27.9.09

Komunitas Senja di Tobucil

Suatu hari Minggu, Tobuciler datang ke Tobucil. Niatnya mau latihan Ririungan Gitar Bandung, sekalian bertemu Wiku untuk bertanya soal beberapa komunitas. Komunitas apa saja? Yakni komunitas yang berkumpul di kala senja. Kenapa? Karena itulah topik blog Tobucil minggu ini: soal senja. Dan Tobuciler inilah yang mengusulkan untuk meliput komunitas yang berkumpul di kala senja. Begitulah ceritanya.

Tobuciler sebenarnya ingat, waktu belum terganggu jadwal bulutangkis dan ngajar, ada dua komunitas yang diikuti, yakni Klab Nulis dan Madrasah Falsafah. Pentingkah bulutangkis sehingga Tobuciler mengorbankan Klab Nulis? Ya, penting bagi kesehatan tubuh, tapi tidak penting untuk kita bahas disini. Kedua komunitas itu, ditambah Klab Klassik yang memang jadi urusan Tobuciler, memang aktifnya di kala senja. Nah, ketika bertanya ini itu soal Klab Nulis dan Madrasah Falsafah, Tobuciler mendadak bertanya hal yang lebih mendasar: Wiku, senja itu apa, ya? Tobuciler mengira Wiku akan langsung menjawab sesuai definisi Tobuciler, yakni senja=sore. Tapi tidak, ia pun tak punya definisi pasti. Langsung Wiku memaparkan tiga momen senja: senja awal, tengah, dan akhir. Awal yakni insting purba yang mengatakan, ”Wah, matahari sudah mau terbenam nih,” tanpa ada ciri-ciri fisik tertentu. Tengah adalah momen dimana matahari mulai terbenam. Akhir adalah momen ketika matahari sudah tak kelihatan, langit gelap, tapi mega-mega berpendaran.

Oh, sepertinya senja artinya tidak sedemikian sederhana. ”Definisi yang mengatakan bahwa senja=sore itu, menurut saya, merujuk pada waktu saja. Senja pada dasarnya adalah semacam momentum. Waktunya singkat sekali, dan sulit sekali menemukan situasi senja yang sempurna, yang mana saya baru menemukannya sekali,” kata Wiku. Dimanakah itu, Wiku? Dan kenapa kita jadi membicarakan ini? Meski menarik, tapi Tobuciler mesti ingat judul artikel yang mau ditulis, yakni soal komunitas yang berkumpul setiap senja. Sekedar informasi, Wiku menemukan senja sempurnanya baru-baru saja, terlihat dari Lanud Husein Sastranegara. Oh, alangkah menariknya senja, Tobuciler sungguh baru tahu dari Wiku.

Jadi, bagaimana Tobuciler mau menuliskan soal ”komunitas senja”, jika definisi senja itu sendiri sungguh tak sederhana? Tapi begini saja, yang Tobuciler rasakan, ada sesuatu yang menarik di kala mengikuti para komunitas senja itu. Komunitas senja, pastilah melewati dua suasana, yakni kala langit terang dan di saat langit gelap. Ada perbedaan: Kala terang, api pengetahuan seperti dipercikan kemana-mana, seperti bara dari arang di bawah sate yang sedang dikibas. Tapi ketika gelap, adalah seperti kau mampu melihat tembus pandang ke bawah akar pohon selesai hujan turun. Ada air, ya ada air, yang meresap melalui akar, diam ia sebentar di tanah, sebelum disalurkannya ke seluruh bagian tubuh pepohonan. Nah, di antara terang-gelap itu, Tobuciler merasakan: ada momen keoranyean. Momen yang, entah kenapa, kita yang berkumpul, mau berhenti sejenak. Menikmati remangnya suasana pergantian. Menikmati pergantian tanpa menjadi api dan air, hanya menjadi senja itu sendiri.

Maka mari kita berdoa, bahwa semoga para komunitas senja itu kelak menjadi senja juga.

Informasi Komunitas Senja Tobucil:

klabnulis copy Klab Nulis: Klab Nulis Fiksi berdiri tahun 2007. Dulu sempat ada Klab Nulis ketika Tobucil masih di KGU. Tapi yang ini beda, karena sistemnya kursus. Tutornya bernama Sophan Ajie, orangnya menurut ibunya ganteng dan beragama Katolik. Sekarang Klab Nulis telah selesai meluluskan angkatan kelimanya.



madfal

Madrasah Falsafah: Dipelopori oleh Rosihan Fahmi yang semula sudah mengurus apa yang dinamakan Madrasah Falsafah Sophia. Kegiatannya berkumpul dan berbicara persoalan-persoalan keseharian secara filosofis. Motonya, ”Setiap orang adalah filsuf”. Ini beda dengan moto Tobuciler, ”Setiap orang adalah orang”. Mulai berkumpul di Tobucil tahun 2007.



klabklassik KlabKlassik: Tobuciler malu dan terkesan narsis jika mengatakan KlabKlassik dipelopori oleh Tobuciler, biarpun memang iya. Kegiatannya berkumpul membicarakan musik klasik hingga membicarakan orang lain. Didirikan tahun 2005. Motonya, ”Bach memberkati”.

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin