
Ursula Tumiwa (Produser)
Luviana (tokoh dalam film)



Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

-----




“Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi!”
“Media Mengabdi Publik, Bukan Menghamba Pada Pemilik”


Mengambil isu yang jarang dibicarakan di dunia perfilman Indonesia, sutradara Ucu Agustin membuka tahun 2013 dengan  “DI BALIK FREKUENSI”, sebuah film dokumenter panjang pertama di Indonesia yang berbicara tentang media, khususnya media televisi yang menggunakan sarana frekuensi.

Berkolaborasi dengan produser Ursula Tumiwa yang sebelumnya dikenal melalui film ‘Generasi Biru’ dan ‘Metamorfoblous’, Ucu yang selama ini diketahui publik selalu konsisten mengarahkan film-film dokumenter Indonesia berkualitas yang mengambil isu yang cukup sulit seperti ‘Ragat’e Anak’ dalam kumpulan Antologi AT STAKE (tentang pekerja seks di gunung Bolo, Tulungagung) dan ‘Konspirasi Hening’ (mengenai malprakrek di dunia kedokteran di Indonesia) kali ini bukan hanya bertindak sebagai sutradara tetapi juga bersama Ursula bergandengan sebagai produser dan membawa publik untuk mengenali hak-haknya sebagai warga negara yang mutlak memiliki hak atas informasi.

Di Balik Frekuensi  adalah sebuah feature documentary yang  bercerita tentang bagaimana frekuensi publik saat ini digunakan oleh pemilik media untuk kepentingan politik dan bisnisnya yang jauh dari kepentingan yang berkenaan dengan publik. Melalui kisah Luviana jurnalis Metro TV yang di PHK-kan  serta kisah Hari Suwandi dan  Harto Wiyono dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong-Sidoarjo ke Jakarta, film ini akan mengajak kita menelusuri sebagian kecil dari sekian banyak cerita di balik frekuensi  dan di balik kerja media di Indonesia setelah reformasi berjalan lebih dari 14 tahun.

Dengan mengambil dua tagline Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi! Serta Media Mengabdi Publik, Bukan Menghamba Pada Pemilik, Di Balik Frekuensi ingin mengajak  para pekerja media, pelaku bisnis di industri media juga pemangku kepentingan di bidang media di Indonesia untuk bersama mengembalikan lagi fitrah media pada haluan yang sesungguhnya : ada untuk kepentingan warga.

Di Balik Frekuensi adalah sebuah project  yang merupakan bagian dari project CIPTA MEDIA BERSAMA, sebuah inisiatif  kolobarasi dari organisasi non profit Wikimedia, ICT Watch!, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang didukung sepenuhnya oleh Ford Foundation, dan memiliki tujuan untuk membuat media di Indonesia lebih baik di masa-masa yang akan datang.

Film ini mulai diproduksi pada 15 Desember 2011 dan pengambilan gambar terus dilakukan sampai 25 November 2012. Lokasi pengambilan gambar dilakukan di: Jakarta, Bandung, Indramayu, Malang, dan Porong-Sidoarjo. Menghasilkan lebih dari 330 jam stock gambar.

 Untuk keterangan pers lebih lanjut hubungi:
Email: behindthefrequencyfilm@gmail.com

----

Sinopsis

Setelah reformasi, dengan cepat konglomerasi menjadi corak industri media di Indonesia. Pola tersebut terus berkembang dan seolah dilanggengkan dengan dijadikannya sistem itu sebagai pegangan oleh para pelaku usaha media yang menjalankan operasional industri media di Indonesia.

Ribuan media dengan aneka format baik cetak, online, radio, televisi, yang informasinya diserap 250 juta penduduk Indonesia, hanya dikendalikan oleh 12 group media.  Tiap pemilik group ini memiliki kepentingannya sendiri-sendiri dan kerap terang-terangan membanjiri publik dengan berita dan tayangan-tayangan dalam kanal-kanal media milik mereka yang banyak me-manisfestasi-kan kepentingan yang jelas bukan merupakan kepentingan publik.

Luviana adalah  seorang jurnalis, telah bekerja 10 tahun di Metro TV, di-PHK-kan karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi newsroom. Hari Suwandi dan Harto Wiyono adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong-Sidoarjo ke Jakarta, menghabiskan waktu hampir satu bulan dalam perjalanan demi tekad untuk  mencari keadilan bagi warga korban Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi. 

Melalui dua kisah tersebut, film dokumenter ini akan membawa kita pada perjalanan Di Balik Frekuensi yang menuntun kita akan sebuah pencarian terhadap makna 'apa itu media'? Seperti apakah seharusnya media bekerja? Untuk siapakah mereka ada? 


Catatan Sutradara:

‘Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli’, benarkah itu yang tengah terjadi di dunia media kita di era konglomerasi media pasca reformasi 14 tahun silam?

Ada apa dengan TV berita kita? Itulah pertanyaan awal yang datang saat mengcapture semua peristiwa yang berkenaan dengan kasus Luviana dan Hari Suwandi – Harto Wiyono yang ada dalam cerita Di Balik Frekuensi.  Luviana berhadapan dengan televisi berita pertama  yang ada di Indonesia, Metro TV. Hari Suwandi dan Harto Wiyono berhadapan dengan televisi berita yang dulu salah satu taglinenya adalah: terdepan Mengabarkan, TV One. Kedua televisi tersebut bersiaran secara nasional dan jelas-jelas mereka menggunakan frekuensi publik untuk sarana siarnya.

Pertanyaan di atas itu lalu bersambung dengan pertanyaan lanjutan yang datang susul menyusul seiring dengan peristiwa yang terus terjadi dan harus diikuti untuk diambil gambarnya demi kepentingan produksi: ada apa dengan media kita di Indonesia setelah era Soeharto usai? Capek-capek dulu memperjuangkan kebebasan pers, untuk inikah semua perjuangan tersebut akhirnya? Sebuah konglomerasi media dimana media-media yang dimiliki oleh seorang pengusaha media  tak lebih hanya dijadikan kanal untuk saluran kepentingan sang pemilik.

Siapa saja pemilik media  di Indonesia kini ada dan apa  interest politik juga kepentingan bisnis mereka? Bagaimana nasib para jurnalis dan pekerja medianya? Bagaimana para jurnalis tersebut bersikap terhadap kepentingan-kepentingan yang menyaru dalam berita yang harus mereka liput? Siapa yang paling dirugikan dengan pemberitaan yang begitu bertubi tapi tak ditujukan untuk kepentingan informasi yang mencerahkan tapi justru memalsukan realita untuk kepentingan pemilik media? Siapa korban langsung sesungghunya dari pemberitaan-pemberitaan yang demikian?

Pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan ini begitu sering dipercakapkan di kalangan media, tapi tidak dibicarakan secara terbuka di ruang public. Untuk itulah Di Balik Frekuensi ada dan bercerita.. ***


Catatan Produksi

Penulis & Sutradara Ucu Agustin
Produser Ursula Tumiwa, Ucu Agustin
Kamera Affan Diaz, Darwin Nugraha
Editor Darwin Nugraha
Editor Online Juan Mayo
Musik Frans Martatko Filman
Penata Suara Dono Firman
Animasi  & Desain Graphis Affan Diaz, Erickson Siregar
Line Produser Sidik Ilmawan
Manajer  Produksi Bince Mulyono
Kamera Tambahan Harto Wiyono, Nizar Davian Revata, Ipunk Purwono, Dana Putra, Ucu Agustin, Feri Latief
Format  Pengambilan Gambar HD
Format Pemutaran M2T, Mpeg2, HD
Produser Eksekutif Ucu Agustin, Ursula Tumiwa
Diproduksi  oleh Gambar Bergerak
Durasi 144 Menit 27 Detik


Google Twitter FaceBook

26.2.13

Ririungan Gitar Bandung Main The Beatles

Sabtu, 2 Maret 2013
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Pk. 19.00 - 21.00
Harga Tiket Diserahkan pada Penonton
Informasi: Syarif (0817-212-404)

Pengantar

Sebelum acara ini, lebih dari setahun lalu ada konser serupa di Bandung yang digagas oleh Haryo Yose Soejoto. Idenya mirip: Mengangkat karya-karya dari kelompok musik era 60-an dan 70-an melalui instrumen dan format yang secara stereotip biasa digunakan untuk memainkan karya-karya musik klasik. Bedanya, Yose mengangkat lebih banyak kelompok musik dengan genre spesifik yaitu rock. Karya-karya dari Led Zeppelin, Jimi Hendrix, dan Emerson Lake and Palmer secara apik dipresentasikan oleh orkestra yang dibina olehnya, yakni Anime String Orchestra (Astro). Seperti yang diduga sebelumnya, pertunjukkan semacam itu sukses mendatangkan dua komunitas sekaligus: Mereka yang gemar musik klasik, dan mereka yang gemar musik rock.

Ririungan Gitar Bandung (RGB) tentu saja tidak bisa kita samakan levelnya dengan Astro. Nama yang terakhir disebut adalah kumpulan pemain profesional yang bergabung dalam satu wadah yang dikelola oleh komposer, arranger, dan konduktor berkelas seperti Yose. RGB bisa dibilang merupakan ensembel gitar yang terkandung di dalamnya dominasi pemain yang dapat dikatakan amatir. RGB memang dibuka untuk siapa saja dan cenderung ditujukan bagi siswa-siswi yang masih belajar gitar klasik agar mereka menemukan komunitas untuk berbagi. Dengan level permainan yang belum bisa dikatakan mahir, RGB mencoba untuk "mengejar" konsep brilian dari Yose untuk sama-sama merepresentasikan kelompok musik yang -tidak berdosa jika kita katakan bahwa taraf kesejarahan dan pengaruh yang dihasilkannya- sama-sama bisa kita sematkan label "musik klasik", yakni The Beatles.

Konser Ririungan Gitar Bandung Main The Beatles yang seolah-olah "cross-over" ini seringkali punya alasan klise yang dibuat-buat seperti "berupaya membumikan musik klasik". Saya bukan termasuk ke dalam golongan yang berkata, "Sebelum kamu dengerin Bach, Dvorak, atau Rachmaninoff, coba deh dengerin dulu orkestra yang maenin OST Twillite atau permainan piano David Foster." Mengapresiasi musik klasik seringkali lebih banyak menemui kegagalan jika melalui gerbang masuk musik pop. Memang bisa saja dalam tataran instrumentasi, kita membiasakan diri dengan bunyi piano ataupun orkestra dengan karya yang simpel sebelum memasuki rimba kerumitan musik era Renaisans hingga Romantik. Namun upaya semacam itu sering mentok ketika mulai bersentuhan dengan harmoni, progresi, kadens, dan term-term musikal yang lebih kompleks. Untuk memahami keruwetan musik klasik rasanya tidak cukup dengan selewat-selewat mendengarkan musik pop. Musik klasik, untuk menyentuh "inti persoalan"-nya seringkali kita perlu memahaminya via sejarah, seni, sastra, dan sejumlah amunisi teori musik yang kontekstual dengan si musik itu sendiri.

Konser RGB ini, meski dilatari oleh sebagian besar pemain yang berlatarbelakang gitar klasik, namun tidak ada semacam tendensi bahwa tujuan diselenggarakannya adalah dalam rangka membumikan musik klasik. Terlalu naif jika katakan bahwa musik klasik haruslah membumi -sama seperti kita menyuruh musik Chick Corea diputar di radio anak muda atau lukisan Jackson Pollock diwajibkan dipahami oleh para seniman Jelekong. Musik klasik harus dikenal seluas mungkin tentu saja iya, tapi keluasan ini jika tidak dibarengi pemahaman yang mumpuni akan jadi eksklusivitas kosong dan yang terjadi malah penyalahgunaan.

Jika demikian halnya, apa tujuan dari konser RGB ini? Kami tidak punya alasan yang rumit-rumit dan dibuat-buat. Kami hanya ingin memberikan penghormatan setinggi-tingginya bagi band yang sudah mengubah wajah dunia dalam lima puluh tahun terakhir. Kami hanya ingin memanjatkan doa sekaligus berterima kasih atas musik-musik dari John, Paul, George, dan Ringo yang secara harmoni dan progresi jauh dari kerumitan musik Bach, tapi dibuat dengan ikhtiar keras dan jiwa yang ditumpahkan setumpah-tumpahnya. Kami juga ingin RGB belajar dari sari-sari perjuangan The Beatles, bahwa rumit itu tidak selamanya penting. Ketika kamu bermain dengan jiwa dan hati yang bertujuan demi keluhuran estetika itu sendiri, kamu akan didengar. Kamu akan mendunia.

Tentang Ririungan Gitar Bandung

Ririungan Gitar Bandung (RGB) adalah kelompok ensembel gitar untuk umum yang didirikan pada bulan Januari 2009. Ensembel yang berada di bawah payung KlabKlassik ini, menyelenggarakan latihan secara rutin seminggu sekali di bawah binaan Sutrisna, Kristianus Tri Adisusanto, dan Yunus Suhendar. Sistem latihannya yang terbuka untuk umum membuat RGB diisi oleh orang-orang dari beragam usia dan latar belakang. Pada bulan November 2009, RGB tampil di konser tunggal perdananya dengan tajuk Ririungan Gitar Bandung: Maen!. Setelah itu, RGB rutin tampil di acara-acara seperti konser sekolah musik, acara-acara komunitas serta penampilan di ruang publik. Setelah hampir empat tahun tidak menyelenggarakan konser tunggal, RGB berencana kembali menggelarnya di awal tahun 2013 dengan tajuk Ririungan Gitar Bandung Main The Beatles.

Personel RGB dalam konser menampilkan karya-karya The Beatles ini adalah: Ilalang Dzahira Anwar, Nasrullah Putra, Rendy Lahope, Adli Sabila Jannatul Ma'wa, Edo Persadanta, Johanes Dodi, Alkautsar Purnama Agung, Kristianus Tri Adisusanto, Prabu Perdana, Deni Ramdani, Bagas Budi Widya, Trisna Karisma, Tubagus Pandu Mursahdo.





Karya-Karya yang Akan Ditampilkan

Tidak hanya RGB, konser ini juga akan menampilkan Ammy Alternative String, Bandung Guitar Society, Minorchy BNZ, Royke Ng Kuartet, Andi Danial - Syarif Maulana, dsb yang akan menampilkan karya-karya The Beatles seperti:

Because
Blackbird
Come Together
Drive my Car
Eleanor Rigby
Fool on The Hill
From Me to You
Hey Jude
If I Fell
In My Life
I Saw Her Standing There
I Want to Hold Your Hand
Let it Be
Long and Winding Road
Norwegian Wood
Penny Lane
Yesterday

Google Twitter FaceBook

10.1.13

Klab Dongeng: Petualangan Tiga Ekor Kambing


Google Twitter FaceBook

26.10.12

Musik Sore dan Diskusi bersama Ammy Alternative Strings: Bagaimana Mengapresiasi Musik secara Live?



Minggu, 28 Oktober 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Penampilan musik secara live tentu saja bukan hal yang aneh di sekitar kita. Kita bisa menemukannya di pinggir jalan, restoran, café, mal, hingga stadion sepakbola. Seiring dengan kecanggihan teknologi, penampilan live tersebut sering terlalu disayangkan untuk hanya disaksikan. Rata-rata orang dengan gadget canggihnya mengabadikan momen langka tersebut agar bisa dikonsumsi kembali di kemudian hari. Namun mari kita pertanyakan ulang: Jika momen live ditujukan agar para apresiator bisa merasakan musik dengan segenap indranya -hal yang tidak bisa maksimal jika disaksikan lewat layar kaca-, maka tidakkah aneh momen tersebut dikembalikan ke "layar kaca" lewat gadget? Dalam arti kata lain, tidakkah aneh ketika jarak antara musisi dan apresiator sudah begitu dekat, kita jauhkan kembali?

Hal ini akan kita perbincangkan bersama-sama dengan Kang Ammy Kurniawan dan kelompok Alternative Strings-nya. Bukan hanya lewat diskusi kata-kata, melainkan juga diskusi bunyi dan rasa.

Google Twitter FaceBook

21.10.12

Siapa Mau Ikut Workshop Gratis Kaligrafi & Origami, Bersama Seniman & Crafter Dari Kyoto?



Teman-teman,
Pada hari Minggu, 28 Oktober 2012, Pk. 10.00 Wib, Tobucil akan kedatangan teman-teman seniman dan crafter dari Kyoto, Jepang. Mereka adalah Taishi Tominaga, Yoko Takimura, ArtUnit Cocoa, Chisato Asano. Teman-teman ini akan berbagi ilmu 'shodo' (teknik kaligrafi Cina & Jepang) serta Origami. 

Workshop ini gratis. Bagi yang tertarik untuk mengikutinya, silahkan bisa mendaftarkan diri ke Tobucil & Klabs 022 4261548 (senin s/d minggu, pk. 09.00 - 20.00 Wib). Alat dan bahan disediakan penyelenggara. Namun akan lebih baik jika setiap peserta membawa lem, pensil dan penghapus sendiri. Ayo buruan daftar jangan sampai ketinggalan.

Workshop ini kerjasama Tobucil & Klabs dan UNKL 347



Animasi karya ArtUnit Cocoa
Google Twitter FaceBook

19.10.12

KlabKlassik Edisis BIncang-Bincang: Bertualang Bersama Tarkus

Minggu, 21 Oktober 2012
Pk.15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56, Bandung
Gratis dan terbuka untuk umum
Tarkus adalah makhluk yang muncul dari letusan gunung berapi. Ia melawan sejumlah musuh berat sebelum bertemu dengan lawannya yang paling pamungkas: Manticore. Sayangnya, melawan yang terakhir ini, Tarkus takluk. Meski takluk, kekalahannya menimbulkan versi lain dari Tarkus, yaitu Aquatarkus: Tarkus yang muncul dari air.
Cerita di atas -meski absurd- digambarkan dengan brilian dalam musik gubahan band progressive rock Emerson, Lake & Palmer berjudul Tarkus. Lagu Tarkus dibagi dalam tujuh bagian yang totalnya berdurasi 20 menit 35 detik. Bagian-bagian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Eruption ; 0:00 - 2:43
2. Stones of Years ; 2:44 - 6:28
3. Iconoclast ; 6:29 - 7;44 
4. Mass ; 7:45 - 10:56
5. Manticore ; 10:57 - 12:49
6. Battlefield ; 12:50 - 16:41
7. Aquatarkus ; 16:42 - 20:41

Meski terdengar jenaka, namun ada versi yang mengatakan bahwa Tarkus adalah metafor dari komunisme. Komunisme berhadapan dengan kapitalisme yang diwakili Manticore. Meski komunisme kalah, namun idenya tetap bergema dalam bentuk Tarkus yang baru yaitu Aquatarkus. Karya yang ditulis tahun 1971 itu dimainkan oleh formasi trio yang terdiri dari Keith Emerson (keyboard), Greg Lake (bas) dan Carl Palmer (drum). Tidak bisa dipungkiri, lagu ini adalah salah satu yang paling fenomenal, rumit, tapi juga sukses dalam sejarah rock. 

Mari mengapresiasi dan memperbincangkan, agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selamat telinganya!

Kisah petualangan Tarkus dalam gambar.

Mengapa tidak semua kegiatan KlabKlassik membahas musik klasik? Ini dia pertanggungjawabannya.
Google Twitter FaceBook

15.10.12

Kami Punya Cerita #4


Google Twitter FaceBook

27.6.12

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Mengenal Musik Ska

Minggu, 1 Juli 2012
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Pk. 15.00 - 17.00
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Narasumber: Rahardianto



Salah satu genre musik yang sudah cukup familiar di telinga banyak orang. Sekitar akhir tahun 90an, ska mengalami booming luar biasa di Indonesia, kembali ke masa itu, ska bukan hanya menjadi konsumsi mereka yang berada pada zona subkultur, tetapi juga menjadi konsumsi mainstream sebagaimana boyband/girlband saat ini.
Sebagaimana musik yang laku secara musiman (baca: trend), ska pun punah di tahun kedua eksistensi mereka di media elektronik lokal. Tidak sedikit yang menyebut bahwa musik ini hanyalah sekedar musik musiman, yang bahkan hingga detik ini, hamper tidak pernah lagi terdengar gaungnya. Lalu benarkah ska hanyalah sebuah genre musiman? Untuk di Indonesia, fenomenanya memang demikian. Hal yang berbeda adalah ketika melihat ke akar kemunculannya, Ska bukanlah genre musik tahun 90an, gelombang pertamanya sudah muncul sejak akhir 1950an di Jamaica, bahkan sebelum kemunculan Reggae.
Dalam perkembangannya, ska telah banyak berevolusi bahkan hingga bentuk yang sama sekali berbeda dengan embrio nya. Perkawinan silang sebagai proses akulturasi dengan genre musik lain pun telah dilakukan sepanjang perjalanannya, yang melahirkan belasan bentuk baru, lengkap dari yang masih membawa gen nenek moyangnya hingga yang terdengar sebagai sebuah genre musik yang sama sekali baru.
Google Twitter FaceBook

23.6.12

KlabKlassik Edisi Playlist #14: Musik Indonesia Abad ke-21

Minggu, 24 Juni 2012
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Pk. 15.00 - 17.00
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Latar Belakang Edisi Kali Ini 

Sebuah survey singkat tentang kondisi musik Indonesia abad 21 (tahun 2000 - skrg) yang dilakukan penulis terhadap sejumlah orang yang bukan pelaku musik, memunculkan kegalauan tersendiri: tidak ada yang bernada positif, dengan dua poin utama yaitu musik industri yang semakin monoton serta berkurangnya kualitas musik yang ditutupi dengan penampilan yang berlebihan demi mengejar profit. Pada saat survey, penulis memang hanya mengarahkan kepada musik Indonesia secara general, dan dari hasilnya sangat terlihat dominasi musik industri pada pola pikir umum. 

Bagaimana dengan kita, setujukah dengan pendapat tersebut? 

Pada edisi playlist kali ini kita akan mencoba menelisik lebih dalam mengenai musik Indonesia dengan konteks kekinian. Tidak spesifik tentang musik industri, tidak juga spesifik tentang kontemporer, atau musik sastra, tetapi secara keseluruhan, yang berarti boleh dari jenis apapun. Silakan bawa sebuah musik hasil karya orang Indonesia setelah tahun 2000 yang menurut anda sukai. Bersama-sama akan kita dengarkan dan apresiasi. 

Tentang Edisi Playlist 

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin. 

Tatacara Peserta 

kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Google Twitter FaceBook

17.6.12

Slideshow Presentation Mabuhay Photojournalism


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin