Pertanyaan
kritis Pak Pri menjadi sesi takjil
tersendiri pada pertemuan klab keenam Jumat (19/7) lalu. Pertanyaan yang sudah
lama mengendap –“Karya yang baik itu, karya yang seperti apa sih?”– terjawab sudah.
Sophan Ajie
yang mengacu pada pemikir hermeneutika Paul Ricouer, menerangkan bahwa semua
itu bertolak pada tafsir bahasa/teks dari karya itu sendiri yang mengandung
ketaksadaran kolektif (collective
unconscious). Ketaksadaran kolektif tersebut merupakan kumpulan
lapisan-lapisan pengalaman ataupun makna yang terkumpul secara tidak sadar oleh
manusia. “Ketika karya Pak Pri membicarakan tokoh aku dengan perempuan lain, nah kata perempuan lain tersebut dalam konteks
ketaksadaran kolektif menimbulkan persepsi yang negatif atau tidak baik. Contohnya
lagi, ketika bericara PKI identik dengan kejahatan atau komunisme. Itu
merupakan ketaksadaran kolektif”, contoh Sophan Ajie.
Pengalaman-pengalaman
itu ditafsirkan oleh penulis, yang kemudian diolah kembali dan dituangkan ke
dalam sebuah teks. Proses tersebut dinamai proses
kreatif. Setelah teks tersebut dipublikasikan, teks tersebut akan dimaknai
multitafsir oleh pembaca. Oleh karena itu, makna teks tersebut tidak lagi
sebatas apa yang dimaknai oleh penulis, tetapi akan jauh dan berlapis-lapis (multitafsir)
dimaknai para pembaca karena adanya ketaksadaran kolektif yang berbeda-beda.
Tambahnya, teks
yang dimaknai dengan segala cara tersebut dapat mengundang visualisasi imajiner
pembaca atau yang dikenal dengan potensi imajinasi. “Karya yang baik adalah
karya yang mampu mengundang potensi imajinasi dan multitafsir para pembaca”,
simpul pria yang pada saat itu sedang berulang tahun itu.
Sesudah itu,
pertemuan difokuskan pada pembahasan karya Pak Pri dan Riszky. Keduanya
menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Di sela-sela pembahasan pun,
Sophan Ajie menjelaskan secara singkat the
body politic. Penjelasan tersebut terkait bagaimana penulis mampu
menuturkan narasi yang pas dan juga menentukan segmentasi pembacanya.
Setelah
menapaki beberapa pertemuan, perkuliahan Klab Menulis Angkatan XIV mencapai
titik akhir. Setiap peserta pun harus kejar-kejaran
dengan tenggat waktu untuk menyelesaikan karya akhirnya. Frustasi? Tidak,
justru itulah yang mendesak inspirasi kedelapan peserta klab hadir. Karya yang nantinya akan dipertontonkan
pada Rabu (24/7) mendatang dalam sebuah sidang. Penasaran?
Bandung, 23 Juli 2013
Firdhan Aria Wijaya
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment