Showing posts with label Tobucil Minggu ini. Show all posts
Showing posts with label Tobucil Minggu ini. Show all posts

2.6.15

Berani Bicara Lewat Bunga Mimpi



Cara duduk Ulfah Elfani tidak setenang biasanya. Mahasiswi UNISBA itu lebih banyak bergerak. Kue kering yang dia beli sebelum bergabung dengan rekan kelas Public Speakingnya langsung ludes sebelum ujian mulai. Ulfah hanya bisa tertawa gugup saat Theoresia Rumthe menyebut namanya untuk mempresentasikan tugas akhirnya.

Ulfah langsung memposisikan dirinya di hadapan teman-teman dan tiga orang juri yang siap menghakimi caranya berbicara di depan umum. Dengan suara menggelegar, dia menceritakan bunga tidur yang paling diingatnya.

Sore itu, Ulfah bercerita tentang kondisinya yang merasa tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana kehidupan nyata. Dia baru menyadari hidup dalam mimpi saat kesulitan menggerakkan ponsel dalam genggamannya. Saat dia pandangi, ponsel itu juga tidak serata aslinya.

“Di sana saya merasa harus bangun, tapi agak kesulitan. Akhirnya malah jadi ereup-eureup,” katanya. Gadis kelahiran 20 tahun lalu itu pun membandingkan mimpinya dengan film Inception. Film Hollywood yang dimainkan oleh bintang film Titanic, Leonardo Di’Caprio  itu menceritakan mimpi di dalam mimpi. Sang sutradara, Chirstopher Nolan membuat para pemerannya mampu menciptakan mimpinya sendiri, hingga masuk ke mimpi orang lain. Lewat Inception, dia membuat para penontonnya terhibur sekaligus mengerutkan kening saat melihat adegan demi adegan yang jauh dari nalar.

Sambil menceritakan bunga mimpinya, Ulfah tak berhenti menggerakkan tangannya. Seolah dia sedang berusaha menyingkirkan kegugupannya. Dia juga sesekali berhenti untuk mengingat apa yang akan selanjutnya dia ungkapkan di depan peserta kelas lain.

Meski begitu, paling tidak sekarang Ulfah bisa bicara di hadapan banyak orang lebih lancar daripada sebelum dia mengikuti kelas Public Speaking. Ulfah mengaku punya krisis kepercayaan diri, terutama jika harus berbicara.

Itulah salah satu alasan yang membuatnya nekad mendaftarkan diri di kelas bimbingan Theo. Selain dia mengaku sebagai fans nya Theo, Ulfah juga mengatakan kalau selama ini dia masih kebingungan menemukan minatnya. Dengan mengikuti kelas yang hadir dua kali dalam satu minggu di Tobucil and Klabs itu, gadis asal Purwakarta itu berharap bisa menemukan hal yang dia minati.

Sebagai mentor, Theo tidak banyak mengajari semua peserta kelasnya. Selama tiga dari tujuh pertemuan, Theo hanya membagikan beberapa teknik dasar cara berbicara di depan umum. Dia lebih banyak mendorong para peserta untuk lebih aktif berbicara lewat berbagai tugas. Theo berusaha mengubah kebiasaan bicara para peserta kelasnya, menggenjot semangat peserta kelasnya untuk berbicara lebih lugas dengan memainkan nada, mimik wajah, posisi, dan gerak tubuh. Memang, hal tersulit dari kelas Public Speaking adalah mengubah kebiasaan.

“Delapan kali pertemuan memang kurang maksimal, itu makanya saya selalu meminta mereka berlatih di rumah. Kuncinya memang berlatih mengubah kebiasaan sepanjang hidup,” ujar Theo.

Ulfah bukan satu-satunya peserta kelas berusaha keras mengubah cara bicaranya. Inne Anastasia, Tani Indira Dewania, Erick Adyowibowo Soemantri, dan Muhammad Sabil adalah empat peserta lain yang selalu setia datang ke Tobucil and Klabs setiap Selasa dan Jumat sore, berusaha keras supaya bisa berbicara lebih baik. Meski belum selancar dan semenarik para MC kondang, mereka sudah berani tampil “cuap-cuap” di depan umum.

Kelas Public Speaking ke-16 baru selesai dan Theoresia Rumthe sedang mempersiapkan kelas selanjutnya. Nah, buat yang tertarik mengikuti jejak Ulfah, Inne, Erick, Sabil, dan Tani, siap-siap ya! 




Google Twitter FaceBook

21.3.14

DIY Simple Science with HackteriaLab!

Tepat hari Kamis kemarin, tobucil kedatangan tamu dari Swiss. Mark yang akrab disapa Marjono karena lama tinggal di Jogja ini mempresentasikan dirinya sebagai wakil dari komunitas Hackteria. Apa itu Hackteria? Pada mulanya kami juga bingung untuk beberapa saat, namun setelah Mark menjelaskan, kami lalu ber “ooooo...” ria.


Kebanyakan orang ketika mendengar kata science pasti akan langsung berkerut kening. Mengingat bahwa ketika di sekolah dahulu pelajaran kimia, fisika, dan pelajaran lainnya yang berscience gampang sekali membuat kita pusing kepala. Hahaha. Mark sebagai penggila per-science­-an sangat tidak setuju pada hal itu. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuat hatinya tergerak untuk membuka wawasan orang-orang bahwa “Hey, science isnt so hard. It is simple and fun.” Ucap bule gondrong itu.

Mark, kanan berkaos coklat
Setelah berkeliling dari kota ke kota di seluruh dunia untuk mempresentasikan apa yang dibawanya, Mark akhirnya bertandang ke Indonesia. Berawal dari pertemuan dengan Ucok penggiat organisasi Life Patch yang juga bergerak di bidang citizen initiative in art, science and technology maka cocoklah sudah, Mark akhirnya bergabung. Berhubung topik yang dibawa olehnya sangat pas untuk kebutuhan di negeri kita tercinta ini.

Mark beserta teamnya membawa beberapa alat sederhana – yang bagi orang awam seperti saya sempat bertanya-tanya, apa alat itu sebenarnya? – dari bahan-bahan recyle yang ternyata dapat menciptakan alat baru yang luar biasa.


Pada awal diskusi Mark memperkenalkan komunitas Hackteria, dia memperlihatkan hasil kunjungannya ke suatu sekolah di Indonesia saat mengajarkan siswa-siswanya untuk membuat Hardware dari bahan CPU tak terpakai namun menjadi Hardware yang berguna bagi CPU lainnya, setelahnya ia memperagakan alat-alat ciptaannya satu per satu. Yang pertama adalah mikroskop. Bukan sembarang mikroskop loh, alat ini dibuat Hackteria dari webcam biasa. Webcam yang banyak terdapat di laptop atau bahkan kamera smartphone teman-teman sekalian. Amazing! Lalu alat transport suara. Bentuknya kecil, hanya terdiri dari batere, chip-chip kecil, dan voala. Sentuhkan satu jarimu di plat kuningan dan satu jarimu yang lain di tempat manapun maka akan keluar suara yang berbeda-beda. Lalu ada ikan-ikan, ternyata eh ternyata ikan itu Mark bawa bukan karena dia memeliharanya, namun ternyata ikan itu adalah sumber energi penghasil listrik!

Mark memperagakan kamera mikronya.
Berbagai macam perangkat Mark tampilkan dalam diskusi kemarin, selain menimbulkan kekaguman, kita pun menyadari bahwa ternyata science tidaklah serumit yang dibayangkan. Bahkan, kita bisa membuatnya sendiri dari bahan-bahan disekitar kita. J

Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :)
Setelah tiga jam terpesona oleh presentasi Mark, diskusi pun selesai ditutup dengan performance Larry Bang Bang, sang tattoo artist unik yang menerapkan bakat briliannya dengan menggunakan BOR! Tentu saja, para peserta yang hadir langsung mengantri untuk mencoba bor tatonya Lary. :D

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

16.3.14

Satu Bulan Sekali ber-CRAFTPARTY!!!


Berawal dari kegiatan saling tukar kado antara para crafter, maka timbulah ide untuk mengembangkan pertukaran kado tersebut menjadi sesuatu yang bermakna. Tidak hanya sekedar mendapatkan kado yang berupa barang jadi, tapi juga saling berbagi pengetahuan sederhana dalam berkreasi.


Pesta pertama dimulai bulan ini yaitu Maret 2014 tepat hari Sabtu tanggal 15. Tema pertama adalah Friendship-Bracelets. Yup, membuat gelang persahabatan dari jalitan benang dengan pattern yang dapat dipilih sesuka hati di sini. Cocok sekali bukan. Sama seperti CRAFTPARTY ini, semoga saja dengan saling berbagi pengetahuan baru, bisa terjalin persahabatan yang erat dalam berkreasi. J





Siap-siap untuk tema bulan April teman-teman; Daur Ulang di hari Bumi! Siapapun yang berminat silakan hadir ke Tobucil and Klabs, jalan Aceh 56, informasi lebih lanjut hubungi 022-4261548. Silakan bawa ide proyek daur ulangmu sendiri! Lets go Craft Party!

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

22.2.14

Step By Step Menuju Final Project!

Seperti di angkatan-angkatan sebelumnya, pada akhir silabus pertemuan selalu akan ada final project. Sebuah karya agung hasil pembelajaran dari seluruh pertemuan dan kemudian di sidangkan sebagai pertanggung-jawaban. Proses sidang karya nantinya tidak akan terpaku kepada hasil, tetapi juga proses kreatif selama karya tersebut dibuat. Dimulai dari latar belakang pemilihan topik, proses pengumpulan data, riset, dan aspek lainnya.



Setelah menempuh tujuh angkatan, kelas menulis feature angkatan kedelapan kali ini lebih diawasi secara ketat oleh sang mentor Adi dalam melangkah menuju final. Belajar dari angkatan sebelumnya, angkatan kedelapan ini sudah memulai fokus pada final project di pertemuan ke enam. Dimulai dari mengangkat tema atau topik karya, lalu di uraikan secara terbuka baik oleh teman-teman peserta kelas maupun oleh sang mentor.

Sugi memilih topik yang langsung fokus, satu titik, dengan satu masalah inti yang diangkat dalam berbagai sisi dan sudut pandang penulisan. Ia memilih topik ‘nelayan sampah sungai citarum’. Sedangkan Bobi memilih ‘underground dan saparua’ menurut Adi, topik yang Bobi pilih masih terlalu luas, pengekerucutan fokus pada topiknya masih diperlukan dalam pertemuan ini. Dengan metode sederhana yang tokcer Adi menuliskan topik pilihan Bobi pada selembar kertas kemudian menggambar peta pikiran dari topik tersebut. Teman-teman peserta lain membantu Bobi dalam menemukan fokus yang akan diangkat nantinya.

Lain Sugi, lain Bobi, lain pula ketiga perserta cantik ini, Ratna, Meitha, dan Langit. Mereka memilih tema besar dari kesastraan namun dengan pemilihan topik yang berlainan sama sekali. Meitha pada mulanya ingin mengangkat sebuah resort indah di Bali namun urung karena setelah ditelaah hanya bisa menghasilkan sedikit sekali fokus yang menarik. Ia akhirnya memilih topik seorang penulis sastra wangi ‘Djenar Maesa Ayu’ untuk projectnya. Masih tentang sastra, perempuan manis asal Garut, Ratna, memilih topik ‘pameran sastra solo’ sebagai benih karya finalnya nanti. Lalu dari sudut pandang pembaca sastra, Langit memilih topik ‘pembajakan buku’. Sungguh sangat menarik!


Pertemuan ditutup dengan bekal ‘mentah’ dari topik masing-masing peserta untuk kemudian dibawa pulang dan tentunya mulai dieksekusi menuju sebuah karya agung dalam feature. :)

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

28.1.14

Memunguti Sudut Menarik di Pertemuan Ketiga

Tidak seperti biasanya, pertemuan kelas menulis feature kali ini bertempat di Taman Lansia dan dilakukan lebih awal yaitu hari Senin (27/01/14). Sebagai keberlanjutnya dari pertemuan minggu lalu, pertemuan kali ini tidak lagi membahas teori, namun penerapan langsung dari salah satu bagian menulis yaitu pre-writing.

“dengan terjun langsung ke lapangan seperti ini, para peserta dapat merasakan langsung bagaimana proses observasi itu, dan bagaimana mereka dapat menemukan sudut masalah yang akan diangkat dalam tulisan mereka nantinya.” Ucap Adi sembari memangku macbooknya.

Tepat pukul sembilan pagi peserta berkumpul dan mendapat arahan singkat dari mas Adi berhubung mas Zaky tak hadir. Para peserta pun diberikan waktu dua jam untuk berpencar menuju tempat observasi pilihannya masing-masing.



Pemilihan tempat taman Lansia merupakan hasil pemungutan suara para peserta, menimbang banyaknya spot yang menarik di sana. Seperti dua museum yang bersebelahan dengan taman tersebut. Museum perangko di sebelah kiri taman yang gratis biaya masuk, dan museum geologi di seberang yang penuh dengan pengunjung. Para peserta dibebaskan menentukan topik yang akan di angkat dalam tulisan sesuai dengan pilihannya masing-masing.

Tepat pukul sebelas, para peserta kembali berkumpul di taman dan sedikit berbagi kesan hasil kunjungannya. Museum perangko yang membagikan gantungan kunci gratis pada pengunjungnya, fasilitas museum yang kurang maksimal, koleksi perangko yang langka, hingga bincang-bincang singkat dengan petugas museum yang berhasil memberikan data pengunjung kepada salah satu peserta.


Setelah pertemuan kali ini, sebuah karya tulisan pun dituntut untuk dihasilkan agar proses menulis menjadi utuh. Penasaran dengan karya-karya yang akan dihasilkan? Mari kita lihat di pertemuan berikutnya. J

Google Twitter FaceBook

23.1.14

Seluk Beluk Feature dalam Pertemuan Kedua

Setelah sesi perkenalan pada pertemuan pertama, Kamis ini (23/01/14) menjadi pendalaman terhadap feature itu sendiri. Anggap saja pertemuan ini adalah sesi bersahabat dengan feature. Bagaimana sifat sang feature, dan bagaimana menjadi dekat dengan jenis tulisan unik ini. Sebagai pembuka pertemuan, mas Adi membagikan ‘tubuh’ feature kepada peserta yang hadir.



Pre-Writing
Sebuah tulisan atau karya pasti memiliki karakternya masing-masing. Seperti halnya angka-angka dalam rumus matematis, jenis tulisan pun terutama non-fiksi berkelompok dalam kategori yang berbeda-beda. Dalam karya jurnalistik, bentuk umum yang berbeda disebut News dan Views yang terbagi-bagi lagi menjadi jenis tulisan yang lebih spesifik.

Jenis tulisan bentuk News dibagi berdasarkan derajat berita, cara peliputan, kedalaman berita, teknik penulisan, wilayah, dan spesialisasi dalam bidang tertentu. Sedangkan Views menyajikan opini atau pendapat, dan ulasan atas suatu topik yang dapat disajikan ke dalam jenis yang berbeda-beda. Seperti tajuk rencana, artikel, kolom, dan lain-lain.

Tulisan feature dapat dikatakan sebagai pengembangan dari bentuk Views yang memiliki bentuk penyajian yang unik. Seperti yang dijelaskan oleh mas Adi, keunikan feature dapat dihasilkan dari unsur-unsur pembangun tulisan yang sama sekali tak terduga. Contoh sederhananya, dalam menentukan sudut pandang masalah dalam tulisan. Jika berita menyajikan topik banjir yang sedang hangat dengan menuliskan korban-korban, sejauh mana pemerintah turun tangan, atau keadaan di TKP, di dalam feature kita dapat menuliskan seseorang yang justru dapat mengais rejeki lebih banyak di saat banjir seperti tukang pemulung, ojek perahu, dan lainnya yang sama sekali berbeda.

“salah satu sifat dasar feature yang menjadikannya sebuah tulisan unik adalah tulisan yang dihasilkan tidak akan pernah terasa basi.” Sahut mentor berambut gondrong itu.

Selain menentukan sudut pandang masalah, yang harus dilakukan pertama kali dalam menulis feature adalah menentukan atau mengetahui sejauh mana fokus yang akan dibangun dalam tulisan. Menurut Zaky, hal tersebut penting dilakukan karena akan memudahkan proses penulisan nantinya, lalu berlanjut pada menggali bahan yang dibutuhkan dengan observasi, wawancara, dan mencari sumber data yang relevan (dapat dipercaya).

Writing
Layaknya tulisan kebanyakan, sebuah judul pasti di letakkan di awal tulisan, tidak mungkin di akhir kan (hehehe). Tentunya feature pun begitu. Hanya saja pada prosesnya, menentukan judul dalam feature dapat dilakukan setelah tulisan selesai dibuat. Di dalam feature judul juga menjadi sebuah nilai jual dari bentuk tulisan itu sendiri. Harus berkenaan dengan fakta yang ada dalam berita tetapi tidak menjelaskan isi berita. Memilih kata yang ringkas dan menarik perhatian pembaca.

Selain judul tulisan, perbedaan lain terletak pada lead (pembuka/teras) berita. Lead dalam feature dapat disajikan ke dalam beberapa jenis seperti bercerita, pengandaian, pertanyaan, kutipan, dan paparan deskriptif. Kedudukan lead pada feature pun menentukan semenarik apa tulisan itu bagi pembaca. Berkaitan dengan judul, lead yang tepat dalam feature dapat meningkatkan rasa penasaran pembaca pada saat mereka melirik tulisan itu pertama kali.

Selanjutnya adalah isi berita. Fokus masalah yang dipaparkan jangan sampai menyimpang. Memilih diksi dan tatanan kalimat yang menarik memang penting, namun tetap harus sesuai dengan fakta yang didapatkan. Kalimat-kalimat pembangun berita pun sebaiknya adalah kalimat sederhana yang pendek namun kronologis.

“sebaiknya menggunakan kalimat aktif. Dengan menggunakan kalimat aktif akan mempermudah dalam meneruskan tulisan daripada kalimat pasif yang biasanya membuat kalimat lanjutannya mati.” Ujar Adi.

Membangun penutup tulisan dalam feature pun dapat disajikan dengan bentuk yang bermacam-macam, seperti bentuk ringkasan, penutup yang menyengat, bentuk klimaks, atau penutup yang mengambang.

Post-Writing
Sebuah prosedur akhir dari proses menulis adalah editing. Proses editing terbagi ke dalam dua tahap yaitu editing isi dan editing redaksional. Dalam tahapan ini, sang penulis membaca ulang keseluruhan tulisan dan meneliti kalimat atau paragraf yang digunakan. Apakah terlalu panjang, atau tidak berkaitan. Pemilihan kata pun dilihat ulang, apakah penggunaan kata sudah sesuai atau berlebihan. Apakah isi tulisan sudah sesuai dengan visi, tidak mengandung SARA dan lain sebagainya.

----

Setelah mendalami cukup lama, para peserta pun tenggelam dalam pemahamannya masing-masing. Sebagai keberlanjutan dari pertemuan kali ini, mas Adi dan Zaky memberikan tugas khusus untuk pertemuan berikutnya yaitu... terjun ke lapangan! :)


Google Twitter FaceBook

16.1.14

Kelas Menulis Feature; Pertemuan Pertama di Angkatan #8


Berkenalan ataupun memperkenalkan diri tentunya sudah menjadi sebuah petanda bagi setiap pertemuan. Selain nama, pekerjaan, ataupun identitas lainnya yang umum diucapkan ketika berkenalan pasti selalu disertai alasan. Seperti pada kelas menulis feature hari ini (16/01/14), bagaimana para pesertanya dapat berkenalan satu sama lain. Tidak hanya pada orang-orang saja, tetapi juga berkenalan dengan feature itu sendiri.
sang Mentor: kiri; jaket merah: Adi Marsiela, kanan; jaket coklat: Zaky Yamani

Angkatan kali ini berjumlah tujuh orang, yang terdiri dari Ratna, Sugiharto, Bobi, Mutia, dan ketiga perserta lainnya yang berhalangan hadir. Ketertarikan mereka pada penulisan feature mempertemukan mereka walaupun mereka berasal dari tempat yang sama sekali berbeda. Ratna seorang cerpenis dari Garut, lalu Bobi dan Sugiharto mahasiswa jurnalistik, juga Mutia yang mengambil jurusan pendidikan Biologi.

Seperti angkatan-angkatan sebelumya, kelas menulis feature dimentori oleh Adi Marsiela, Zaky Yamani, dan Anwar Siswadi. Pada pertemuan pertama, para mentor tidak langsung lompat menuju materi. Mereka memperkenalkan apa yang akan mereka ajarkan selama delapan pertemuan kedepan pada para peserta. Apa itu feature, bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan dalam menulis feature, dari mana saja ide-ide yang dibawakan dalam tulisan feature berasal, bagaimana cara menggali ide-ide menarik yang akan ditulis, hingga membahas berbagai permasalahan dalam menulis yang sering dialami para peserta.

Walaupun pada dasarnya feature bukanlah tulisan fiksi, namun hasil karya yang dihasilkan haruslah semenarik tulisan fiksi. Bagaimana membangun lead yang menarik, mengolah fakta-fakta dalam permasalahan yang diangkat ke dalam tatanan kalimat, frasa, dan diksi yang tepat, hingga bagaimana tulisan bisa membawa pembaca menekuni tulisan sampai akhir tanpa bosan, dibahas secara umum sebagai pengantar.


Tidak berheni sampai disitu, cerita-cerita menarik dari karya wartawan-wartawan mengagumkan pun dipaparkan sebagai contoh. Seperti the perfect storm, fear and loathing in las vegas, dan karya-karya sang mentor yang membumi, menjadikan feature sebagai sosok yang semakin membawa perhatian.

Apa yang didapatkan para peserta setelah berkenalan dengan feature pastilah berbeda-beda, namun tidak berhenti sampai disitu saja. Walaupun perkenalan seringkali terjadi cukup singkat, kelanjutan dari sebuah perkenalan bisa berjalan hingga puluhan tahun bahkan lebih. Sama halnya dengan perkenalan kali ini. Sebuah jembatan menuju karya-karya baru akan lahir dalam feature. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya!




Google Twitter FaceBook

25.11.13

Penutupan yang Menjadi Awalan Bagi Peserta Public Speaking Angkatan 10

 Sudah satu bulan Kelas Public Speaking angkatan 10 ini menjalani masa-masa mentoring menyenang-kan bersama mba Theo. Hari ini kelima peserta kelas yang terdiri dari Rumi, Ari, Febri, Elan, dan Warkim wajib mengikuti final test sebagai bagian dari pembuktian mereka dalam ber-public speaking.

Dentuman beat boxing dari Elan menjadi tanda pembuka acara final test public speaking kali ini, dihadiri oleh mba Elin Bunda ARC dan Adi Marsiela sebagai dewan juri yang akan menilai penampilan mereka, dan tak lupa sang mentor tercinta Theoresia Rumthe.

Dalam berbicara di depan umum tentunya banyak sekali partikel yang menjadi pengaruh terhadap keberhasilan dalam menyampaikan sesuatu. Seperti gestur, intonasi, kejelasan vokal, ekspresi, kepercayaan diri, dan masih banyak lagi. Partikel-partikel itulah yang menjadi landasan penilaian juri dalam final test ini. Penampilan pertama diambil alih oleh Rumi, disusul oleh Warkim, lalu Ari, kemudian Elan, dan terakhir Febri. Walaupun membawakan tema yang sama sebagai bahan yang harus mereka sampaikan, namun warna yang terasa dalam penyampaian mereka sangatlah beragam.

dewan juri dan mentor
Setelah kelimanya tampil, dewan juri berdiskusi singkat dan memutuskan peserta favorit dalam kelas public speaking ini pada Ari, dan pemenang penampilan terbaik pada Elan. Walaupun pembawaan Ari sedikit panik, namun pada penampilannya ia unggul dalam intonasi dan kejelasan vokal, hal yang membuat nyaman bagi pendengarnya. Cerita yang Ari bawakan juga menarik meski konteks ceritanya kurang tersampaikan. Sedangkan Elan justru sebaliknya, ia dapat menyampaikan konteks dalam ceritanya tersampaikan dengan sempurna, hal itulah yang membuatnya menjadi peserta terbaik kelas public speaking angkatan 10 ini.

Selesai sudah periode angkatan 10. Walaupun begitu, bagi kelima peserta hal ini adalah sebuah awal bagi mereka. Berbagai pembelajaran yang mereka dapatkan tentunya akan berbeda-beda efeknya bagi masing-masing personal. Seperti apa perbedaannya? Berikut wawancara singkat dengan mereka.

Kesan apa yang tertinggal dalam diri kalian setelah mengikuti kelas public speaking ini?

Banyak sekali. Terutama kesadaran dalam seni berbicara. Ternyata kegiatan sederhana yang sering kita lakukan dalam keseharian itu tidaklah mudah jika ingin dilakukan dengan benar.

Apa yang kalian dapatkan setelah mengikuti kelas public speaking?

Rumi   : saya jadi bisa mengatasi kekurangan saya dalam berbicara. Dulu saya sulit mengatur nafas dan mengambil jeda ketika berbicara terutama presentasi, setelah mengikuti kelas ini saya jadi bisa mengambil langkah untuk mengatasi keterbatasan saya.
Warkim: sebuah kesadaran bahwa berbicara yang saya anggap sebagai hal yang kecil ternyata tidaklah sepele. Butuh persiapan dalam melakukannya. Berbicara kan juga tergantung kepada khalayak pendengar, entah itu teman-teman, orang tua, atau masyarakat umum, semuanya membutuhkan persiapan yang berbeda-beda.
Elan    : yah, selain ilmu dalam berbicara, saya juga mendapatkan teman-teman baru, proses belajar yang enak, dan tempat yang nyaman.
Ari    : lebih ke bagaimana teknik dalam berbicara sih, seperti macam-macam intonasi dalam bercerita contohnya smiling voice.
Febri   : Rasa percaya diri yang meningkat.

Selama satu bulan ini materi yang diajarkan oleh mba Theo kan berbeda-beda, menurut kalian materi yang mana yang menjadi favorit kalian?

Rumi     : materi cermin, dan spontanitas. Keren sekali, kita jadi bisa mengukur kemampuan diri kita yang sebenarnya. Tidak ada persiapan dan tema yang dipilih pun acak.
Warkim : semua materi favorit. Sebenarnya yang menjadikan materi kelas ini menyenangkan adalah cara penyampaian mba Theo yang asik.
Elan    : saat latihan vokal a,i,u,e,o dan tangtrill. Membuat saya sadar bahwa teknik berbicara itu ternyata tidak mudah dan banyak partikelnya.
Ari       : sama seperti Elan, saat latihan vokal. Saat itu saya jadi tahu ada jenis intonasi yang disebut smiling voice, keren sekali! Saat materi cermin juga seru.
Febri    : materi cermin! Kekonyolan yang timbul saat materi itu membuat kelas makin menarik.

Setelah mengikuti kelas ini, boleh dong kasih saran dan kritikannya sebagai masukan.

Cara penyampaian dalam memberikan materi sih tidak ada, sudah sangat enak dan asik. Paling itu aja sih, tantangan. Saat pembelajaran bagaimana jika kita dihadapkan pada pendengar umum langsung, bukan hanya teman-teman peserta kelas saja. Lalu kalau bisa peserta terbaik kelas angkatan pertama sampai angkatan saat ini berkumpul kembali untuk memperebutkan posisi yang terbaik dari yang terbaik, semacam lomba, pasti seru tuh!



Wah, terimakasih atas partisipasi kalian dalam kelas Public Speaking angkatan 10 ini ya. Semoga pengalaman ini menjadi awalan yang baik dalam seni berbicara bagi keseharian masing-masing. J

Google Twitter FaceBook

14.11.13

“Komedi Sepahit Kopi” Diskusi Buku Kumpulan Reportase Satu Dekade oleh Zaky Yamani

Berita yang menarik tentu dibuat melalui proses yang berliku. Proses itu terkadang tidak mudah dan sangat menantang, sehingga ceritanya tidak kalah menariknya dari hasil reportase itu sendiri....

Begitulah sebuah kutipan yang tertera di belakang jilid buku yang didiskusikan kali ini. Komedi Sepahit Kopi memang berisikan kumpulan artikel bergaya feature namun lebih personal. Keluar dari gaya khas yang biasanya dibawakan oleh seorang reporter. Membawa hal yang ‘tidak biasa’ pastilah proses di baliknya pun tidak biasa. Itulah sebab banyak sekali teman-teman Tobucil berkumpul di beranda sore ini, Jumat 8 November 2013.

Diskusi dibuka dengan suara merdu pianika yang dibawakan oleh Siska kemudian disusul sapaan hangat dari Adi Marsiela sebagai pembawa acara. Setelah sedikit latar belakang buku ini diutarakan, Mas Zaky memberikan pengantar dalam diskusi dengan menjelaskan perkembangan pemikirannya mengenai permasalahan-permasalahan yang ia angkat di dalam bukunya. Banyak sekali kisah yang melatar-belakangi tulisan reportasenya. Seperti kisah keseharian seorang guru tunanetra yang ditolak mengikuti ujian pegawai negeri, bagaimana buruknya fasilitas maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah bagi masyarakat penyandang cacat, dan hal-hal lain yang tidak mudah orang sadari namun dekat dengan keseharian kita.

Terdapat sepuluh artikel dalam buku ini. Mari kita sebut saja sepuluh cerita. Berhubung hal-hal yang diangkat dalam buku ini adalah permasalahan yang begitu membumi. Bagaimanakah proses diskusi berlangsung? Berikut pemaparan singkat dari rasa penasaran teman-teman yang hadir.

kiri: Adi Marsiela, kanan: Zaky Yamani
Bagaimanakah proses pada diri Mas Zaky dalam menulis buku ini? Tentunya butuh niatan kuat untuk melawan arus media yang mainstream.

Banyak-banyak ngobrol saja dengan orang-orang di sekeliling. Dengan mengobrol dapat membuat saya lebih sensitif. Ketika saya sensitif akan timbul banyak pertanyaan dalam diri saya, dan menurut saya pertanyaan adalah modal bagi wartawan.

Apakah penyeleksian sepuluh cerita selama satu dekade dalam buku ini sepenuhnya diseleksi oleh Mas Zaky sendiri ataukah ada campur tangan orang lain? Editor misalnya.

Sepenuhnya saya seleksi sendiri, dan tidak menentukan tema tertentu juga. Hanya pengkoreksian bahasa dilakukan oleh istri saya.

Kenapa orang harus membaca buku ini?

Saya hanya ingin pembaca tahu dengan cara memberikan potrait lain yang terjadi dan itu terdapat di kota yang sama.

Apakah ada komunitas reporter yang khusus meliput permasalahan yang minor seperti yang Mas Zaky utarakan dalam buku ini?

Tidak ada, mengangkat permasalahan yang begini itu tergantung pada minat dan ketertarikan wartawan masing-masing.

Bagaimana prosesnya menuju keputusan untuk menuliskan liputan yang ‘tidak biasa’ ini? Apakah terdapat unsur tertentu ataukah hanya minat pribadi? Apakah tidak takut jika saja buku Mas Zaky ini tidak bisa diterbitkan karena terlalu ‘tidak biasa’?

Pertama-tama saya tidak mementingkan bahwa buku ini akan terbit atau tidak, yang penting tujuan saya terlaksana saja dulu. Memang pasti akan ada keterbatasan akses yang saya temui dalam prosesnya, namun bagaimana saya menyikapi keterbatasan akses tersebut itu lebih penting. Tidak ada unsur tertentu sih mungkin hanya minat. Bagi saya, apa yang dituliskan dalam buku itu adalah wajah berita.

Adakah tujuan lain dari terbitnya buku ini? Misalnya Mas Zaky berharap sebuah tindak lanjut pemerintah atau siapapun berupa tindakan sebagai respon dari cerita-cerita yang di paparkan dalam buku ini?

Untuk pemerintah sih tidak ada, saya sudah hopeless. Saya lebih mengharapkan bagian dari masyarakat biasa namun memiliki keberanian untuk bergerak. Walaupun tujuan saya tidak cenderung ke arah sana. Ada pembaca yang tahu dan paham juga itu sudah cukup.

Sebenarnya bagaimanakah batas subjektivitas dalam menulis berita itu?

Tergantung lokasi dan perusahaan pers-nya. Ada yang dibatasi oleh negara, ada yang dibatasi oleh perusahaan medianya saja. Walaupun sebenarnya negara bisa saja membatasi jalur-jalur subjektivitas dalam berita apabila suatu masalah berada di luar regulasi. Saya sih mengambil contoh dari seorang wartawan Amerika GlenGreenwald yang sangat berani dalam mengutarakan pemikirannya di dalam sebuah berita. Inginnya seperti dia, bisa menentukan penilaian benar atau salah dari wajah berita jika bukti-bukti memang lengkap.


Alunan lagu wajib versi pianika yang dibawakan oleh Siska menjadi penutup diskusi sore ini.
Bagi teman-teman yang penasaran dengan buku dan bagaimana uniknya gaya reportase sang penulis, silakan mampir ke Tobucil Jl.Aceh 56. Masih tersedia namun terbatas loh! J

Google Twitter FaceBook

31.7.13

Panggung Cerita Pendek Angkatan #14


Pertemuan rutin Angkatan XIV Jumat sore sirna sudah. Rabu (24/7) lalu menjadi penentuan bagi ke delapan peserta untuk unjuk gigi cerita pendek (short story) mereka. Selama kurun itu, karya mereka akan dikritisi oleh pengajar setia klab, Sophan Ajie dan Fransiskus Pujianto. Belum lagi, sang penulis Satu Masa di Cielo: The Chocolate Stories, Nugraha Sugiarta,  hadir sebagai juri tamu yang siap memanaskan suasana sidang karya. Tak pelak, rona wajah tegang dan tenang bergantian menyelimuti para peserta.
  
Sebagai role model
Apa jadinya ketika seorang bocah tak mengenal televisi? Kira-kira begitulah yang digambarkan Tombak Hologram Sira karya Riszky. Kritik satire-nya yang mengkritik teknologi yang menggerus daya imajinasi dan permainan tradisional anak-anak bangsa kita. Karya ini pula terinsiprasi dari larik puisi Sapardi Djoko Damono, “Tuan, jangan kau ganggu permainku ini.” (dalam puisi yang berjudul Di Tangan Anak-anak)

Namun, sayang, Tombak Hologram Sira belum menunjukkan konflik nyata para tokohnya. Ketiga juri sepakat cerita pendek Riszky membutuhkan penambahan beberapa adegan sehingga fokus ceritanya menjadi jelas. Sebagai penampil pertama, Riszky memberikan kesan dan contoh bagi peserta lainnya. Tentu saja peserta lainnya yang memperhatikan Riszky menyiapkan berbagai stategi untuk penampilannya masing-masing.

Terkecoh
Setelah Riszky, peserta lain yang membuat takjub para juri adalah Nadhira dan Nia. Nadhira, gadis remaja Sekolah Menegah Pertama ini, menjagokan karyanya yang berjudul Kalung dari Daun Singkong. Karyanya menceritakan perjuangan gadis cilik-tomboi yang terobsesi dengan sebuah kalung yang terbuat dari daun singkong. Kesederhanaan cerita dan pesan moral yang ditampilkan begitu arif sehingga para juri terkecoh karya Nadhira dibuat dalam kurun waktu yang lama. Sophan Ajie berkata, “Nadhira kamu itu nyebelin banget! Dalam waktu tiga jam bisa ngehasilin karya yang baik dan layak untuk dikirim ke redaksi surat kabar...”

Lain dengan Nia, yang tampil pada urutan ketujuh. Selain pembuatannya yang singkat,  semua juri pun terkecoh pada tokoh aku yang dibikin oleh Nia ini. “Saya kira perempuan penghibur, eh ternyata salah kira...”, ujar Nugraha Sugiarta. Penggalan cerita pendeknya mampu membingungkan para pembaca: Sebut saja namaku Kartini…/Seharusnya aku tinggal di hutan, bukan di jalan/Seharusnya pisang, mangga dan semangka bisa kudapat dangan gratis pemberian sang alam tapi sekarang aku harus susah payah membelinya dengan tarian, lompatan, dan berbagai aktrasiku/Seharusnya senyumanku manis tapi sekarang senyumku hilang tertutup kabut hitam polusi.

Ya, Menari di Atas Pelangi menghadirkan sosok monyet sebagai tokoh utama. Penulis sendiri lewat cerita pendeknya mengungkapkan kegeramannya melihat monyet-monyet yang bekerja paksa di jalanan. Walaupun penggunaan tata tulis yang masih tergolong berantakan, kekuatan cerita yang humanis dari sosok aku membuat para pembaca terenyuh.

Fokus cerita
Jangan bermain-main dengan kembang api, berbahaya! Maraknya kembang api di bulan Ramadan sudah menjadi tradisi. Melalui Senyuman Kembang Api, Fajar mencoba men-aku-kan dirinya sebagai kembang api dan melihat polimek yang terjadi di sekitarnya. Kritik juri sangat tajam mengenai cerita Fajar. Adanya dua fokus cerita dan hilangnya kolerasi antartokoh menyebabkan pesan yang disampaikan Fajar terlalu bercabang.

Hal yang sama terjadi pada Ana. Fokus cerita Sakit Jiwa dan Cinta masih kabur. Terinsiprasi dari pengalaman temannya, Ana berusaha mati-matian menunjukkan bahwa seseorang yang gila pun masih dapat merasakan apa itu cinta. Namun, Fransiskus Pujianto masih merasa greget bentuk cinta yang lain tersebut belum ditata dengan apik oleh Ana dalam ceritanya tersebut.

Totalitas
Berbeda dengan peserta lain, Pak Pri membutuhkan waktu yang tak sebentar dalam pembuatan cerita pendeknya. Kegigihan Pak Pri mebuahkan hasil cerita pendek setebal 35 halaman. Mengisahkan lika-liku pelik rumah tangga dan kesabaran seorang istri, Hatiku Bukan Pualam diapresiasi baik oleh ketiga juri. Di balik deskripsi yang kental, real dan detail, karya Pak Pri menurut para juri belum memainkan rasa bahasa sehingga membuat karya ini lebih hidup.

Bentuk totalitas lain diperlihatkan oleh Wimba melalui kolaborasi kemampuan observasi yang cukup dalam dan ide cerita yang baik. Berlatar sebuah perkampungan di Aceh, Senja di Sebuah Gampong memperlihatkan bagaimana kearifan lokal warganya untuk melindungi habitat asli gajah aceh yang terancam punah. Karyanya menunjukkan gimik-gimik yang pas sehingga Sophan Ajie melirik dan menantang Wimba untuk menuliskan naskah drama. Akan tetapi, semua juri menilai perlu adanya penambahan dialek khas Aceh yang tak diperlihatkan dalam karyanya tersebut.

Akhir kata
Karya terakhir datang dari Belia. Mojang yang kreatif ini menyelipkan percakapan antartokoh dengan multibahasa. Karya menceritakan gadis yang dalam tempo kurang dari satu jam merasakan jatuh cinta pada lelaki yang baru ditemuinya sebentar. Gaya berbahasa Belia dalam karyanya,  Salah, amat populer memberikan warna tersendiri di Klab Menulis Angkatan XIV. Bahkan Sophan Ajie pun berkomentar, “Karya Belia ini manis, sehingga sudah terlihat segmentasi pasarnya: anak muda zaman sekarang…”

Di akhir sidang, para juri memberikan pesan kepada para peserta. Pesan Fransiskus Pujianto, “Jangan berhenti menulis!”, sangat mengena dan bermakna dalam. Tak hanya itu, kritik halus mengenai tingkah sebagian besar para peserta yang menulis kepepet di akhir tenggat waktu disampaikan pula oleh Nugraha Sugiarta. “Mood memang salah satu faktor utama dalam menulis. Akan tetapi, pengalaman mengajarkan saya bahwa menulis juga merupakan masalah ruang waktu juga. Seiringnya proses, menulis dapat dilakukan di manapun dan kapanpun”, ujarnya pada peserta. Sophan Ajie pun sudah tentu sangat puas dan bangga melihat anak didiknya kini mampu melahirkan sebuah cerita pendek dari hati dan tangannya masing-masing.

Tinggal menunggu, siapakah satu di antara mereka yang meraih predikat terbaik?

Bandung, 30 Juli 2013
Firdhan Aria Wijaya
Google Twitter FaceBook

24.7.13

Mencoba Mengundang Karya Berkualitas

Pertanyaan kritis Pak Pri menjadi sesi takjil tersendiri pada pertemuan klab keenam Jumat (19/7) lalu. Pertanyaan yang sudah lama mengendap –“Karya yang baik itu, karya yang seperti apa sih?”–  terjawab sudah.

Sophan Ajie yang mengacu pada pemikir hermeneutika Paul Ricouer, menerangkan bahwa semua itu bertolak pada tafsir bahasa/teks dari karya itu sendiri yang mengandung ketaksadaran kolektif (collective unconscious). Ketaksadaran kolektif tersebut merupakan kumpulan lapisan-lapisan pengalaman ataupun makna yang terkumpul secara tidak sadar oleh manusia. “Ketika karya Pak Pri membicarakan tokoh aku dengan perempuan lain, nah kata perempuan lain tersebut dalam konteks ketaksadaran kolektif menimbulkan persepsi yang negatif atau tidak baik. Contohnya lagi, ketika bericara PKI identik dengan kejahatan atau komunisme. Itu merupakan ketaksadaran kolektif”, contoh Sophan Ajie.

Pengalaman-pengalaman itu ditafsirkan oleh penulis, yang kemudian diolah kembali dan dituangkan ke dalam sebuah teks. Proses tersebut dinamai proses kreatif. Setelah teks tersebut dipublikasikan, teks tersebut akan dimaknai multitafsir oleh pembaca. Oleh karena itu, makna teks tersebut tidak lagi sebatas apa yang dimaknai oleh penulis, tetapi akan jauh dan berlapis-lapis (multitafsir) dimaknai para pembaca karena adanya ketaksadaran kolektif yang berbeda-beda.

Tambahnya, teks yang dimaknai dengan segala cara tersebut dapat mengundang visualisasi imajiner pembaca atau yang dikenal dengan potensi imajinasi. “Karya yang baik adalah karya yang mampu mengundang potensi imajinasi dan multitafsir para pembaca”, simpul pria yang pada saat itu sedang berulang tahun itu.

Sesudah itu, pertemuan difokuskan pada pembahasan karya Pak Pri dan Riszky. Keduanya menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Di sela-sela pembahasan pun, Sophan Ajie menjelaskan secara singkat the body politic. Penjelasan tersebut terkait bagaimana penulis mampu menuturkan narasi yang pas dan juga menentukan segmentasi pembacanya.

Setelah menapaki beberapa pertemuan, perkuliahan Klab Menulis Angkatan XIV mencapai titik akhir. Setiap peserta pun harus kejar-kejaran dengan tenggat waktu untuk menyelesaikan karya akhirnya. Frustasi? Tidak, justru itulah yang mendesak inspirasi kedelapan peserta klab hadir.  Karya yang nantinya akan dipertontonkan pada Rabu (24/7) mendatang dalam sebuah sidang. Penasaran?

Bandung, 23 Juli 2013
Firdhan Aria Wijaya


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin