“Karena yang dicari dalam filsafat bukan kepintaran, tapi kebijaksanaan bersikap,”
-Rosihan Fahmi, kuncen madrasah filsafat-
Filsafat sering dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan, sulit, dan eksklusif. “Ami menolak itu semua !” tegas Mas Rosihan Fahmi alias Mas Ami, kuncen madrasah filsafat. Itu sebabnya madrasah filsafat mengangkat topik-topik seperti “Nama”, “Utuh”, “Pagar”, dan hal-hal lain yang dekat dengan keseharian.
Embrio madrasah filsafat adalah Komunitas Sophia yang tumbuh di kampus IAIN. Meski komunitas tersebut mati karena masalah regenarasi, kerinduan untuk berdiskusi terus berlanjut ketika mereka bertemu di ruang-ruang seperti Selasar Sunaryo dan CCF. Topik obrolan yang cukup asyik mengalir secara alami, misalnya, pernah pada suatu kali Mas Dauz melontarkan topik, “Kenapa keledai disebut binatang bodoh ?”
Dan pada suatu hari di tahun 2007, Mas Ami, Mas Bambang Q Anes, Mbak Tarlen, dan Mas Andre bertemu di Ngopi Doeloe. Mereka bersepakat mengadakan diskusi madrasah filsafat secara tetap di Tobucil. Akhirnya, pada tanggal 16 Juli 2007 madrasah filsafat resmi digelar.
Terinspirasi oleh Socrates Café karya Christoper Philips, Mas Ami hanya datang untuk memfasilitasi obrolan. “Kan Socrates juga gitu. Dia datang ke mana-mana hanya untuk memfasilitasi obrolan orang-orang. Socrates bilang dia hanya berperan sebagai bidan yang membantu melahirkan,” ungkap Mas Ami.
Ingin melahirkan pencerahan dibidani madrasah filsafat ? Datang saja ke Tobucil setiap hari Rabu pukul lima sore. Semoga bayi yang kita lahirkan di sana kelak tumbuh menjadi kebijaksanaan yang menjaga kesadaran …
Klab Nonton
“Bajigur Night”. Ia bukan cikal bakal “Klab Makan”, tapi cikal bakal “Klab Nonton”. “Yang ngadain namanya Erik, anak IKJ. Dulu kita pake tv 21 Inch pinjeman dari Novi (simpatisan Tobucil ketika itu),” cerita Mbak Tarlen. Apakah “Bajigur Night” betul-betul menyediakan bajigur juga ? “Yah, kadang iya, kadang enggak,” sahut Mbak Tarlen. Lho, lalu, apa hubungannya nonton dengan pemilihan nama “bajigur” itu ? “Nggak tau, ya, biar anget aja, kali …,” sahut Mbak Tarlen lagi sambil tertawa kecil.
Sejak Sang Erik menghilang, Bajigur Night mulai tersendat. Namun, semangat menonton tetap berlanjut karena Tobucil menjadi partner Jiffest (Jakarta Internasional Film Festival) Travelling. Klab Nonton baru rutin diadakan pada tahun 2005, setiap Jumat sore, saat Tobucil sudah bertempat di Kyai Gede Utama. Sayangnya, penonton yang kadang ada dan kadang tidak membuat film pun kadang diputar dan kadang tidak. Ketika pindah ke Jalan Aceh 56, Klab Nonton sempat pula diusahakan ada menggunakan layar tembak yang dipinjam dari Mas Setiaji. Ketiadaan televisi ini pun sempat disiasati dengan Klab Nonton yang bekerja sama dengan Cinesophia Universitas Parahyangan. Namun … cara ini pun ternyata kurang efektif.
Dan akhirnya, pada akhir Februari 2009, Tobucil membeli “tipi”. Karena benang Tobucil bernama “Benang Tipi”, tipi yang dibeli ini pun dinamai “Tipi Benang”. Sejak kehadirannya, Klab Nonton rutin dilaksanakan.
“Ada dukanya. Kalo macet. Kayak waktu itu, pernah udah tiga perempat film, tau-tau macet. Jadi nanggung dan penontonnya kecewa,” cerita Mbak Tarlen. “Tapi jangan kuatir, Tobucil bertujuan terus meningkatkan pelayanan. Kami telah mengganti dvd player kami dengan yang baru, Si ‘Cores’,” lanjut Mbak Tarlen.
Kini, setiap Sabtu jam enam sore, Tipi Benang bersanding dengan dvd player Cores menyuguhkan tontonan bermutu untuk teman-teman sekalian. Ayo malam mingguan di Tobucil. Menonton bersama pacar tak selalu harus di bioskop …
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment