27.9.09

Di Kursi Penumpang

cerita bersambung oleh : Ali Singatuhan

Bagian 1

 

ilustrasiEntah berapa lama kami diam di sana. Waktu terasa berhenti saat itu. Mesin mobil dia nyalakan. Memutar musik dari i-Pod-nya, ia berusaha mencari ketenangan dari lagu-lagu yang dia suka. Mencoba membawa pikirannya ke tempat lain; jauh dari sini.

Tapi bahkan itu tidak sepenuhnya berhasil. Tangis terlihat di ujung matanya, nyaris tumpah. Selain itu jari jemarinya tidak bisa berhenti; saling meraba dan menggaruk satu sama lain. Dia mencoba duduk dengan santai, tapi semakin dia mencoba, semakin dia terlihat seperti gadis kecil yang tidak berdaya. Kendalinya mulai lepas. Dia mematikan i-podnya dan hening melanda mobil ini lagi.

Kami bahkan tidak bisa saling menghadapkan wajah kami satu sama lain. Hanya duduk tolol di mobil miliknya itu, memandang kosong ke depan. Di lapangan parkir SMA kami dulu. Pada hari Minggu. Saya di kursi penumpang dan dia di belakang setir.

Dari sudut mata, saya melihat tubuhnya menegang, berusaha mengatakan sesuatu. Nyaris... tapi tidak jadi. Kata-kata tersebut jatuh menggelinding kembali ke tenggorokannya. Dia melakukan itu terus berulang-ulang dari tadi.

Saya tahu. Dia sedang menunggu. Menunggu sesuatu terjadi. Sudah saatnya saya memegang kendali. Saya menguatkan hati dan memulai pembicaraan.

“SMA seru abis ya,” kata saya, “kalo dibandingin ama sekarang gitu... kuliah... iya nggak sih? Iya kan?” saya menghadapkan topeng di wajah saya : senyum lebar dengan tatapan paling bersahabat yang bisa saya pancarkan. (ngomong-ngomong, apa mungkin dia bisa melihat ketakutan dan kesedihan di wajah saya waktu itu ? Kadang saya berpikir ...)

“Hm,” katanya, menganguk setuju. Dia juga mencoba memasang topeng itu. Butuh waktu yang lebih lama dari yang dia pikirkan tampaknya, tapi lambat laun dia memasang senyum kecil di bibirnya. Matanya balik menemui mata saya. Sayangnya senyum itu tidak bisa sepenuhnya muncul; yang terwujud hanya semacam sunggingan kecil. Sedikit menghina.

Dia diam agak lama sebelum bicara: “Kamu nggak tau, tapi Ica dulu pernah dideketin sama Eki lho. Senior,” dia tertawa. Matanya menghalus oleh nostalgia. “Dulu, pas Ospek. Lucu banget..”

Sesaat topeng di wajah saya jatuh. Sedetik mungkin. Atau lebih lama lagi. Saya memejamkan mata. Menahan sakit. Tapi seketika saya langsung memasangnya lagi kemudian bernafas satu dua kali lewat hidung. ”Oh, ya ? Gimana ?”

Jadi dia anak temennya mama. Dulu, pas waktu kecil katanya kita suka main bareng gitu. Nah, pas Ospek itu, dia ingat ke saya gitu. Ngobrol-ngobrol lah. Tapi Ica sih nggak inget-inget banget ama dia. Baru pas pulang ke rumah, nanya ke mamah terus diceritain gitu..,” dia melanjutkan ceritanya - akhirnya mendapatkan posisi yang nyaman di kursi dan tampak menemukan ketenangan yang dia cari dengan menceritakan masa lalu ini pada saya; masa lalu dimana saya tidak ada pada hidupnya. Jauh, jauh dari kekhawatiran masa depan dan masa sekarang, “Mamah bilang dia teman Ica waktu masih di rumah Buahbatu. Ica rada inget sih. Pas SD. Samar-samar. Ica suka main bareng ama dia di depan rumah sepulang sekolah. Naik sepeda, bareng-bareng ama anak-anak kompleks yang lain.”

Dan lalu dia menunjukkan cintanya pada masa lalu itu dengan tersenyum lebar dan manis – kecantikan bersinar dari wajahnya - mata mengawang-awang ke atas. Seakan masa-masa indah itu ada di suatu tempat di atas sana, di atap mobil.

Anjing.

Bersambung ...

----

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

Google Twitter FaceBook

2 comments:

andika said...

Cerpen kontroversial ini akhirnya dimuat juga, hehehe.

andika said...

Cerpen kontroversial ini akhirnya dimuat juga, hehehe.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin