Monday, January 4, 2010

Sejarah Tobucil Bagian 1: Mulanya adalah Pasar Buku


Pembukaan Pasar Buku Bandung, 2 Mei 2001


Embrio tobucil - klab baca, dimulai sejak tahun 1999. Awalnya adalah kegiatan reading club, dari rumah ke rumah anggotanya yang pada waktu itu berjumlah kurang lebih 10 orang. Namun kegiatan ini hanya bertahan kurang lebih 1,5 tahun. Tahun 2000 (pertengahan) kegiatannya terhenti, karena kesibukan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya. Masih pada tahun yang sama, pada acara Pasar Seni ITB 2000, kontak pertama dengan penerbit dimulai. Saat itu, Saya: Tarlen Handayani, membuka stand di kegiatan tersebut. Salah satu barang yang dijual pada saat itu adalah buku-buku seni budaya yang diterbitkan oleh Bentang Budaya (sebelum berganti nama menjadi Bentang Pustaka setelah dibeli oleh Mizan), sebuah penerbitan di Yogjakarta yang saat itu aktif menerbitkan buku-buku seni dan budaya. Setelah Pasar Seni 2000 usai, saya melanjutkan kegiatan buku-buku Bentang sisa Pasar Seni ITB secara direct selling, door to door kepada teman-temannya.

Baru di tahun 2001, Saya bersama dua orang temannya Connie Chysania dan Rani E. Ambyo, berinisiatif untuk membuka toko buku. Selain telah menjadi cita-cita saya dan dua temannya itu, tawaran untuk mendirikan toko buku ini muncul dari Wien Muldian, seorang teman yang mendirikan milis pasar buku. Wien saat itu bercita-cita ingin membangun sebuah jaringan pasar buku di banyak kota, seperti yang telah ia bangun di Jakarta. Untuk merealisasikan gagasan tersebut, Saya menghubungi temannya, Andy Sutioso, seorang  Arsitek yang membangun sebuah ruang komunitas bernama Trimatra Center di Jl. H. Juanda 139a Bandung. Atas dukungan Andy lah, kemudian toko buku dan ruang komunitas bernama Pasar Buku Bandung – Trimatra Center,  dibuka pertama kalinya pada tanggal 2 Mei 2001.

Modal awal usaha ini diperoleh dari patungan Saya, Rani dan Connie, masing-masing sebesar Rp. 500.000. Modal awal tersebut digunakan untuk membeli batako dan papan untuk rak buku, biaya angkutan buku dari Jakarta ke Bandung serta biaya syukuran pembukaan toko. Saat itu tak ada biaya sewa ruangan yang harus di keluarkan, karena Andy dan Trimatra meminjamkan ruangan itu tanpa biaya sewa. Hanya biaya patungan operasional ruangan saja yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Sejak awal pendirian, Saya menjalankan tugas sebagai koordinator umum Pasar Buku Bandung, karena Rani dan Connie bekerja di Jakarta. Untuk menjalankan tugas hariannya, Saya dibantu oleh dua orang staf.

Komunitas sebagai basis

Sejak awal Pasar Buku Bandung mengakomodasi banyak komunitas untuk berkegiatan di Trimatra Center. Kegiatan komunitas ini menyesuaikan dengan ruang yang ada di Trimatra Center yang memiliki pendopo dan halaman terbuka yang bisa menampung sekitar 250 orang. Selain itu, kegiatan komunitas juga menjadi bagian dari strategi promosi Pasar Buku Bandung. Kondisi saat itu di Bandung belum ada satu ruang yang bisa mewadahi berbagai macam aktivitas dari beragam komunitas. Sehingga keberadaan Pasar Buku Bandung menjadi pionir bukan hanya di Bandung, tapi juga di Indonesia. Kehadiran para sastrawan terkemuka Indonesia pada kegiatan-kegiatan Pasar Buku Bandung memberi nilai jual dan membentuk image, bahwa Pasar Buku menjadi ruang alternatif bagi kegiatan sastra, seni dan budaya. Bukan hanya hanya satrawan yang pernah hadir dan berkegiatan di Pasar Buku Bandung – Trimatra Center, tapi juga kalangan seni rupa, filsafat, musisi, aktivis, kolektif punk, sutradara-sutradara muda Indonesia, dan komunitas-komunitas lain dalam bidang seni budaya. Antara lain: Sutradji Calzoum Bachri, Ayu Utami, Dorothea Rosa Herliany, Sujiwo Tedjo, Harry Aveling, ST Sunardi, Nirwan Dewanto, Mira Lesmana, Rudi Sudjarwo, Riri riza,  Aminudin TH Siregar, dll.

Selain itu, Pasar Buku Bandung ikut memfasilitasi lahirnya Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung, sebuah organisasi profesi jurnalis yang berpengaruh di Indonesia. Kedekatan dengan komunitas jurnalis ini membawa dampak publisitas yang sangat besar kepada Pasar Buku Bandung. Profil pertama muncul secara nasional, setengah halaman di harian Republika.Kemudian diikuti oleh Koran Tempo yang membuat Pasar Buku Bandung mulai dikenal secara luas. Penting untuk di catat pula, bahwa saat Bandung Art Event 2001, Pasar Buku Bandung-Trimatra Center menjadi salah satu venue untuk kegiatan tersebut. Keragaman komunitas yang hadir dan berkegiatan di Pasar Buku Bandung, menjadi kekuatan dan aset jaringan yang sangat penting dalam sejarah perkembangan usaha ini. Kekurangan modal finansial, berhasil di tutupi oleh modal sosial yang dibangun melalui pengembangan jaringan. 
[bersambung]

Tarlen Handayani, Pendiri dan Program Director Tobucil & Klabs 
Google Twitter FaceBook

3 komentar:

mbak dan said...

waa..inget dulu sering ke trimatra cari2 buku. nyempil di satu lahan di dago :p

dydy said...

inget ketemu Tarlen pertama kali di Trimatra, karena nganterin Connie..:D

nday said...

hmmm, betul2 a walk down the memory lane! Tar aku cari ya foto2 kegiatan kolaborasi Trimatra dan Tobucil.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin