Boehmeria Nivea Marino alias Ipey adalah perempuan kalem penjaga Tobucil selama dua tahun terakhir ini. Garda depan, wajah pertama yang akan ditemui bagi siapapun yang ingin colek-colekan dengan Tobucil. “Awalnya ditawarin temen, sih, Yuchan. Ngasih info kalau Tobucil sedang mencari shopkeeper,” Ipey bercerita dengan kalem nan santai. Saking kalemnya, saya sampai agak bingung untuk menerjemahkan perkataannya.
Tak terlalu banyak sebenarnya yang saya ketahui tentang Ipey. Hanya rutinitasnya yang tiap siang datang melaksanakan rutinitasnya di Tobucil dan seorang auditional bassist yang telah serius nge-band ria semenjak duduk di bangku SMP. Sampai kemudian gosip paling panas itu mampir di telinga saja. Kegenapan dua tahun yang dikumpulkan Ipey akan segera berakhir. Mengapa? Mencari suasana baru? Ingin lebih serius menjadi musisi? Atau pengen dikangenin sama manusia penghuni Tobucil? Hehe. Ipey hanya tersenyum simpul ketika hal tersebut saya tanyakan. Ah, yang pasti, tepat pada kegenapan itu pula saya akhirnya bisa berbincang panjang lebar mengenai Ipey. Bagi saya, Ipey adalah kawan yang unik, seunik singkatnya percakapan kami.
Tobucil dalam benak Ipey adalah tempat penuh kesederhanaan yang menyenangkan meski kejahilan-kehajilan yang hadir terkadang begitu membabi buta. “Banyak hal-hal kecil yang tidak terperhatikan justru menjadi menarik di sini. Misalnya saja membuat kantong gehu dari kertas bekas. Bagi orang lain, kertas-kertas bekas itu bisa jadi tidak berguna, tapi di sini, prentilan semacam itu menjadi menarik dan berguna. Orang-orangnya juga menyenangkan, sih. Pada kreatif semua. Sering mengeluarkan ide-ide yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain,” kali ini perempuan bertubuh mungil itu menjawab agak panjang setelah setengah dipaksa untuk sedikit berpanjang-panjang.
Saya jadi ingat, sekitar setahun yang lalu, seorang pengunjung agak-agak super galau datang dengan membawa emosi berlebih dan mengomel seperti yang baru diberi mulut oleh Tuhan. Semua gempar: bergosip, membahas, menganalisis. Ipey, saya tak ingat betul apa yang ia sampaikan, tapi saya ingat betul senyum simpul yang mengembang di bibirnya yang biasa-biasa saja itu, nyaris tanpa emosi. Namun, itulah Ipey, sederhana dan lebih senang melihat semuanya sebagai hal ringan. Kesederhanaan Ipey bisa jadi sesederhana Ipey mengamati Tobucil. Kesederhanaan seperti apa? Sulit untuk ditafsirkan. Sesulit kalimat-kalimat keterangan yang kerap tak kunjung muncul. Kalimat yang keluar dari Ipey ibarat hanya subyek dan predikat, malah kerap hanya berupa frasa atau klausa. Pecahan-pecahan berserak yang mungkin membutuhkan waktu yang panjang untuk memahaminya lebih baik, bahkan untuk saya sekalipun. Satu hal yang pasti, saya memahami bahwa kesederhanaan yang dimiliki oleh Ipey adalah kesederhanaan dalam mengamati ruang-ruang dalam koridor yang sangat personal. Tak perlu diketahui secara lengkap oleh publik, karena ia adalah misteri yang justru melengkapi dan menjadikan Ipey “menjadi Ipey” yang sebenar-benarnya.
Hanya tersenyum simpul dan tak banyak bicara. Mengorek lebih dalam mengenai Ipey jelas hal yang terlalu melelahkan sekaligus agak sulit. Ipey sebentar lagi beranjak. Saya teringat kata-kata Seno Gumira Adjidarma di dalam salah satu cerpennya, “hidup adalah sekadar mampir dan minum bir”. Mungkin kalimat itu menjadi penerjemah paling pas untuk seorang Ipey. Ipey yang mampir ke Tobucil, menggegas waktunya dengan menyenangkan untuk lalu beranjak bergerak mencari tempat mampir berikutnya dengan bir-bir baru. Ipey yang akan melangkah dengan setengah tapak yang selalu menjejak di lantai-lantai Tobucil. Percakapan kami ini sengaja tidak saya tuntaskan. Tuntas adalah musnah, selesai. Lebih baik saya berhenti sebelum ia musnah tanpa penyelesaian. Pada waktunya nanti,di satu persimpangan hari, obrolan kami; saya, Ipey, dan Tobucil pasti akan berlanjut. Bukan untuk menuntaskan, tapi untuk menggelar hari menggalah matahari bersama-sama meski dalam mimpi yang berbeda-beda. Semoga. Selamat berjalan-jalan, Ipey.
Bookmark this post: |

2 comments:
yaaa...aku akan kehilangan teman berbagi kwetiau :)
Ipeyyyy, i'm gonna miss you.
I seldom leave comments on blog, but I have been to this post which was recommend by my friend, lots of valuable details, thanks again.
Post a Comment