23.8.09

Jika Serigala Berbulu Imitasi Bertanya


kaksyarafasuhan Kak Syaraf Maulini






Pertanyaan dari Serigala Berbulu Imitasi (via message FB):

Fiat Justitia

Kepada Yth :

Bung Syarap Machiavelli

Di tempat

Terima kasih atas undangannya untuk memberikan pertanyaan di forum terbuka ini. Saya sendiri memang memiliki beberapa kegundahan di hati, yang selama ini selalu ditahan seperti kentut, sehingga menimbulkan komplikasi berkepanjangan, entah itu sembelit, krisis pede, hingga flu jurig.

Beberapa pertanyaan sekaligus kegundahan itu antara lain :

  1. Apakah sosialisme a la Marx, liberalisme a la John Maynard Keynes, dan neoliberalisme a la Milton Friedman memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan musik klasik di Bandung?
  2. Mengapa proses menuju buka puasa dinamakan ngabuburit? Apakah ada kaitannya dengan palu arit?
  3. Bagaimana pendapat anda sebagai Indon mengenai konflik dengan negara tetangga?
    Demikian pertanyaan saya bung. Semoga emisi gas buang saya ini bisa berguna untuk kemaslahatan semua ummat.

Pro Deo et Justitia

Jawaban dari Kak Syaraf:

Fiat Justitia, Ruat Caelum

Baiklah, saya akan mencoba menampung kentutmu yang kekiri-kirian ini.

  1. Marxis berkata, ”Masyarakat jangan ikut campur soal ekonomi, agar negara saja yang totaliter, sehingga mudah itu tercapai kondisi sama rata sama rasa.” (sumber: Manifesto Komunis) Lalu revolusi Keynesian berkata. ”Negara sulit mencapai kondisi full-employment tanpa intervensi pemerintah. Maka jangan posisikan buruh sebagai penawaran semata, tapi juga permintaan.” (Buku Ekonomi SMA) Lalu Friedman mengatakan, ”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.” (pasal 28 UUD ’45) Baik, lalu apa pengaruhnya dengan perkembangan musik klasik di Bandung? Dari Marxis, diajarkan bahwa untuk sama rata sama rasa, aplikasinya adalah jual tiket konser bagi semua orang dua puluh ribu. Lewat Keynes, diajarkan bahwa kita mesti mencicipi SMA dulu karena soal Keynes ada di buku SMA. Apa hubungannya SMA dengan musik klasik di Bandung? Belum tentu ada, tapi tamat SMA jelas sesuatu yang baik. Terakhir, tanpa Friedman, jelaslah tak ada konser-konser yang kumpul-kumpul itu. Jadi cukup jelas bahwa ketiga orang itu adalah Bapak Musik Klasik Bandung.
  2. Baiklah, begini, ngabuburit itu asal katanya burit, sepertinya bahasa indonesianya adalah senja, atau kondisi sore menjelang malam hari. Jadi ngabuburit itu berarti ”menanti senja”. Adakah hubungannya dengan palu arit? Ada, ada, dengan atau tanpa palu arit kan, senja pasti datang.
  3. Oh, soal konflik negara tetangga, saya berpendapat begini: budaya bukan soal-soal batas negara. Karena pengaruh budaya selalu meluas melampauinya. Jadi kala negara tetangga mengklaim, terus kita kebakaran kumis, itu dua-duanya, menurut saya, sama-sama aneh. Budaya adalah identitas kultural, dan tak usah menggunakan jalur hukum untuk mengesahkannya. Semua orang tahu Tari Pendet dan Rasa Sayang-Sayange milik siapa lewat seleksi kultural yang alamiah. Malu nih, ributin budaya dicuri tetangga, padahal kerjaan kita adalah meniru-niru budaya Amerika, Eropa, dkk. Masih mending Amerika, Eropa punya nenek moyang berjauhan sama kita, Malay? Sepertinya sama-sama saja nenek moyangnya, wajar kalo tradisinya bisa sama. Edan, saya jadi serius gini.

Semoga emisi anda menjadikan puasa eksis dengan candilnya.

Pro Deo et Hotel

----

Kirim pertanyaanmu tentang apaaaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf akan menjawabnya

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin